Mengingat Kembali Hukum-hukum Puasa ~ Bagian 2

Hukum-Hukum Puasa-bagian2aMENGINGAT KEMBALI HUKUM-HUKUM PUASA

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushaby hafizhahullah

###

BAB KE-3:  KEWAJIBAN-KEWAJIBAN PUASA

Kewajiban-kewajiban puasa Ramadhan:

1. Wajib berhenti atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa jika telah terbit fajar shadiq.

2. Wajib berhenti atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai dipastikan matahari telah terbenam.

3. Wajib terus berniat untuk puasa hingga matahari terbenam.

4. Wajib mengeluarkan semua yang ada di mulut bagi siapa saja yang makan atau minum pada siang hari di bulan Ramadhan karena lupa atau

karena sengaja bukan karena ada udzur (alasan yang membolehkan –pent), atau jika orang yang sakit telah sehat di siang hari, atau jika orang yang safar telah pulang, atau wanita yang haidh atau nifas telah suci, atau orang kafir masuk Islam, atau anak laki-laki atau anak perempuan mencapai baligh, atau orang yang gila atau pingsan telah sadar.

5. Wajib bagi orang yang berpuasa untuk menjauhi istrinya atau budak perempuannya, jika dia khawatir akan terjatuh dalam perkara yang haram.

6. Wajib meninggalkan perkataan atau perbuatan yang mengandung dosa, perbuatan orang bodoh, ghibah (gossip), namimah (mengadu domba), dan semua hal-hal yang haram. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan yang mengandung dosa, maka Allah tidak membutuhkan perbuatannya meninggalkan makanan dan minuman.”HR. Al-Bukhary no. 1804

Wajib mencintai puasa Ramadhan, karena puasa termasuk syariat yang Allah turunkan.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَا أَنْزَلَ اللهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ.

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka membenci apa yang Allah turunkan, maka Allah pun menghapus amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9)

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah diraih insyaAllah.”(lihat: Shahih Abu Dawud no. 2041 –pent)

11. Mendoakan kebaikan bagi orang yang memberi jamuan berbuka kepada Anda.
12.  Memperbanyak memberi jamuan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa setelah matahari terbenam.
13. Semangat untuk memulai shalat berbarengan dengan imam dan selesai bersamaan pula (mendapatkan takbiratul ihram –pent.)
14. Menjaga qunut witir.
15. Semangat dan bersungguh-sungguh melakukan kebaikan di bulan Ramadhan lebih dibandingkan pada bulan-bulan yang lain.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ.

“Nabi shallallahu alaihi was sallam adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril datang menemui beliau. Jibril alaihis salam menjumpai beliau setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan habis. Nabi shallallahu alaihi was sallam menyetor hafalan Al-Qur’an kepada Jibril. Jadi jika Jibril alaihis salam menemui beliau, maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan dibandingkan angin yang bertiup.” (HR. Al-Bukhary no. 6 dan 1803 dan Muslim no. 2308)

16. Semangat dan bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh hari terakhir melebihi di hari-hari yang lain. Aisyah radhiyallahu anha menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهَا.

“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan lebih dibandingkan pada hari-hari yang lainnya.”  (HR. Muslim no. 1175)

17. Semangat menghidupkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah radhiyallahu anha menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.

“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam jika telah datang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam, membangunkan para istrinya (agar shalat malam –pent), bersungguh-sungguh dalam beribadah lebih dibandingkan pada hari-hari yang lainnya, dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri –pent”.) HR. Al-Bukhary no. 1920 dan Muslim no. 1174, dan ini adalah lafazh Muslim)

18. Memperbanyak doa dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau pemaaf dan suka memaafkan, maka ampunilah aku.”
(Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 3337 –pent)

19. Memperbanyak istighfar di waktu sahur.
20. Jika ada orang yang mencela, hendaknya dia mengatakan: “Saya sedang berpuasa.”
21. Melatih anak-anak untuk berpuasa sejak usia 7 tahun.
22. Melaksanakan ibadah umroh di bulan Ramadhan.

###

BAB KE-4:  HAL-HAL YANG DIANJURKAN KETIKA BERPUASA

Hal-hal yang dianjurkan ketika berpuasa Ramadhan:
1. Makan sahur.
2. Makan sahur dengan kurma kering.
3. Mengakhirkan sahur.
4. Sedikit makan ketika sahur dan berbuka.
5. Menyegerakan berbuka jika dipastikan matahari telah terbenam.
6. Berbuka dengan kurma basah.
7. Jika tidak ada kurma basah maka dengan kurma kering.
8. Minum beberapa teguk air.
9. Jika tidak mendapati air maka dengan sesuatu yang halal dan baik yang mudah didapatkan.
10. Ketika berbuka mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah, dan pahala telah diraih insyaAllah.”
(Lihat: Shahih Abu Dawud no. 2041 –pent)

11. Mendoakan kebaikan bagi orang yang memberi jamuan berbuka kepada Anda.
12. Memperbanyak memberi jamuan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa setelah matahari terbenam.
13. Semangat untuk memulai shalat berbarengan dengan imam dan selesai bersamaan pula (mendapatkan takbiratul ihram –pent).
14. Menjaga qunut witir.
15. Semangat dan bersungguh-sungguh melakukan kebaikan di bulan Ramadhan lebih dibandingkan pada bulan-bulan yang lain.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ.

“Nabi shallallahu alaihi was sallam adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril datang menemui beliau. Jibril alaihis salam menjumpai beliau setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan habis. Nabi shallallahu alaihi was sallam menyetor hafalan Al-Qur’an kepada Jibril. Jadi jika Jibril alaihis salam menemui beliau, maka beliau lebih dermawan dalam kebaikan dibandingkan angin yang bertiup.”  (HR. Al-Bukhary no. 6 dan 1803 dan Muslim no. 2308)

16. Semangat dan bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh hari terakhir melebihi di hari-hari yang lain. Aisyah radhiyallahu anha menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهَا.

“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam adalah bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan lebih dibandingkan pada hari-hari yang lainnya.”  (HR. Muslim no. 1175)

17. Semangat menghidupkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah radhiyallahu anha menceritakan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ.

“Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam jika telah datang sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam, membangunkan para istrinya (agar shalat malam –pent), bersungguh-sungguh dalam beribadah lebih dibandingkan pada hari-hari yang lainnya, dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri –pent).”  (HR. Al-Bukhary no. 1920 dan Muslim no. 1174, dan ini adalah lafazh Muslim)

18. Memperbanyak doa dengan mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau pemaaf dan suka memaafkan, maka ampunilah aku.”  (Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 3337 –pent)

19. Memperbanyak istighfar di waktu sahur.
20. Jika ada orang yang mencela, hendaknya dia mengatakan: “Saya sedang berpuasa.”
21. Melatih anak-anak untuk berpuasa sejak usia 7 tahun.
22. Melaksanakan ibadah umroh di bulan Ramadhan.

Sumber artikel:
Mudzakkirah Fii Ahkamis Shiyam

Alih bahasa: Abu Almass
Rabu, 20 Sya’ban 1435 H

*********************************************************************************************************************

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.