MEMBUNGKAM SYUBHAT BAHWA SALAFIYUN HANYA MEMBATASI PADA TIGA ATAU EMPAT ULAMA SAJA DALAM JARH WA TA’DIL

? MEMBUNGKAM SYUBHAT BAHWA SALAFIYUN HANYA MEMBATASI PADA TIGA ATAU EMPAT ULAMA SAJA DALAM JARH WA TA’DIL ?

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah

Pertanyaan Kelima: Semoga Allah senantiasa mencurahkan kebaikannya kepada Anda, sebagian pihak ada yang mencela Salafiyun bahwa mereka tidak memiliki kecuali tiga atau empat masayikh dan mereka tidak mau mengambil kecuali ucapan para masayikh tersebut dalam jarh wa ta’dil, maka apa nasehat Anda? Semoga Allah senantiasa menjaga Anda.

Jawaban:

Tidak merugikan, biarkan mereka ngomong semaunya. Di zaman fitnah, siapa yang jadi rujukan di masa al-Imam Ahmad? Ahmadlah yang menjadi rujukan, semua pandangan tertuju kepada Ahmad. Jadi yang menjadi parameter adalah siapa yang berada di atas as-Sunnah. Ahmad ketika ditanya, “Siapakah yang dimaksud dengan al-Jama’ah?” Beliau menjawab, “Abu Hamzah (Muhammad bin Maimun) as-Sukkary. Allahu Akbar, Abu Hamzah as-Sukkary dialah al-Jama’ah. Sufyan ats-Tsaury mengatakan: “Seandainya satu orang fakih saja -maksudnya seorang Ahlus Sunnah- di atas puncak gunung, sungguh dialah al-Jama’ah.”

Mereka ini tidak teranggap ucapannya, ini merupakan teror dan upaya menciptakan kekacauan yang tidak akan merugikan Ahlus Sunnah, walillahil hamdu. Jangan tertipu dengan mereka. Orang-orang yang selamat itu sedikit, sedangkan orang-orang yang binasa itu banyak. Ini yang pertama.

Kedua: Berapa banyak para perawi hadits? Berapa banyak penghafal hadits? Tetapi siapakah yang perkataanya dijadikan sandaran dalam jarh wa ta’dil?! Sangat sedikit. Lihatlah risalah yang ditulis oleh adz-Dzahaby rahimahullah yang berjudul “Dzikru Man Yu’tamadu Qauluhu fil Jarh wat Ta’dil.” Perhatikan ungkapan beliau “Siapa Yang Perkataannya Dalam Jarh wa Ta’dil.” Jadi tidak semua orang yang berbicara bisa dijadikan sandaran ucapannya! Hanyalah yang dijadikan sandaran adalah orang yang memiliki ma’rifah (pengetahuan) dan khibrah (pengalaman).

Seorang yang menjarh dan menta’dil wajib selalu merasa diawasi oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam ucapannya, dan hendaknya dia mengetahui bahwa kehormatan manusia adalah jembatan di atas bibir Jahannam yang dilewati oleh dua kelompok manusia; yaitu para hakim dan ahli hadits. Para hakim menerima celaan yang mencacati terhadap para saksi dalam rangka menjaga darah manusia, harta dan kehormatan mereka. Demikian pula ahli hadits mereka mencela dan menerima celaan terhadap manusia dalam rangka menjaga hadits Rasulullah shallallahu alaihi was sallam dan Sunnah beliau. Dan orang-orang yang dijadikan sandaran dalam masalah ini sedikit. Jadi para perawi penghafal hadits dan para periwayat hadits jumlahnya ribuan, tetapi yang ucapan mereka dijadikan sandaran dalam masalah jarh wa ta’dil sangat sedikit sekali.

Jadi seorang yang menjarh dan menta’dil harus takut kepada Allah, dia tidak boleh berbicara kecuali dengan ilmu sehingga dia adalah orang yang memiliki ilmu dan kehati-kehatian yang sangat. Dia juga hendaknya memiliki pengalaman tentang manusia, keadaan mereka, hari-hari mereka, jalan yang mereka tempuh, aqidah mereka, dan riwayat-riwayat mereka. Di samping itu dia harus bertakwa, zuhud, dan wara’. Dia tidak boleh dipengaruhi oleh emosi dan tidak boleh cenderung kepada hawa nafsu. Dia tidak boleh didorong oleh emosi sehingga menjarh pihak yang tidak boleh dijarh, namun juga tidak boleh dipengaruhi oleh hawa nafsu sehingga mendiamkan pihak yang wajib untuk dijarh.

Dan di atas semua itu hendaknya dia seorang yang cerdas dan mengetahui keadaan manusia dan jangan sampai dia terkecoh olah sikap main-main mereka. Jadi berapa banyak seorang penghafal hadits dan berapa banyak seorang muhaddits, tetapi syarat-syarat ini tidak ada pada dirinya, sehingga dia tidak termasuk ahli jarh wa ta’dil.

Berapa kali saya katakan kepada kalian: para penghafal hadits banyak, para perawi hadits lebih banyak lagi, tetapi kritikus dan ahli jarh sangat sangat sedikit. Mereka adalah siapa yang pada dirinya terkumpul sifat-sifat ini dan selainnya yang disebutkan oleh para ulama hadits. Yaitu sifat-sifat yang wajib terpenuhi semua pada seorang penjarh. Tidak semua kritikus layak menjadi kritikus.

Maka tidak perlu menggubris ucapan-ucapan semacam ini. Kita memohon taufik dan kelurusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sumber Audio:
http://goo.gl/oVp9eC

? http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=154677

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.