Orang-orang yang Terasing

Orang-orang yang TerasingORANG-ORANG YANG TERASING

Ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka.” (Hud: 116)

Sesungguhnya, al-Ghuraba di dunia ini adalah para penyandang sifat-sifat yang disebutkan oleh ayat tersebut. Merekalah yang disebut oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah al-Ghuraba’.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah al-Ghuraba’?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang melakukan perbaikan saat manusia rusak.” (HR. Ahmad)

Merekalah al-Ghuraba yang terpuji. Orang lain merasa iri terhadap kebaikannya. Karena begitu sedikitnya jumlah mereka di tengah masyarakat, disebutlah mereka dengan Ghuraba (orang-orang yang asing). Orang Islam di tengah manusia seluruhnya adalah asing. Orang yang benar-benar beriman di tengah umumnya orang Islam adalah asing. Demikian pula, para ulama di tengah orang-orang yang benar-benar beriman adalah asing. Ahlus Sunnah yang benar-benar memilah sunnah dari bid’ah dan hawa nafsu, mereka juga al-Ghuraba. Orang yang berdakwah mengajak kepada Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan bersabar terhadap gangguan orang-orang yang menyelisihi mereka adalah orang yang paling asing. Akan tetapi, mereka itulah golongan Allah Subhanahu wa ta’ala yang sebenarnya sehingga mereka tidak asing lagi. Keasingan mereka hanyalah di tengah mayoritas.

Keasingan ada tiga macam. Yang pertama adalah keasingan golongan Allah Subhanahu wa ta’ala dan golongan Sunnah Rasul-Nya di tengah-tengah masyarakat. Itulah keasingan yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam memuji para penyandangnya. Ini pula yang beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam beritakan tentang agamanya, agama ini “berawal dengan keasingan” dan akan “kembali dengan keasingan” serta “para pemeluknya menjadi orang-orang yang asing”.

Keasingan ini bisa jadi berada di satu tempat tertentu, di satu waktu tertentu, atau di satu kaum tertentu. Akan tetapi, penyandang keasingan ini adalah golongan Allah Subhanahu wa ta’ala yang hakiki. Mereka tidak berlindung kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala, dan tidak bernasab (dalam ajaran agama) kepada selain Rasul-Nya serta tidak mengajak kepada selain kepada apa yang dibawa Rasul-Nya.

Di antara sifat al-Ghuraba tersebut adalah berpegang teguh dengan sunnah (ajaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam) ketika orang-orang merasa benci terhadapnya. Mereka meninggalkan apa yang diada-adakan manusia, walaupun hal itu populer di tengah masyarakat. Mereka memurnikan tauhid walaupun mayoritas manusia mengingkarinya. Mereka tidak bernasab (dalam agama) kepada siapa pun selain Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya; tidak kepada syaikh tertentu, tarekat tertentu, mazhab tertentu, atau kelompok tertentu. Al-Ghuraba hanyalah menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala – dengan beribadah hanya kepada-Nya—dan kepada Rasul-Nya—dengan mengikuti apa yang diajarkannya. Mereka itulah para pemegang bara api yang sebenarnya, dalam keadaan mayoritas manusia, bahkan seluruhnya, mencela mereka. Itu karena keasingan mereka di tengah umat. Mereka dianggap tidak lazim, membawa ajaran baru, dan tidak mengikuti umumnya manusia.

Islam yang benar—yang seperti itulah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya—pada masa ini lebih asing daripada saat awal kemunculannya, walaupun simbol-simbol Islam itu tetap ada dan dikenal. Islam yang benar-benar sangat asing sekali. Para penyandangnya pun sangat asing di tengah-tengah manusia.

Bagaimana tidak sangat asing, satu kelompok di tengah 72 kelompok yang masing-masing memiliki pengikut dan pemimpin, kedudukan dan kekuasaan.

Bagaimana seorang mukmin yang berjalan menuju Allah Subhanahu wa ta’ala tidak asing di atas jalan sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah orang-orang yang mengekor kepada hawa nafsu, menganut selera rakus, dan bangga diri dengan pendapat masing-masing.

Maka dari itu, jika seorang mukmin—yang dikaruniai pemahaman oleh Allah Subhanahu wa ta’ala tentang agama-Nya, ajaran Rasul-Nya, dan kitab-Nya, serta dikaruniai pengetahuan tentang kondisi manusia beserta hawa nafsu, bid’ah, dan kesesatan mereka, serta jauhnya mereka dari jalan yang lurus yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya—berkeinginan menelusuri jalan lurus ini, hendaklah ia mempersiapkan dirinya untuk menerima lontaran cacian orang-orang jahil dan ahli bid’ah, olok-olok, serta pengucilan mereka terhadap dirinya, sebagaimana orang kafir pendahulu mereka melakukan hal tersebut terhadap panutan dan imamnya (yakni Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam).

Dia asing dalam hal agamanya karena agama manusia rusak. Dia asing dalam hal keteguhannya memegang ajaran Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam karena keteguhan mereka dalam memegang bid’ah. Dia asing dalam hal keyakinannya karena keyakinan mereka telah rusak. Dia asing dalam hal shalatnya karena jeleknya shalat mereka. Dia asing dalam hal caranya karena kesesatan dan kerusakan cara mereka. Dia asing dalam hal penasabannya karena berbeda dengan penasaban mereka. Dia asing dalam hal pergaulannya dengan mereka karena dia bergaul dengan mereka tanpa mengikuti selera mereka.

Ringkasnya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Ia tidak mendapatkan ada yang membantunya dari kalangan orang-orang pada umumnya. Dia adalah orang yang berilmu di tengah orang bodoh, pemegang sunnah di antara penganut bid’ah, penyeru kepada jalan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya di antara para penyeru kesesatan dan bid’ah, pelopor kebaikan, pencegah dari kemungkaran di tengah kaum yang menganggap hal yang baik sebagai mungkar dan hal yang mungkar sebagai sesuatu yang baik.

(diterjemahkan dan diringkas oleh al-ustadz Qomar Suaidi, Lc dari kitab Madarijus Salikin)

—————————————–

Sumber: Majalah Asy Syariah

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.