PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 3)

PERINGATAN BAGI PARA PEMILIK AKAL YANG BERSIH DARI APA YANG ADA DALAM WATSIQAH MUHAMMAD AL-IMAM BERUPA PENYIMPANGAN DAN SERAMPANGAN (Bagian 3)

Ditulis oleh: Abdullah bin Shalfiq Azh-Zhafiry hafizhahullah

***

YANG KEDUA: 

Ucapan mereka : [”Dan atas keluarga beliau yang suci dan semoga Allah meridhai sahabat beliau yang terpilih dari kalangan Muhajirin dan Anshar”]

Sesungguhnya yang membaca perkataan ini, pada awalnya menyangka kalau di dalamnya itu tidak ada apa-apanya. Akan tetapi tatkala teringat akan kebusukan rafidhah dan akidah mereka dalam mencaci Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha, dan pengkafiran mereka terhadap Ummahaatul mukminin dan para sahabat yang mulia, akan tahulah ketika itu, bahwasanya perkataan ini dibawa kepada maksud jelek mereka. Bahwasanya wajib ketika berinteraksi dengan ahli bidah dan rafidhah, hendaknya seorang muslim Sunni untuk mencermati pemakaian mereka yang bersifat umum dan lafadz-lafadz yang samar serta pemakaian istilah-istilah mereka.

Oleh karena itu maka sesungguhnya ungkapan-ungkapan tersebut dibawa kepada maksud jelek mereka, untuk mengeluarkan Ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dari jajaran ahlu bait Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Karena rafidhah meyakini tidak sucinya beliau. Dan terkandung juga tidak ridhanya mereka terhadap mayoritas sahabat, karena mereka tidaklah orang-orang pilihan disisi mereka. Karena ucapan mereka kata من‎ maknanya adalah sebagian. Dan dalam keyakinan rafidhah mayoritas sahabat itu kafir.

Dan yang mereka maksudkan dalam doa keridhaan ini adalah : Ali, Ammar dan segelintir sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang tidak lebih dari hitungan jari. Maka dalam celaan dan kebusukkan ini dari rafidhah terhadap Ummahatul mukminin dan sahabat yang semoga keridhaan Allah atas mereka, adalah wajib bagi Muhammad al-Imam untuk mencermatinya. Dia tidak boleh ridha dengan ungkapan-ungkapan umum yang dibawa kepada maksud jelek dan kelicikkan mereka. Jangan pula tertipu dengan istilah-istilah mereka dalam pembukaan khutbah mereka, karena maksudnya itu telah jelas.

Akan tetapi tidaklah heran kalau Muhammad al-Imam itu diam dari keumuman-keumuman yang buruk ini, ketika dia juga telah diam dari kekufuran-kekufuran yang rinci dan jelas dalam perjanjian ini.

Sumber: https://app.box.com/s/sdt0df4l4laj7073c7rpkfjt3a1ed2sf

* Alih bahasa : Ustadz Umar al Atsary

Bersambung In Sya Allah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.