Mutiara Hikmah Salafush Sholeh (bagian 4)

Mutiarahikmahsalafushsholeh4a

BERATNYA MENINGGALKAN PERKATAAN YANG TIDAK BERMANFAAT

Abdullah bin Abi Zakariya Al-Khuza’iy -rahimahullah- berkata: “Aku melatih diri untuk tidak berbicara yang tidak bermanfaat bagiku selama 20 tahun, sebelum aku mampu melakukan sesuai yang kuinginkan.”

(Al-Muntazham fii Taarikhil Muluk wal Umam, 7/181)

BAHAYA UJUB

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Diantara tanda kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan benar adalah; tidak merendahkan orang-orang yang berkubang dalam kelalaian dan tidak mengkhawatirkan keadaan mereka dalam keadaan di saat yang sama engkau membuka pintu harapan bagi dirimu, maksudnya engkau mengharapkan rahmat bagi dirimu dan mengkhawatirkan adzab akan menimpa orang-orang yang tenggelam dalam kelalaian itu. Yang tepat adalah; harapkanlah rahmat untuk mereka dan takutlah jangan sampai justru engkaulah yang akan tertimpa adzab. Kalaupun terpaksa mencela mereka maka hendaklah engkau lebih keras mencela dirimu dibandingkan celaan terhadap mereka dan lebih mengharapkan rahmat Allah bagi mereka dibandingkan untuk dirimu.” (Hayaatus Salaf, hal. 782)

TAHU DIRI KARENA MENYADARI DOSA-DOSA

Muhammad bin Wasi’ -rahimahullah- berkata: “Seandainya dosa-dosa memiliki bau, kalian tidak akan mampu mendekat kepadaku karena busuknya bauku.

(Al-Muntazham fii Taarikhil Muluuk wal Umam, 7/205)

MENJAGA PANDANGAN DARI YANG HARAM WALAUPUN HANYA DALAM MIMPI

Ibnu Sirin -rahimahullah- berkata: “Sesungguhnya tidaklah aku melihat seorang wanita dalam mimpi lalu aku mengetahui bahwa dia tidak halal bagiku, melainkan aku palingkan pandanganku darinya.”
(Al-Muntazham fii Taarikhil Muluuk wal Umam, 7/139)

HATI-HATI MEMILIH TEMAN DEKAT

Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata: “Tidak ada yang lebih besar pengaruhnya dalam menjadikan seseorang rusak atau baik dari seorang teman.”
(Al-Ibanah 2/478 no. 504)

MENGINGATKAN HATI YANG LALAI TERHADAP KEMATIAN

Abu Sinan Dharar bin Murrah Asy-Syaibany -rahimahullah- termasuk orang yang banyak menangis. Beliau telah menggali kuburan untuk dirinya sendiri 15 tahun sebelum meninggalnya. Beliau sering mendatanginya dan mengkhatamkan Al-Qur’an di dalamnya.
(Al-Muntazham fii Taarikhil Muluuk wal Umam, 7/323)

HATI-HATI FITNAH WANITA

Atha’ bin Abi Rabbah berkata: “Seandainya aku dipercaya mengurusi baitul maal aku bisa bisa dipercaya, tetapi aku tidak merasa aman jika diminta menjaga budak wanita yg buruk mukanya.” (Hayaatus Salaf hal. 291)

DIANTARA SEBAB KEGAGALAN MENDIDIK ANAK & ISTRI

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Seorang hamba yang banyak berbuat dosa apakah pantas dia meninginkan agar sikap manusia kepadanya sesuai yang dia senangi dan ingin agar mereka mempergaulinya dengan kebaikan saja, padahal dia tidak menjalin hubungan dengan Rabbnya dengan cara yang baik saja. Apakah pantas dia berharap agar ditaati oleh budaknya, anaknya dan istrinya sesuai dengan semua yang dia inginkan dan berharap mereka tidak mendurhakainya serta tidak mengurangi hak-haknya, padahal dia tidak berbuat seperti kepada Rabbnya?!”
(Miftaah Daaris Sa’adah, 2/300)

HAKEKAT NIKMAT

Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullah berkata: “SEMUA NIKMAT YANG TIDAK MENDEKATKAN SEORANG HAMBA KEPADA ALLAH, MAKA HAKEKATNYA ITU ADALAH BENCANA.”
(Taarikh Dimasyq, 22/57)

USAHA-USAHA MERAIH KEIKHLASAN

Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata: “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu (yang boleh disembunyikan -pent) sebagaimana engkau berusaha menyembunyikan keburukan-keburukanmu.”
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: “Menampakkan keadaan diri kepada manusia bagi orang-orang yg jujur merupakan kedunguan & kelemahan, dan itu merupakan bagian-bagian jiwa & syetan. Orang-orang yang jujur & memiliki tekat membaja mereka lebih bersungguh-sungguh menyembunyikan kebaikan dibandingkan usaha orang-orang yang punya harta untuk menyembunyikan harta mereka.” (Hayaatus Salaf, hal. 254)

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.