Mutiara Hikmah Salafush Sholeh (bagian 2)

Mutiarahikmahsalafushsholeh2a

TAWADHU’ KEPADA YANG TUA MAUPUN KEPADA YANG MUDA

Bakr bin Abdillah Al-Muzany -rahimahullah- berkata: “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu maka katakanlah: ‘Dia mendahuluiku dengan iman dan amal shalih, sehingga dia lebih baik dariku.’ Dan jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu maka katakanlah: ‘Aku mendahuluinya melakukan dosa dan kemaksiatan, sehingga dia juga lebih baik dariku.’ Jika engkau melihat teman-temanmu menghormati dan memuliakan dirimu maka katakanlah: ‘Ini karena kemuliaan jiwa mereka.’ Dan jika engkau melihat mereka kurang dalam memuliakan dirimu maka katakanlah: ‘Ini adalah akibat dosa yang kulakukan!”
(Shifatush Shafwah, karya Ibnul Jauzy, terbitan Daarul Ma’rifah, 3/248)

HATI-HATI DARI SESUATU YANG SYUBHAT (WARA’)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan: “Suatu hari ketika aku di rumah bersama ayahku, ada seseorang mengetuk pintu. Maka ayahku berkata, “Keluarlah, lihatlah siapa yang ada di depan pintu!” Aku pun keluar, ternyata yang datang adalah seorang wanita. Dia berkata kepadaku, “Mintakan izin agar saya bisa menemui Abu Abdillah (Imam Ahmad -pent)!” Maka aku memintakan izin kepada ayahku dan beliau mengizinkan.
Setelah masuk dan mengucapkan salam kepada ayahku, wanita itu berkata, “Abu Abdillah, saya seorang wanita yang bekerja menenun di malam hari dengan bantuan cahaya lampu. Terkadang lampu padam sehingga saya menenun di bawah cahaya rembulan. Maka apakah saya harus menjelaskan mana hasil tenunan dengan cahaya rembulan dan mana yang dengan cahaya lampu?”
Ayahku menjawab, “Jika menurutmu pada dua keadaan tadi ada perbedaan, maka engkau wajib menjelaskannya.”
Dia bertanya lagi, “Abu Abdillah, rintihan orang sakit apakah termasuk keluh kesah yang dilarang?”
Ayahku menjawab, “Aku berharap tidak, itu hanya mengeluh kepada Allah Azza wa Jalla.”
Ketika dia telah pulang maka ayahku berkata, “Anakku, aku tidak pernah sama sekali mendengar ada orang yang menanyakan hal semacam ini, ikutilah wanita tadi lalu lihatlah dia masuk ke mana!”
Maka aku pun mengikuti wanita tersebut, ternyata dia masuk rumah Bisyr bin Al-Harits dan ternyata dia adalah saudara perempuannya.
Aku pun pulang lalu kuceritakan hal itu kepada ayahku. Maka beliau berkata, “Rasanya tidak mungkin ada wanita seperti dia selain saudara perempuan Bisyr.”
(Shifatus Shafwah, terbitan Daarul Ma’rifah, 2/525)

HANYA MEMINTA DAN BERHARAP KEPADA ALLAH

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal -rahimahumallah- menceritakan: “Aku sering mendengar ayahku berdoa setelah shalat, “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka jagalah wajahku dari meminta kepada selain-Mu.”
(Shifatus Shafwah 2/610, dinukil di dalam Hayaatus Salaf, hal. 360)

TEMAN SEJATI

Asy-Sya’by  -rahimahullah- berkata: “Manusia yang paling mulia adalah yang paling mudah mencintai dan paling lambat bermusuhan, seperti gelas dari perak, susah pecah dan mudah diperbaiki. Sedangkan manusia yang paling hina adalah yang paling lambat mencintai dan paling cepat bermusuhan, seperti gelas dari tanah liat, mudah pecah dan susah diperbaiki.”
(Rufaqaa’utht Thariiq, terbitan Daarul Qaasim, Riyadh, hal. 22)

BAHAYA BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH

Fudhail bin Iyyadh -rahimahullah- berkata: “Siapa yang tawadhu’ karena Allah pasti Dia akan memuliakannya. Siapa majelisnya bersama orang-orang miskin maka majelis itu akan memberinya manfaat. Jangan sekali-kali engkau duduk bersama orang yang akan merusak hatimu, dan jangan duduk bersama pengikut hawa nafsu, karena sungguh aku mengkhawatirkan kemurkaan Allah atasmu.”
(Al-Ibaanah Al-Kubra, terbitan Daarur Raayah, Riyadh, cetakan ke-2, tahun 1415, 1/462, no. 451)

RAHASIA MERAIH KEUTAMAAN

Ibnu Rajab -rahimahullah- berkata: “Keutamaan tidaklah diraih dengan banyaknya amal badan, tetapi dengan keikhlasan dan benar dengan cara mengikui As-Sunnah, serta dengan banyaknya pengetahuan hati dan amalnya. Jadi siapa yang paling mengetahui tentang Allah, agama-Nya, hukum-
hukum-Nya, serta syariat-Nya, dan dia paling takut kepada-Nya, paling mencintai-Nya, serta paling besar harapannya kepada-Nya, maka dia lebih utama dibandingkan seseorang yang keadaannya tidak demikian, walaupun dia lebih banyak beramal dengan anggota badannya.”
(Mawaariduz Zham’aan li Duruusiz Zamaan, 4/484)

MENGAPA TIDAK PERNAH PUAS TERHADAP ISTRI

Ibnul Jauzy -rahimahullah- berkata: “Sebagian orang ada yang berpaling dari istrinya dan lebih senang kepada wanita lain, padahal bisa jadi istrinya lebih baik. Hal itu karena aib-aib wanita lain belum dia ketahui dan seringnya baru tersingkap setelah bergaul dengannya. Oleh karena inilah jika dia telah bergaul dengan wanita baru yang dia cintai ini dan pergaulan telah menyingkap apa yang sebelumnya tertutupi, dia pun akan merasa bosan dan ingin mencari wanita lain tanpa pernah merasa puas.”
(Dzammul Hawa, hal. 488)

MANAJEMEN HAL-HAL YANG MUBAH

Ibnu Taimiyyah -rahimahullah berkata: “Hal-hal mubah yang melebihi kebutuhan yang tidak membantu seseorang untuk melakukan ketaatan, maka ketidakadaannya lebih baik dibandingkan keberadaannya, jika dengan tidak adanya itu akan menjadikannya sibuk dengan ketaatan kepada Allah, karena hal itu akan memalingkannya dari ketaatan.
Adapun jika hal-hal mubah yang melebihi kebutuhan itu akan memalingkannya dari hal-hal yang lebih buruk, maka hal itu tentu lebih baik dibandingkan hal-hal yang lebih buruk tersebut, misalnya jika hal itu memalingkannya dari maksiat kepada Allah, maka itu merupakan rahmat baginya, walaupun tentunya menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah lebih baginya dibandingkan yang ini dan itu.”
(Jaami’ur Rasaa’il 2/80, tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shawaarif ‘Anil Haqq, hal. 83)

RAHASIA KENAPA SESEORANG BERAT BERIBADAH

Fudhail bin Iyyadh -rahimahullah berkata: “Jika engkau tidak mampu melakukan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwasanya engkau terhalangi dan terbelenggu, dosa-dosamulah yang telah membelenggumu.”
(Al-Muntazham Fii Taarikhil Muluuk wal Umam, karya Ibnul Jauzy, terbitan Daarul Kutub, cetakan pertama tahun 1412 H, 9/148)

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.