Musuh-musuh Manusia ~ Bagian 1

MUSUH-MUSUH MANUSIA

Ditulis Oleh: Al Ustadz Abu Muhammad Idral Harits

Dalam perjalanannya di dunia yang tidak ringan ini banyak musuh yang mengintai kelengahan seorang manusia, lebih-lebih seorang mukmin. Ada musuh yang tegak berdiri di hadapannya, merintangi langkahnya atau membelokkanya ke arah yang salah. Apakah dengan menghiasi berbagai kejelekan agar terlihat indah lalu manusia tertarik untuk mengerjakannya. Atau, sebaliknya, membuat yang baik seakan-akan sebuah keburukan yang harus dijauhi dan dimusuhi.

Ada tiga musuh paling utama yang harus dihadapi setiap manusia, yaitu dunia yang ditempatinya, syaitan yang selalu menyertainya, dan hawa nafsu yang ada dalam dirinya selama dia masih hidup. Ketiga musuh inilah yang sering menyebabkan terperosoknya manusia ke dalam perbuatan melanggar larangan dan meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kata Yahya bin Mu’adz Ar Razi rahimahullahu,”Musuh manusia itu ada tiga; dunia, syaitan dan nafsunya. Bentengilah diri dari dunia dengan zuhud terhadap dunia, dari syaitan dengan menyelisihi perintahnya, dan dari nafsu dengan meninggalkan syahwatnya.”

Secara bahasa, musuh (‘aduw) adalah lawan dari teman, pelindung, penolong (waliy), dan bentuk jamak dari ‘aduw ialah a’da`.

Musuh-musuh yang dihadapi oleh manusia, ada segolongan yang kita diperintahkan untuk memusuhinya, bahkan memeranginya, di antaranya adalah seperti diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala (An Nisa` 92):

فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ

“Maka jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang menjadi musuh bagi kamu….”

Ada pula golongan yang memusuhi mereka bukan sebagai tujuan utama (harus dimusuhi), tetapi kadang-kadang seseorang terpaksa harus menghadapi gangguan dari golongan ini, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala (At Taghabun 14):

إِنَّ مِنْ أَزْواجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.”

Mereka (istri dan anak-anak) digolongkan sebagai musuh, karena mendorong seorang suami melakukan pelanggaran untuk memenuhi kepentingan istrinya. Atau menyebabkan seorang ayah bermaksiat demi menyenangkan anak-anaknya, hingga menjerumuskannya ke dalam kebinasaan abadi.

Hanya karena permintaan istri yang ingin memiliki rumah dan perabotan mewah, kendaraan yang bagus, atau perhiasan yang mahal, seorang suami tergerak melakukan penipuan, pencurian, penggelapan, pengkhiatan, bahkan pembunuhan. Hanya karena memenuhi keinginan anak kesayangannya yang ingin tampil di hadapan teman sebayanya, sang ayah rela merampok dan membunuh.

Itu baru di dunia, belum lagi di akhirat.

Lebih buruk lagi, kalau dia sampai ‘harus’ menjual manhajnya, merendahkan dirinya, dan menghinakan ilmu yang dibawanya, hingga dia terlepas dari lingkup pergaulannya dengan ahlis sunnah. Bahkan ikut menyebarkan fitnah dan syubhat di kalangan ahlis sunnah serta orang-orang awam.

Wal’iyadzu billahi.

Menurut istilah, al ‘aduw ialah siapa saja yang berusaha mencelakakan orang lain dan melawannya hingga menjerumuskan lawannya ke dalam kerugian.

Bisa juga dikatakan bahwa musuh seseorang adalah siapa saja yang merasa senang melihat kesengsaraannya.

Syaitan, Musuh Utama

Syaitan-musuh utama manusiaSyaitan adalah musuh manusia yang paling hebat. Dia dan tentaranya selalu mengintai dari arah yang tidak bisa dilihat manusia. Syaitan selalu menyertai manusia, karena berjalan pada diri manusia, di jalan darah manusia. Ketika manusia lalai, syaitan akan menyerang hatinya dan mulai meniupkan was-was untuk menyesatkan manusia tersebut.

Dendam dan permusuhannya terhadap manusia tidak pernah berhenti. Dialah pangkal semua kejahatan yang ada di dunia ini. Dia sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia untuk menghancurkan dan menyeretnya ke neraka.

Allah Ta’ala berfirman (Faathir 6):

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Allah Ta’ala berfirman (Yasiin 60):

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.”

Dan berfirman (An Nisa` 60):

وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Di antara bukti kejahatannya itu adalah sumpahnya di hadapan Allah Ta’ala sesudah dia menolak sujud menghormati Adam sebagai bukti ketaatannya kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman menceritakan sumpahnya (Al A’raaf 16-17):

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

Puncak kejahatannya yang pertama adalah keberhasilannya membuat Adam ‘alaihissalam dan istrinya keluar dari surga. Tidak berhenti sampai di situ, dia menyeret dari seribu anak Adam, sembilanratus sembilanpuluh sembilan ikut menemaninya di neraka.

Dia selalu berusaha menjegal dakwah para Nabi dan Rasul dengan seluruh kemampuannya. Dialah yang menjadi sebab terbunuhnya Yahya dan Zakariya ‘alaihimassalam. Dia pula yang berusaha mencelakakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melemparkan api ke wajah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga yang membantu orang-orang yang Yahudi menyihir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada jalan untuk menghindar dari kejahatannya selain dengan pertolongan Allah Ta’ala. Kita tidak mungkin membatasi jenis-jenis kejahatannya, apalagi menyebutnya satu per satu, karena semua kejatan di alam ini, dialah sebabnya.

Akan tetapi, mungkin dapat diringkas, secara umum ada enam pintu kejahatan yang dimasukinya Sebab, dia ingin meraih kemenangan dengan menjerumuskan manusia melalui pintu-pintu kejahatan yang sebagiannya lebih sulit daripada yang lainnya. Syaitan tidak akan berpindah ke pintu yang lebih rendah, kecuali jika dia kesulitan untuk memasuki pintu yang di atasnya.

Pintu yang pertama adalah kekufuran dan kesyirikan serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Apabila dia berhasil menghancurkan manusia melalui kejahatan ini, tenanglah hatinya, redalah kesedihannya, dan dia dapat beristirahat dari kepayahannya melumpuhkan manusia. Inilah yang pertama kali diinginkannya terhadap diri manusia.

Syaitan tidak henti-hentinya membujuk dan merayu manusia sampai manusia itu jatuh dalam kekafiran, kesyirikan dan permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Kalau berhasil, dia akan menjadikan manusia itu sebagai prajuritnya bahkan menjadi pengggantinya dalam menghancurkan manusia lainnya.

Seandainya syaitan gagal dari pintu yang pertama ini, dia akan berusaha menyerang melalui pintu kejahatan yang berikutnya, yaitu…

Pintu yang kedua ialah bid’ah.

Mengapa syaitan menjadikannya sebagai jalan atau pintu kedua untuk menghancurkan manusia?

Alasannya, karena bahaya bid’ah yang menimpa agama seseorang lebih berat dan sangat sulit bagi pelakunya untuk bertaubat dari suatu kebid’ahan. Sebab, mereka yang tenggelam dalam sebuah kebid’ahan, baik dalam hal keyakinan/pemikiran maupun amaliah merasa yakin bahwa dia sedang berada dalam atau sedang melakukan sebuah kebaikan atau ketaatan.

Pada masa tabi’in terkemuka, Sa’id bin Al Musayyab rahimahullahu, ada seseorang yang mengerjakan shalat sunah subuh di Masjid Nabawi berulang kali. Sa’id bin Al Musayyab menegur dan menasehatinya. Tetapi, orang itu membantah,”Wahai Imam, apakah saya akan disiksa karena mengerjakan shalat?”

Sa’id bin Al Musayyab berkata,”Engkau tidak disiksa karena shalat, tetapi karena menyelisihi perintah/ketetapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 63):

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Bid’ah itu adalah ajaran yang menyelisihi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak pelakunya menyimpang dari ajaran yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa. Karena itulah, sebagian ulama salaf mengatakan,”Bid’ah itu lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiatan. Sebab, pelaku kemaksiatan itu, mungkin saja bertaubat, sedangkan pelaku bid’ah tidak mungkin bertaubat (karena merasa dirinya benar).”

Apabila syaitan berhasil dari sisi ini, dia akan menjadikan manusia itu sebagai wakilnya yang mengajak manusia lain kepada kebid’ahan. Andaikata dia gagal, misalnya karena manusia itu diberi anugerah kecintaan kepada sunnah dan memusuhi bid’ah dan para pengusungnya, syaitan akan berusaha melalui pintu berikutnya, yaitu;

Pintu yang ketiga, yaitu dosa-dosa besar (kabair) dengan semua tingkat perbedaannya. Syaitan sangat berambisi menjerumuskan manusia itu ke dalamnya. Terutama apabila manusia itu adalah seorang tokoh yang berilmu dan diikuti. Syaitan sangat antusias membuat orang lain lari dan meninggalkan tokoh tersebut.

Setelah orang tersebut jatuh ke dalam dosa, syaitan akan menyebarkan dosa itu di tengah-tengah manusia, bahkan menunjuk wakil-wakilnya di antara mereka untuk menyebarkannya ke seluruh penjuru. Lalu, dengan dalih taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala mereka membahasnya, padahal tanpa mereka sadari, mereka justru menjadi wakil-wakil iblis.

Padahal, Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 11):

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.”

Inilah buahnya jika mereka senang menyebarkannya. Bagaimana pula kiranya, jika mereka justru menjadi orang yang paling berperan menyebarkannya tanpa pernah memberinya nasehat sama sekali. Bahkan, menuruti ajakan iblis agar membuat orang lari dari orang alim tersebut dan ilmunya?

Dosa yang dilakukan orang alim itu, meskipun sampai ke ujung langit, bisa jadi masih lebih ringan dalam pandangan Allah daripada perbuatan mereka. Sebab, dosa yang dilakukannya itu adalah kezaliman terhadap dirinya sendiri, yang seandainya dia meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, Allah menerimanya dan mengganti kejelekannya dengan kebaikan. Adapun dosa mereka yang menyebarkan aib tersebut, adalah kezaliman terhadap orang-orang yang beriman dan mencari-cari aib mereka serta sengaja ingin mempermalukan mereka.

Wal’iyadzu billahi.

Apabila syaitan tidak mampu menjatuhkan seorang manusia melalui pintu ini, dia akan beralih kepada pintu yang berikutnya;

Pintu yang keempat, yaitu dosa-dosa kecil (shaghair) dan sering diremehkan. Syaitan berusaha membuat dosa itu mudah dilakukan. Dia menggiring manusia itu agar terbiasa melakukan dosa-dosa kecil, sampai manusia tersebut memandang ringan apa yang telah diperbuatnya.

Andaikata syaitan gagal dari arah ini, dia akan beralih kepada kejahatan berikutnya, yaitu;

Pintu yang kelima, dia akan menyibukkan manusia itu dengan hal-hal yang bersifat mubah; yang tidak ada pahala dan siksa padanya. Padahal tidak juga demikian, karena di balik itu sebetulnya ada hukumannya. Dengan kata lain, orang yang terbiasa atau selalu melakukan hal-hal yang mubah akan kehilangan pahala amalan lain yang bermanfaat yang disia-siakannya karena sibuk mengerjakan perkara yang mubah tersebut.

Apabila manusia itu termasuk orang yang ketat memelihara waktunya, memahami kadar dirinya, menyadari pula kenikmatan dan siksa yang ada di hadapannya sehingga menjaga diri dari urusan-urusan yang mubah tersebut, syaitan berpindah kepada pintu yang berikutnya.

Pintu yang keenam, yaitu menyibukkan manusia itu dengan amalan yang sifatnya kurang bernilai (mafdhul), hingga menyia-nyiakan amalan yang lebih utama (fadhil). Syaitan selalu mendorongnya dan membuatnya memandang indah mengerjakan kebaikan yang kurang bernilai.

Tidak hanya sampai di situ, syaitan justru menumbuhkan dorongan dan rasa antusias pada diri manusia itu untuk mengerjakan yang mafdhul, apabila dengan mengerjakan kebaikan yang mafdhul itu ada amalan lain yang lebih bernilai (fadhil)menjadi terlantar atau ditinggalkan.

Akan tetapi, kenyataan ini sangat sedikit yang menyadarinya, karena mengira kebaikan yang dikerjakannya tidak mungkin atas perintah syaitan. Syaitan tidak akan menyuruh kepada kebaikan, sehingga sudah tentu –menurut pikirannya- kebaikan ini adalah taufik dari Allah Ta’ala. Inilah salah satu kelemahan manusia. Dan tentang hal ini dia dimaafkan, karena ilmunya belum sampai kepada tingkatan ini. Dia tidak menyadari bahwa syaitan membuka tujuhpuluh pintu kebaikan untuk dua tujuan; bisa jadi melalui pintu itu, syaitan ingin menjerumuskan seorang manusia ke dalam satu kejahatan, atau yang kedua, melalui tujuhpuluh kebaikan tersebut, manusia itu justru kehilangan pahala yang jauh lebih besar dan lebih utama daripada tujuhpuluh kebaikan tersebut.

Apabila syaitan gagal menghancurkan manusia melalui enam pintu kejahatan ini, dia akan mengerahkan pasukannya dari kalangan jin dan manusia untuk menyakiti dan mengganggu manusia tersebut. Dia akan menghasung bala tentaranya menyebarkan isu bahwa orang itu kafir, sesat, membuat perpecahan, dan upaya lain dengan tujuan nama orang itu tenggelam. Dengan cara ini dia berusaha menyibukkan hati orang tersebut agar menyiapkan diri untuk memerangi syaitan sekaligus mencegah orang lain mengambil manfaat dari ilmunya.

Dengan demikian, selama hidupnya seorang mukmin tidak pernah meletakkan senjatanya menghadapi syaitan dan para prajuritnya, sampai dia berjumpa dengan Allah Ta’ala.

Akhirnya, setiap saat dengan berbekal keyakinan, dia harus berjihad melawan badai syubhat yang ditiupkan oleh syaitan. Setiap saat pula dia harus bertahan menangkis gelombang syahwat yang dibisikkan syaitan dengan memperkuat kesabaran dalam dirinya.

Demikian hebat upaya syaitan untuk menyeret manusia agar menyertainya dalam kehinaan abadi di neraka. Karena itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengingatkan manusia kejahatan syaitan tersebut.

Allah Ta’ala berfirman (An Nuur 21):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَيُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللهُسَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Lantas, senjata apa yang harus digunakannya untuk membela diri dan menghalau musuhnya yang satu ini?

Yang paling utama tentu saja adalah berpegang teguh dengan Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, di atas manhaj salaf radhiyallahu ‘anhum. Menerapkan kandungannya sekuat tenaga dalam kehidupan, lahir dan batin.

Yang kedua, jangan lalai dari dzikrullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan zikir ini seperti seseorang yang dikejar musuhnya, lalu dia masuk ke dalam sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Benteng itu adalah dzikrullah.

Allah Ta’ala juga berfirman (Ar Ra’du 28):

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Yang ketiga ialah taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِبْلِيْسُ وَعِزَّتِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُم فِي أَجْسَادِهِمْ فَقَالَ وَعِزَّتِـي وَجَلَالِـي لَا أَزَالُ أَغْفِرُ لَـهُم مَا اسْتَغْفَرُوْنِـي.

“Iblis berkata,”Demi Kemuliaan-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan para hamba-Mu selama nyawa masih di jasad mereka.”

Allah berfirman,”Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, Aku akan selalu memberi ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampunan kepada-Ku.”

Wallahul Muwaffiq.

——- Bersambung in Syaa Allah –

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.