Mengukur Kejujuran Dalam Mengikuti Kebenaran

mengukur kebenaranMENGUKUR KEJUJURAN DALAM MENGIKUTI KEBENARAN

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimy Al-Yamany rahimahullah

Hendaknya seseorang memikirkan keadaannya bersama hawa nafsu.

Anggaplah misalnya telah sampai kepadamu bahwa ada seseorang yang mencela Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, yang lain mencela Dawud alaihis salam, yang ketiga mencela Umar atau Ali radhiyallahu anhuma, yang ketiga mencela imam (ulama) yang engkau ikuti, yang kelima mencela imam yang lain. Ketika itu apakah kemarahanmu kepada mereka dan usahamu untuk menghukum dan memberi pelajaran kepada mereka atau mencela mereka sesuai dengan tuntutan syariat?! Jadi apakah kemarahanmu terhadap orang yang pertama dan kedua hampir sama atau jauh lebih besar dibandingkan terhadap orang yang setelahnya?! Apakah kemarahanmu kepada orang ketiga lebih ringan, namun lebih besar dibandingkan terhadap orang setelahnya?! Dan apakah kemarahanmu terhadap orang keempat dan kelima hampir sama namun jauh dibandingkan terhadap orang sebelumnya?!

Anggaplah misalnya engkau membaca sebuah ayat, lalu nampak bagimu dari ayat tersebut yang sesuai dengan pendapat imammu, dan engkau membaca ayat lain, lalu nampak bagimu dari ayat tersebut yang menyelisihi pendapat ulama yang lain. Maka apakah ketika itu pandanganmu terhadap kedua ayat tersebut sama, dan engkau tidak peduli apakah setelah mentadaburinya ternyata ayat tersebut sesuai dengan yang telah engkau pahami sebelumnya ataukah tidak?!

Anggaplah misalnya engkau menjumpai dua buah hadits yang engkau tidak mengetahui apakah keduanya shahih ataukah dha’if. Salah satu dari kedua hadits tersebut sesuai dengan pendapat imammu, sedangkan yang lainnya menyelisihinya. Apakah ketika itu pandanganmu terhadap kedua hadits sama dan engkau tidak peduli apakah sanad dari kedua hadits tersebut shahih ataukah lemah?!

Anggaplah misalnya engkau sedang meneliti sebuah masalah yang imammu memiliki sebuah pendapat tentangnya, namun ada orang lain yang tidak sependapat dengannya. Apakah ketika itu engkau tidak terpengaruh oleh hawa nafsu di dalam berusaha untuk meneliti dan memilih salah satu dari kedua pendapat tersebut, bahkan engkau ingin benar-benar menelitinya agar engkau mengetahui mana yang lebih kuat dari kedua pendapat tersebut lalu engkau mau untuk menjelaskan sisi yang menunjukkan kuatnya?!

Anggaplah misalnya ada seseorang yang engkau cintai dan ada orang lain yang engkau benci yang keduanya tersebut berselisih dalam sebuah masalah, lalu engkau ditanya tentang masalah tersebut namun engkau tidak mengetahui hukumnya, apakah ketika itu engkau tidak terpengaruh oleh hawa nafsumu untuk lebih cenderung kepada pendapat orang yang engkau cintai?!

Anggaplah misalnya engkau dan seorang ulama yang engkau cintai serta ulama lain yang engkau benci, masing-masing dari kalian berfatwa dalam sebuah masalah, lalu engkau menelaah fatwa dari kedua ulama tersebut dan engkau menilai bahwa kedua pendapat tersebut benar. Kemudian sampai kepadamu bahwa ada ulama yang lain mengkritik salah satu dari fatwa-fatwa tersebut dan mengingakrinya dengan keras. Apakah ketika itu keadaanmu sama saja jika yang dikritik tersebut adalah fatwamu atau fatwa temanmu ataukah fatwa orang yang engkau benci?!

Anggaplah misalnya engkau mengetahui seseorang melakukan kemungkaran dan engkau memberi toleransi untuk dirimu dengan tidak mengingkarinya. Kemudian sampai kepadamu bahwa ada ulama yang lain mengingkarinya dengan keras. Apakah ketika itu anggapan baikmu terhadapnya sama jika pihak yang mengingkarinya tersebut temanmu atau musuhmu, dan apakah juga sama saja jika pihak yang diingkari tersebut temanmu atau musuhmu?!

Periksalah dirimu, niscaya engkau menjumpai dirimu pasti ditimpa dengan maksiat atau kekurangan dalam menjalankan agama. Dan engkau juga akan menjumpai orang yang engkau benci juga ditimpa dengan maksiat atau kekurangan yang lain dalam syariat yang mungkin lebih parah dibandingkan dengan apa yang menimpa dirimu. Maka apakah ketika itu engkau mendapati penilaianmu terhadap apa yang menimpanya itu sebagai sesuatu yang buruk sama dengan penilaianmu terhadap apa yang menimpa dirimu sendiri, dan apakah engkau mendapati kemarahanmu terhadap dirimu sendiri sama dengan kemarahamnu terhadap orang tersebut?!

Intinya; jalan-jalan masuk hawa nafsu terlalu banyak untuk dihitung. Saya sendiri telah merasakan pengalaman dari diri saya pribadi. Terkadang saya meneliti sebuah masalah dengan menganggap bahwa saya merasa tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu. Ketika itu nampaklah sebuah kesimpulan sehingga saya pun menetapkannya dengan pemaparan yang saya merasa puas dengannya. Namun kemudian setelah itu nampaklah bagi saya sesuatu yang merusak kesimpulan tadi. Maka saya merasakan diri saya jengkel dengan hal yang merusaknya tersebut, dan jiwa saya memaksa diri saya untuk berusaha membantahnya dan tidak perlu lagi mendiskusikan lagi bantahan tersebut. Hal itu terjadi hanyalah karena ketika saya telah menetapkan kesimpulan yang pertama, saya merasa puas dan kagum sehingga saya pun cenderung menilainya sebagai pendapat yang benar. Padahal, kejengkelan semacam itu terjadi dalam keadaan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Lalu bagaimanakah kiranya jika saya telah menyebarluaskan kesimpulan yang pertama tadi kepada manusia, kemudian nampak bagi saya sesuatu yang merusaknya?! Kemudian bagaimanakah lagi kiranya jika saya tidak mengetahui sesuatu yang merusaknya, tetapi orang lainlah yang mengkritik pendapat saya?! Kemudian bagaimana pula jika pihak yang mengkritik saya tersebut termasuk orang yang saya benci?!

Sumber artikel:
At-Tankiil Bimaa Fii Ta’niibil Kautsary Minal Abaathiil, II/318-319

Alih bahasa: Abu Almass
Senin, 23 Ramadhan 1435 H

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.