NASEHAT BAGI ORANG YANG GENGSI UNTUK MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG YANG DI BAWAHNYA

NASEHAT BAGI ORANG YANG GENGSI UNTUK MENERIMA KEBENARAN DARI ORANG YANG DI BAWAHNYA

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady al-Madkhay hafizhahullah berkata: “Ini merupakan kalimat yang bermanfaat bagi siapa saja yang disusupi penyakit oleh syaithan dengan merasa dirinya telah menjadi seorang yang besar, atau merada telah menjadi menjadi seorang syaikh dan diberi pakaian kebesaran serta manusia berkumpul mengitarinya, atau dia telah memegang jabatan atau semisalnya, sehingga hal itu menyebabkan dirinya merasa gengsi untuk bertanya kepada murid-muridnya.

Jadi ilmu itu akan menjadi rahmat di antara para pemiliknya, dan sesorang itu akan senantiasa bertambah kebaikannya, dalam kemuliaan dan keutamaan, jika dia mau mengambil ilmu dari orang-orang yang tingkatannya di bawahnya, sebagaimana dia mengambil ilmu dari orang-orang yang lebih berilmu darinya.

Adapun dia mengambil ilmu dari orang-orang yang di atasnya dalam usia dan keilmuan maka ini adalah jalan yang benar, dan seringnya seseorang tidak gengsi melakukannya. Tetapi seringnya bencana itu datang dengan munculnya gengsi dan kesombongan untuk mengambil kebenaran dari orang yang dia anggap kecil.

Jadi jika ada seseorang menghadiahkan untukmu sebuah nasehat yang berasal dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam dalam keadaan engkau telah mengatakan kebalikannya, maka wajib atas engkau untuk menerima nasehat tersebut, karena sesungguhnya tidak akan bisa meraih ilmu orang yang malu dan tidak pula orang yang menyombongkan diri.”

Beliau hafizhahullah juga mengatakan, ”Maka pasti ada sebagian sunnah yang tidak di ketahui oleh seseorang, betapapun banyaknya ilmu yang dia miliki. Jadi tidak akan meraih ilmu ini orang yang malu dan tidak pula orang yang menyombongkan diri, sehingga engkau harus tawadhu’ terhadap ilmu.

Dan telah diketahui di kalangan para ulama ahli hadits bahwa seseorang itu tidak akan menjadi orang besar dan mulia hingga dia mau mengambil ilmu dari orang-orang yang di bawahnya, sebagaimana dia mengambil ilmu dari orang-orang yang di atasnya.

Maksudnya dia tawadhu’ terhadap sunnah dan tawadhu’ terhadap hadits. Terkadang sebuah sunnah tidak engkau dapatkan kecuali dari orang yang lebih muda darimu atau dari orang yang ilmunya lebih sedikit darimu.

Jadi ada sebagian orang yang gengsi untuk mengambil ilmu dari orang yang lebih muda atau lebih sedikit ilmunya sehingga menyebabkan dia meninggalkan sunnah dan meninggalkan ilmu. Dan semacam ini termasuk penyakit kesombongan, kita berlindung kepada Allah darinya. Maka wajib untuk bersikap tawadhu.”

? Saluran Telegram asy-Syaikh Fawaz bin ‘Ali al-Madkhaly hafizhahullah

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.