Mengenal Lebih Dekat Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Mengenal Syaikh Bin BazMENGENAL LEBIH DEKAT ASY SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH

Ditulis oleh:  Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Akidah (Prinsip Keyakinan) Beliau

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang yang berakidah lurus. Akidah beliau tegak di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta bimbingan generasi terbaik umat ini (as-salafush shalih). Di antara akidah yang mulia itu adalah sebagai berikut:

1. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Rabb semesta alam, Maha Esa (tunggal) dan Mahakuasa. Tiada yang berhak diibadahi selain Dia semata. Dialah satu-satunya tempat bergantung. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan- Nya. Barang siapa mempersembahkan sebuah ibadah kepada selain-Nya, ia telah musyrik dan kafir.

2. Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang mulia bagi Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang terdapat dalam al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua nama Allah Subhanahu wa ta’ala mengandung sifat yang dikandung oleh nama itu. Demikian pula semua sifat Allah Subhanahu wa ta’ala menunjukkan makna zahir (yang tampak) yang dikandungnya tanpa dipalingkan dari makna zahirnya (takwil), atau dianalogikan dengan sesuatu (takyif). Semua itu dinilai sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, tanpa menyerupakannya sedikit pun dengan makhluk-Nya.

3. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berada di atas Arsy-Nya, dan terpisah dengan makhluk sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya. Dia berbicara dengan sifat bicara yang azali (tidak berawal) dan berbicara kapan saja sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana akidah salaf.

4. Meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah Subhanahu wa ta’ala) bukan makhluk. Dari Allah-lah Subhanahu wa ta’ala al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya ia kembali. Barang siapa meyakini bahwa al-Qur’an itu makhluk, ia telah kafir dan keluar dari Islam.

5. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala mempunyai sifat cinta dan ridha, suka dan tidak suka, menghidupkan dan mematikan, marah dan senang, turun setiap malam ke langit dunia dengan sifat turun yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, tidak serupa dengan makhluk-Nya.

6. Meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dapat dilihat oleh orang-orang yang beriman pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka, sebagaimana yang terdapat dalam hadits-hadits sahih.

7. Meyakini bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba Allah Subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya yang diutus kepada seluruh manusia dan jin (tsaqalain). Risalah Islam telah beliau sampaikan seutuhnya, amanat pun telah beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya.

8. Meyakini bahwa para malaikat benar adanya, kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul pilihan benar adanya, para nabi dan rasul benar adanya, hari kebangkitan setelah kematian benar adanya, surga dan neraka benar adanya, timbangan amal di hari kiamat benar adanya, dan telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di hari kiamat benar adanya.

9. Meyakini bahwa syafaat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para nabi, dan orang-orang saleh di hari kiamat benar adanya. Namun, semua itu bergantung pada izin Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap yang memberi syafaat dan keridhaan-Nya kepada yang diberi syafaat.

10. Meyakini bahwa sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah Subhanahu wa ta’ala dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

11. Meyakini bahwa sejelek-jelek perkara dalam agama ini adalah yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam). Setiap perkara dalam agama ini yang diada-adakan (tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah bid’ah, setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka.

12. Meyakini bahwa iman adalah keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

13. Meyakini bahwa takdir Allah Subhanahu wa ta’ala yang baik ataupun yang buruk benar adanya.

14. Meyakini bahwa shalat, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji bagi yang mampu ialah bagian dari rukun Islam yang melengkapi dua kalimat syahadat. Semua itu harus diimani dan diamalkan sesuai dengan bimbingan Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15.Tidak boleh mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali jika melakukan salah satu dari pembatal keislaman. Adapun pelaku dosa besar di bawah dosa syirik, seperti zina, mencuri, memakan harta riba, meminum minuman keras, durhaka kepada kedua orang tua, dll, tidaklah dikafirkan selama tidak menghalalkan kemaksiatan tersebut. Jika meninggal dunia dan belum bertobat dari dosanya, dia di bawah kehendak (masyi’ah) Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika AllahSubhanahu wa ta’ala berkehendak untuk mengampuninya— secara langsung—, ia akan mendapatkan ampunan dan masuk ke dalam surga tanpa disiksa; dan jika Allah Subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk menyiksanya, dia akan disiksa terlebih dahulu, namun tempat kembalinya adalah surga. Tidak seperti Khawarij yang mengkafirkannya, dan tidak pula seperti Murji’ah yang meyakini bahwa pelaku dosa besar—di bawah dosa syirik itu—adalah mukmin yang sempurna keimanannya.

16. Wajib menaati pemerintah kaum muslimin yang adil atau yang jahat sekalipun, selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Jika memerintahkan kepada kemaksiatan, pemerintah tidak boleh ditaati (dalam urusan tersebut) namun masih wajib ditaati dalam hal lain yang bukan kemaksiatan. Disyariatkan jihad bersamanya, walaupun dia seorang yang jahat. Boleh menyalurkan harta sedekah kepadanya (untuk dibagikan kepada yang berhak). Demikian pula, boleh shalat Jum’at dan shalat berjamaah di belakangnya, tanpa harus mengulanginya. Barang siapa mengulanginya, dia tergolong mubtadi’ (pelaku bid’ah).

17. Tidak boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin walaupun dia seorang yang jahat. Berbeda halnya dengan prinsip sesat Khawarij yang mengafirkannya dan mewajibkan memberontak kepadanya. Berbeda pula halnya dengan prinsip sesat Mu’tazilah yang mewajibkan memberontak, walaupun tidak mengafirkannya. Barang siapa memberontak, dia telah menghancurkan tongkat kesatuan kaum muslimin.

18. Seseorang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa ta’ala maka tidak keluar dari empat keadaan:

a. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia lebih utama dari syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

b. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, karena ia sama (sederajat) dengan syariat Islam, sehingga boleh berhukum dengannya dan boleh juga berhukum dengan syariat Islam,” maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

c. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini, namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama, tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah,” maka ia kafir dengan kekafiran yang besar.

d. Seseorang yang mengatakan, “Aku berhukum dengan hukum ini,” namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa ta’ala tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum

dengan selainnya. Tetapi, dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau dia mengerjakannya karena perintah dari atasan, maka dia kafir dengan kekafiran kecil yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.

19. Wajibnya menjaga hati dan lisan dari membenci, mencela, atau melecehkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini, bahkan manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Barang siapa membenci, mencela, atau melecehkan salah seorang dari mereka, dia adalah mubtadi’, hingga benar-benar bertobat dan mendoakan kebaikan untuk sahabat tersebut.

20. Sahabat terbaik adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian yang tersisa dari sepuluh orang yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penduduk jannah (yaitu Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Zubair bin al-Awwam, dan Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail), kemudian para sahabat lainnya.

21. Menahan hati dan lisan terhadap perselisihan yang terjadi di antara para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meyakini bahwa pihak yang benar mendapatkan dua pahala dan pihak yang salah mendapatkan satu pahala. Sebab, mereka semua adalah ahli ijtihad (orang-orang yang berhak berijtihad dalam urusan agama dan umat).

22. Mencintai semua ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) yang beriman, baik dari generasi sahabat maupun yang setelah mereka. Selain itu juga memuliakan para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka adalah para ibu kaum mukminin (ummahatul mukminin) dan termasuk ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Berbeda halnya dengan kelompok Syi’ah yang membenci, bahkan mengafirkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk ummahatul mukminin, di sisi lain memuliakan ahlul bait (orangorang tertentu yang mereka kehendaki) dan berlebihan memuliakan mereka. Tidak pula seperti kelompok Nawashib yang beragama dengan menyakiti ahlul bait (keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Lihat Situs Resmi asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz seputar akidah beliau dan berbagai kitab, risalah, ta’liq, atau fatwa tentang akidah yang terdapat dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Akhlak dan Perangai Beliau

Asy-Abdul Aziz bin Baz rahimahullah kesohor akan akhlak dan perangainya yang mulia. Pertemuan dengan beliau selalu menghadirkan pesan dan meninggalkan kesan. Hal itu karena banyaknya akhlak dan perangai mulia yang terkumpul pada diri beliau. Suatu keistimewaan yang sulit didapati pada diri seorang ulama di zaman ini. Di antara akhlak dan perangai beliau yang mulia itu adalah:

1. Ikhlas dalam beramal karena Allah Subhanahu wa ta’ala.

2. Sangat tawadhu’ (rendah hati), walaupun berkedudukan mulia dan berilmu tinggi.

3. Berpikiran jernih.

4. Tegar, tabah, dan mempunyai etos kerja yang tinggi hingga di usianya yang lanjut.

5. Berbudi pekerti luhur dan penuh pengertian.

6. Dermawan dalam segala hal yang dimiliki; harta, waktu, kesempatan, ilmu, kebaikan, mediator untuk kebaikan, kemurahan, dll.

7. Berkepribadian tenang dan mempunyai daya ingat yang kuat.

8. Stabil dalam hal semangat dan kemauan, tidak goyah dengan berbagai perubahan situasi dan kondisi.

9. Adil dalam memberikan keputusan.

10. Teguh di atas kebenaran dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.

11. Berwawasan luas, berpandangan jauh, dan selalu mengikuti berbagai perkembangan peristiwa di dunia internasional.

12. Keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

13. Zuhud terhadap dunia; harta, pangkat, kedudukan, pujian, dll.

14. Semangat yang tinggi dalam merealisasikan Sunnah (bimbingan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

15. Berjiwa sabar.

16. Murah senyum dan selalu tampak ceria.

17. Sangat menjaga adab dalam berbicara, bermajelis, dll.

18. Setia terhadap guru, kawan, dan orang yang beliau kenal.

19. Menjalin hubungan silaturahmi dengan segenap keluarga.

20. Memerhatikan hak-hak tetangga.

21. Bertutur kata mulia.

22. Jauh dari sikap bangga diri, merendahkan orang lain, atau mencela makanan.

23. Tidak menerima berita kecuali dari orang yang dapat dipercaya.

24. Selalu berbaik sangka terhadap orang lain.

25. Sedikit bicara dan banyak diam.

26. Banyak berzikir dan berdoa.

27. Tidak mengangkat suara ketika tertawa.

28. Sering menangis ketika mendengar bacaan al-Qur’an, dibacakan kepada beliau sejarah para ulama, atau hal-hal yang berkaitan dengan keagungan al-Qur’an dan as-Sunnah.

29. Menerima hadiah dari orang lain dan berusaha untuk membalasnya.

30. Mencintai orang-orang miskin, dekat dengan mereka, dan kerap kali makan bersama-sama mereka.

31. Sangat menjaga efesiensi waktu.

32. Selalu bersemangat mengajak orang lain kepada kebaikan.

33. Jauh dari sifat iri/dengki kepada orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

34. Membalas kejelekan dengan kebaikan.

35. Tidak berlebihan dalam hal menu makanan dan minuman.

36. Memerhatikan janji dan selalu menjaganya.

37. Penuh harap, jauh dari sifat putus asa.

Sepenggal Kisah Cerminan Akhlak Beliau

• Kira-kira 30 tahun sebelum wafat, beliau pernah mendatangi sebuah masjid untuk menyampaikan ceramah. Alas masjid tersebut menggunakan tikar, sedangkan khusus untuk beliau disediakan alas berupa sajadah (permadani). Ketika beliau merasa bahwa alas beliau berbeda dengan keumuman alas di masjid tersebut, digulunglah sajadah itu oleh beliau. Hal itu karena karakter beliau yang tidak suka diistimewakan atas orang lain.

• Pada suatu hari ada seorang pemuda yang menghubungi beliau via telepon seraya berkata, “Wahai Samahatusy Syaikh, umat Islam sangat membutuhkan para ulama yang mempunyai kemampuan berfatwa (mufti). Untuk itu saya mengusulkan kepada Anda agar menempatkan seorang mufti di setiap kota.” Beliau berkata, “Masya Allah, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memperbaikimu. Berapa umurmu?” Pemuda itu menjawab, “13 tahun.” Beliau pun berkata, “Ini usulan yang bagus, berhak untuk mendapat perhatian.” Kemudian beliau menyuruh sang sekretaris pribadi untuk menulis surat kepada penanggung jawab di Hai’ah Kibar Ulama yang isinya, “Amma ba’du, ada masukan dari seorang penasihat bahwa sudah saatnya ada seorang mufti di setiap kota. Kami memandang, usulan ini perlu diteruskan ke al-Lajnah ad- Daimah (Komite Tetap Fatwa) agar bisa kita diskusikan.”

• Ketika asy-Syaikh Dr. Muhammad Taqiyuddin al-Hilali rahimahullah menulis bait-bait syair yang secara berlebihan memuji beliau dan dimuat di Majalah al-Jami’ah as-Salafiyyah India edisi

09/Sya’ban 1397 H, beliau mengirim surat kepada redaksi majalah tersebut, menyampaikan ketidakrelaan beliau terhadap pujian itu dan meminta redaksi memuat ketidakrelaan beliau itu pada edisi berikutnya.

• Pada musim haji tahun 1418 H, saat beliau duduk di sebuah mushalla di Padang Arafah dan dikitari oleh ratusan orang, dihidangkanlah di hadapan beliau buah-buahan yang sudah dipotongpotong. Mengingat, kebiasaan beliau di hari-hari itu (mayoritasnya) tidak makan

selain buah-buahan, kurma, dan yoghurt. Ketika buah-buahan telah terhidang di hadapan beliau, beliau pun bertanya, “Apakah semua yang hadir di sini juga mendapatkan hidangan seperti ini?” Mereka menjawab, “Tidak.” Beliau marah seraya berkata, “Jauhkanlah hidangan ini!”

• Suatu hari (30 tahun sebelum wafat) beliau hendak menjual rumah karena utang yang menumpuk. Hal ini tercium oleh salah seorang pejabat kerajaan dan dia pun segera mengirimkan uang kepada beliau. Sang pejabat berkata, “Telah sampai kepada saya berita bahwa Anda hendak menjual rumah karena kesempitan yang sedang mengimpit. Sungguh, berita itu membuat saya gelisah, kumohon Anda berkenan menerima hadiah dari saya ini3 dan izinkan saya untuk menyampaikan hal ini kepada Raja.” Beliau balas ucapan pejabat itu dengan banyak-banyak terima kasih dan doa kebaikan untuknya lalu berkata, “Berita yang sampai kepada Anda itu benar, karena banyaknya tamu yang berdatangan dan orang-orang yang membutuhkan bantuan baik di kota Riyadh maupun di kota Madinah, namun saya tidak ingin hal ini sampai kepada Raja.”

• Asy-Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baz berkata, “Aku adalah salah seorang putra Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Aku dilahirkan saat ayahku telah berusia di atas 60 tahun. Usia beliau yang sudah lanjut itu, ditambah dengan aktivitas kantor, dakwah, dan fatwa yang sangat padat tidaklah menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi seorang ayah bagiku dan saudara-saudaraku, bahkan untuk umat Islam. Beliau sangat memerhatikan kami selaku anak. Layaknya seorang ayah terhadap anaknya, beliau mencurahkan segenap kasih sayang, pengawasan, nasihat, bimbingan, arahan, bahkan dakwah. Dengan segala cara beliau berupaya untuk menjadi seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya di tengah kesibukan beliau yang sangat padat.” Untuk melengkapi berbagai kisah cerminan akhlak beliau yang mulia, silakan membaca rubrik “Akhlak” dan “Manhaji” pada edisi ini.

Agenda Harian Beliau

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz mempunyai agenda harian yang sangat ketat dan bagus. Dengan taufik dari Allah Subhanahu wa ta’ala, kemudian berkat agenda harian yang tertata itulah berbagai amanat yang berada di pundak beliau dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Berikut ini agenda harian beliau, semoga menjadi teladan bagi kita semua.

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 rakaat dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Beliau pun banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.

2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, -pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Beliau kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu, beliau menunaikan shalat shubuh berjamaah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

3. Setelah dirasa cukup membaca wirid-wirid pagi, beliau memulai taklim (kajian) rutin di masjid tersebut dari beberapa kitab yang dibacakan kepada beliau. Taklim (kajian) rutin itu menghabiskan waktu sekitar 3 jam, bahkan terkadang lebih. Setelah itu, beliau menjawab berbagai pertanyaan agama yang diajukan kepada beliau dengan penuh perhatian dan ketelitian, kemudian pulang ke rumah. Jika berhalangan

3 Permohonan tersebut disampaikan oleh sang pejabat karena asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz dikenal tidak mudah menerima bantuan. Dia khawatir jika bantuannya itu ditolak. mengajar, beliau langsung pulang ke rumah seusai membaca wirid doa dan zikir pagi.

4. Beliau duduk di rumah sekitar dua jam. Beliau manfaatkan kesempatan itu untuk menjawab berbagai persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab dan karya ilmiah. Setelah itu beliau masuk ke bagian dalam rumah guna beristirahat. Tepat pukul 08.00 pagi, beliau keluar dari tempat peristirahatan dan bersiap-siap untuk makan pagi. Setelah makan pagi, beliau berwudhu lalu shalat dua rakaat, kemudian berangkat ke kantor dengan tenang dan kemauan yang kuat. Begitu naik mobil, diajukan kepada beliau beberapa persoalan yang membutuhkan jawaban dari beliau, atau dibacakan kepada beliau beberapa kitab. Setibanya di kantor, beliau turun dari mobil dan berjalan kaki menuju ruangan pribadi beliau. Berbagai tulisan dan persoalan pun diajukan kepada beliau hingga memasuki ruangan tersebut.

5. Di ruangan pribadi tersebut, beliau mengerjakan berbagai tugas harian yang berat dengan penuh semangat, seperti menyelesaikan berbagai kasus dan persoalan yang diajukan kepada beliau, menyambut para delegasi/tamu, mengeluarkan fatwa terkait pertanyaanpertanyaan yang berdatangan dari para penanya, melayani para pengunjung yang sedang mengalami kasus talak, dan sebagainya. Hal ini berlangsung hingga pukul 14.30 siang atau lebih sedikit. Dengan demikian, seringkali beliau menjadi orang yang terakhir keluar dari kantor. Setelah itu beliau pulang ke rumah.

6. Dalam perjalanan menuju rumah (di atas mobil), diajukan kembali kepada beliau berbagai persoalan, atau dibacakan kitab. Jika tidak ada yang membacakan, beliau manfaatkan untuk berzikir dan membaca al-Qur’an. Dalam kesempatan itu pula terkadang beliau manfaatkan untuk mendengarkan siaran berita radio pukul 14.30.

7. Setiba di rumah, beliau langsung disambut oleh banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai keperluan dengan beliau. Ada yang meminta fatwa, ada yang sekadar mengucapkan salam, ada yang mempunyai kasus talak, ada yang meminta bantuan, orang fakir, pejabat, dan pengunjung dari daerah yang dekat ataupun jauh. Beliau ucapkan salam kepada mereka, kemudian mempersilakan para tamu tersebut untuk menyantap hidangan makan siang yang telah disediakan di rumah beliau. Beliau makan siang sembari berbincang dengan mereka, menanyakan keadaan mereka, dan menjawab berbagai pertanyaan mereka.

Setelah dirasa cukup, beliau berhenti dan masih menemani mereka beberapa saat agar mereka tidak terburu-buru menyelesaikan makan. Kemudian beliau berdiri untuk mencuci tangan seraya mengatakan, “Tidak usah terburu-buru, masing-masing hendaknya melanjutkan makannya.” Ketika beliau berdiri menuju tempat cuci tangan, mulailah diajukan berbagai pertanyaan kepada beliau. Setelah mencuci tangan, beliau kembali ke tempat yang semula. Jika waktu agak sempit dan masuk waktu ashar, maka beliau mengambil air wudhu, menjawab azan lalu berangkat ke masjid. Namun, jika masih tersisa banyak waktu, beliau

meluangkan waktu untuk duduk-duduk bersama para tamu sambil minum teh dan memakai minyak wangi, kemudian masuk ke dalam rumah sejenak. Beliau keluar saat dikumandangkan azan ashar guna berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat ashar.

8. Seusai shalat ashar, imam masjid membacakan beberapa poin dari kitab Riyadhush Shalihin, al-Wabilush Shayyib, atau Kitabut Tauhid, atau yang lainnya, lalu beliau menerangkannya kepada para jamaah. Berikutnya, beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan di majelis tersebut. Kemudian beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju rumah pun, beliau masih menjawab banyak pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang berjalan mengiringi beliau.

9. Menjelang maghrib, beliau mengambil air wudhu lalu pergi ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Seusai shalat, beliau pulang ke rumah dan melakukan shalat ba’diyah maghrib. Kemudian beliau duduk bersama orangorang yang mengunjungi beliau dengan problemnya masing-masing. Hal itu jika tidak ada jadwal mengajar atau memberikan catatan penting dalam acara seminar.

10. Saat azan isya dikumandangkan, beliau menjawabnya, lalu beranjak menuju masjid untuk menunaikan shalat isya. Ketika tiba di masjid, beliau menunaikan shalat tahiyatul masjid. Seusai shalat sunnah tersebut, imam masjid segera membacakan beberapa hadits untuk diterangkan kepada para jamaah oleh beliau. Setelah itu beliau menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan. Kemudian ditnuaikanlah shalat isya.

11. Seusai shalat isya, jika tidak ada janji di luar rumah, ceramah, undangan khusus, undangan walimah nikah, mengunjungi orang sakit, atau agenda yang semisalnya, beliau langsung pulang ke rumah. Beliau manfaatkan waktu tersebut untuk membaca beberapa persoalan yang membutuhkan solusi, atau memuraja’ah beberapa kitab. Terkadang ada acara rapat di rumah beliau, terkadang pula kedatangan para tamu, atau ada rekaman untuk siaran radio, atau ceramah via telepon untuk kaum muslimin di luar negeri.

12. Setelah itu, beliau makan malam bersama para tamu, para pegawai di kantor pribadi (di rumah) beliau, dan siapa saja yang hadir saat itu. Selepas makan malam, beliau melanjutkan pekerjaan yang dilakukan sebelum makan malam, atau melanjutkan perbincangan dengan para tamu beliau, atau duduk untuk membaca beberapa kitab, atau menyelesaikan beberapa persoalan yang membutuhkan solusi dari beliau hingga larut malam. Terkadang hingga pukul 23.00 atau pukul 24.00 malam. Kemudian beliau masuk ke bagian dalam rumah, lalu berjalan-jalan sekitar 30 menit, setelah itu beranjak tidur. Demikianlah agenda harian asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang penuh ilmu, hikmah, derma, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya. Semoga menjadi teladan dan pelajaran berharga bagi kita semua. Amin.

Sumber Bacaan:

• Majmu’ Fatawa Ibn Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

• Asy-Abdul Aziz bin Baz Namudzaj Minar Ra’ilil Awwal, karya Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, program al- Maktabah asy-Syamilah.

• Al-Mauqi’ ar-Rasmi lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz (Situs Resmi asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

• Durus lisy Syaikh Abdil Aziz bin Baz, program al-Maktabah asy-Syamilah.

—————————————————

Sumber : Makalah Asy Syariah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.