MEMBELA ASY-SYAIKH HANI BIN BURAIK HAFIZHAHULLAH DARI CELAAN AHLUL AHWA

MEMBELA ASY-SYAIKH HANI BIN BURAIK HAFIZHAHULLAH DARI CELAAN AHLUL AHWA

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻻﻩ ﻭﺑﻌﺪ:

Sesungguhnya apa yang disebutkan oleh si penggembos al-Bura’iy dan pengekornya serta siapa saja yang membebek mereka dan menempuh jalan mereka benar-benar menunjukkan beberapa perkara:

1. Hasad dan kedengkian mereka terhadap Ahlus Sunnah secara umum dan secara khusus terhadap Menteri Hani bin Buraik, semoga Allah menjadikan langkah beliau senantiasa lurus. Karena sesungguhnya yang wajib atas mereka adalah mendukung beliau dan mendoakan untuk beliau agar diberi taufik dan kelurusan. Namun mereka tidak melakukan hal itu, justru Allah mengeluarkan kedongkolan mereka disebabkan beliau mendapatkan jabatan ini.

2. Mereka tidak melaksanakan perintah Allah dalam firman-Nya:

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻣْﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﻦِ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﺨَﻮْﻑِ ﺃَﺫَﺍﻋُﻮﺍ ﺑِﻪِ ۖ ﻭَﻟَﻮْ ﺭَﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻭَﺇِﻟَﻰٰ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠِﻤَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮﻥَﻩُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ۗ ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻟَﺎﺗَّﺒَﻌْﺘُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ‏

”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka segera menyiarkannya. Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengambil sikap yang tepat akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, pasti kalian mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja diantara kalian.”QS. An-Nisa’: 83

Jadi asy-Syaikh Hani telah meminta bimbingan kepada para ulama Ahlus Sunnah yang memiliki pengalaman, wawasan, dan pandangan yang jauh. Lalu para ulama itu mengarahkan agar beliau menyetujui tawaran jabatan tersebut.

3. Mereka melakukan kemaksiatan berupa celaan terhadap pemerintah mereka yaitu seorang menteri salafy Hani bin Buraik. Dan termasuk tanda-tanda ahli bid’ah adalah mencela pemerintah mereka. Jadi wajib atas mereka untuk berhenti mencela beliau, karena beliau telah menjadi salah seorang pemimpin mereka, sama saja mereka ridha ataupun tidak. Bahkan kita menuntut mereka agar bertaubat dan rujuk dari apa yang telah mereka sebarkan dan meminta maaf kepada menteri mereka. Dan kita juga mengingatkan mereka dengan sabda Rasulullah shallahu alaihi was sallam:

ﻣَﻦْ ﺃَﻫَﺎﻥَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻫَﺎﻧَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪُ

“Siapa saja yang menghinakan penguasa Allah maka Allah akan menghinakan mereka.” (Lihat: Ash-Shahihah, V/376 -pent)

4. Mereka lebih memuliakan para pencela Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, membela para pencela itu, dan menganggap mereka sebagai pemimpin, serta memberi mereka gelar-gelar kebesaran, dengan merendahkan seorang syaikh yang mulia yang dipersaksikan oleh para ulama dan orang-orang yang memiliki keutamaan sebagai seorang pemberani, ksatria, dan membela para Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, serta membantah ahli bid’ah dengan perkataan dan perbuatan beliau.

Jadi siapakah yang lebih pantas untuk dicintai dari keduanya, apakah orang yang suka mencela para Shahabat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam ataukah orang yang selalu membela mereka?!

Maka kalian berada diantara dua pilihan yang paling manis dari keduanya pun pahit rasanya.

5. Sikap kontradiksi dan sikap wara’ dusta mereka. Jadi mereka mendorong para murid mereka agar tidak masuk ke dalam fitnah dan agar mereka menyibukkan diri menuntut ilmu saja, dan itu terjadi ketika para ulama menjelaskan kebathilan Watsiqah yang penuh kekafiran yang ditandatangani oleh syaikh mereka al-Ma’bary itu. Namun ketika asy-Syaikh Hani menjadi seorang menteri maka mereka masuk terlalu jauh ke dalam fitnah serta berbicara yang bathil dan penuh dengan kedustaan.

Bukankah yang lebih utama adalah dengan kalian menyibukkan diri menuntut ilmu sebagaimana yang kalian ajakkan?!

6. Siapakah yang merasa marah terhadap kemenangan yang diraih Ahlus Sunnah di Yaman, apakah dia adalah Menteri ataukah al-Imam yang terus kalian bela?!

Bahkan dia (al-Bura’iy) tidak pernah mengkritik orang yang senang terhadap pertolongan untuk mereka (Hutsiyah) dan marah terhadap kekalahan mereka !!

Yang jelas bagaimanapun sungguh sikap al-Bura’iy, al-Ma’bary, ar-Razihy, serta para pengekor mereka adalah sikap yang sangat buruk dan hina yang menunjukkan kerendahan dan kehinaan mereka.

Dan hendaklah kalian mengetahui sikap al-Bura’iy yang pendusta berdasarkan berita dengan sanad yang terpercaya berikut ini:
Guru kita yang mulia Abu Ammar Ali al-Hudzaify hafizhahullah berkata, “Muhammad Ba Zaqamah al-Jaisyany telah menceritakan kepada saya dari al-Akh Ahmad ad-Da’iy al-Yafi’iy bahwasanya ketika Hutsiyah masuk ke kota al-Baidha’, al-Bura’iy menghubungi telepon genggamnya, namun ternyata dia mendapatinya sedang tidak aktif. Maka dia pun menghubungi Shalih al-Ghusyamy dan mengatakan kepadanya: ‘Katakan kepada Ahmad ad-Da’iy agar dia jangan berperang dan biarkanlah Hutsiyah masuk!’ Maksudnya dari arah Yafi’.”

Malam Selasa, 2 Rabi’uts Tsany 1437 H

Ditulis oleh: Fawwaz bin Ali al-Madkhaly

Sumber: Saluran Telegram asy-Syaikh Fawwaz bin Ali al-Madkhaly “Amliud Dunya Ilman”

—————————————————————-

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﻭﺍﻻﻩ ﻭﺑﻌﺪ:

ﻓﺈﻥ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻩ ﺍﻟﻤﺨﺬﻝ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ ﻭﺫﻧﺒﻪ ﺍﻟﺮﺍﺯﺣﻲ ﻭﻣﻦ ﻟﻒ ﻟﻔﻬﻢ ﻭﺳﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻃﺮﻳﻘﺘﻬﻢ ﻟﻴﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﺓ ﺃﻣﻮﺭ:

-1 ﺣﺴﺪﻫﻢ ﻭﺣﻘﺪﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻋﻤﻮﻣﺎ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ﻫﺎﻧﻲ ﺑﻦ ﺑﺮﻳﻚ ﺳﺪﺩﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﺼﻮﺻﺎ، ﺇﺫ ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﺴﺎﻧﺪﻭﻩ ﻭﻳﺪﻋﻮﻥ ﻟﻪ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺍﻟﺴﺪﺍﺩ ﺇﻻ ﺃﻧﻬﻢ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻮﺍ ﺫﻟﻚ؛ ﺑﻞ ﺃﺧﺮﺝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺿﻐﺎﻧﻬﻢ ﺑﺘﻮﻟﻴﻪ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﺼﺐ.

-2 ﻟﻢ ﻳﻤﺘﺜﻠﻮﺍ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ‏(ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻣْﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﻦِ ﺃَﻭِ ﺍﻟْﺨَﻮْﻑِ ﺃَﺫَﺍﻋُﻮﺍ ﺑِﻪِ ۖ ﻭَﻟَﻮْ ﺭَﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻭَﺇِﻟَﻰٰ ﺃُﻭﻟِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻠِﻤَﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻨْﺒِﻄُﻮﻥَﻩُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ۗ ﻭَﻟَﻮْﻟَﺎ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻟَﺎﺗَّﺒَﻌْﺘُﻢُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﺇِﻟَّﺎ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ‏)

ﻓﺎﻟﺸﻴﺦ ﻫﺎﻧﻲ ﺍﺳﺘﺸﺎﺭ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﻤﻦ ﻟﺪﻳﻬﻢ ﺍﻟﺨﺒﺮﺓ ﻭﺍﻟﺪﺭﺍﻳﺔ ﻭﺑﻌﺪ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻓﺄﺷﺎﺭﻭﺍ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ.

-3 ﺍﺭﺗﻜﺎﺑﻬﻢ ﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﻭﻟﻲ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ ﻫﺎﻧﻲ ﺑﻦ ﺑﺮﻳﻚ، ﻭﻣﻦ ﻋﻼﻣﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﻭﻻﺓ ﺃﻣﺮﻫﻢ، ﻓﻌﻠﻴﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﻔﻮﺍ ﻋﻦ ﺍﻟﻄﻌﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﻘﺪ ﺃﺻﺒﺢ ﻭﻟﻲ ﺃﻣﺮﻫﻢ ﺳﻮﺍﺀ ﺭﺿﻮﺍ ﺃﻡ ﻟﻢ ﻳﺮﺿﻮﺍ؛ ﺑﻞ ﻭﻧﻄﺎﻟﺒﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻮﺑﺔ ﻭﺍﻟﺮﺟﻮﻉ ﻋﻤﺎ ﻧﺸﺮﻭﻩ ﻭﺍﻻﻋﺘﺬﺍﺭ ﻟﻮﺯﻳﺮﻫﻢ ﻭﻧﺬﻛﺮﻫﻢ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ‏(ﻣﻦ ﺃﻫﺎﻥ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻫﺎﻧﻪ ﺍﻟﻠﻪ)

-4 ﺗﻔﻀﻴﻠﻬﻢ ﻟﺸﺎﺗﻤﻲ ﺻﺤﺎﺑﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺩﻓﺎﻋﻬﻢ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺍﻋﺘﺒﺎﺭﻫﻢ ﻭﻟﻲ ﺃﻣﺮ ﻟﻬﻢ ﻭﺇﻃﻼﻕ ﺃﻟﻘﺎﺏ ﺍﻟﺘﻔﺨﻴﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﺷﻴﺦ ﻓﺎﺿﻞ ﻣﺸﻬﻮﺩ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻔﻀﻞ ﺑﺎﻟﺸﺠﺎﻋﺔ ﻭﺍﻟﺒﻄﻮﻟﺔ ﻭﺩﻓﺎﻋﻪ ﻋﻦ ﺻﺤﺎﺑﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺑﻘﻮﻟﻪ ﻭﻓﻌﻠﻪ.
ﻓﺄﻳﻬﻤﺎ ﺃﻭﻟﻰ ﺑﺎﻟﻤﺤﺒﺔ ﻣﻦ ﻳﻄﻌﻦ ﻓﻲ ﺻﺤﺎﺑﺔ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻡ ﻣﻦ ﻳﺪﺍﻓﻊ ﻋﻨﻬﻢ؟
ﻓﺄﻧﺘﻢ ﺑﻴﻦ ﺧﻴﺎﺭﻳﻦ ﺃﺣﻼﻫﻤﺎ ﻣﺮ ﻛﻤﺎ ﻳﻘﺎﻝ.

-5 ﺗﻨﺎﻗﻀﻬﻢ ﻭﻭﺭﻋﻬﻢ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ ﺇﺫ ﺇﻧﻬﻢ ﻳﺤﺜﻮﻥ ﻃﻼﺑﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﺪﺧﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭﺍﻻﻧﺸﻐﺎﻝ ﺑﻄﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﺫﻟﻚ ﺣﻴﻨﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﻄﻼﻥ ﺍﻟﻮﺛﻴﻘﺔ ﺍﻟﻜﻔﺮﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﻗﻌﻬﺎ ﺷﻴﺨﻬﻢ ﺍﻟﻤﻌﺒﺮﻱ، ﻭﺣﻴﻨﻤﺎ ﺗﻮﻟﻰ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻫﺎﻧﻲ ﺍﻟﻮﺯﺍﺭﺓ ﺧﺎﺿﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭﺗﻜﻠﻤﻮﺍ ﺑﺎﻟﺒﺎﻃﻞ ﻭﺍﻟﻜﺬﺏ.
ﺃﻟﻴﺲ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺃﻥ ﺗﻨﺸﻐﻠﻮﺍ ﺑﻄﻠﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻛﻤﺎ ﺗﺪﻋﻮﻥ؟

-6 ﻣﻦ ﺃﻏﺎﻇﻪ ﺍﻧﺘﺼﺎﺭ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻤﻦ ﻫﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻮﺯﻳﺮ ﺃﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺪﺍﻓﻌﻮﻥ ﻋﻨﻪ؟
ﺑﻞ ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻘﺪ ﻣﻦ ﻓﺮﺡ ﻟﻨﺼﺮﻫﻢ ﻭﻏﻀﺐ ﻟﺪﺣﺮﻫﻢ.
ﻭﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﻓﺈﻥ ﻣﻮﻗﻒ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ ﻭﺍﻟﻤﻌﺒﺮﻱ ﻭﺍﻟﺮﺍﺯﺣﻲ ﻭﺃﺗﺒﺎﻋﻬﻢ ﻣﻮﻗﻒ ﺳﻲﺀ ﻣﺨﺰﻱ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﺧﺴﺘﻬﻢ ﻭﺩﻧﺎﺀﺗﻬﻢ.

ﻭﻟﺘﻌﺮﻓﻮﺍ ﻣﻮﻗﻒ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ ﺇﻟﻴﻜﻢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﺑﺎﻟﺴﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺛﻮﻕ:
‏(ﻗﺎﻝ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﺍﻟﻤﻔﻀﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻤﺎﺭ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﺤﺬﻳﻔﻲ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
ﺣﺪﺛﻨﻲ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﺎ ﺯﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺠﻴﺸﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﺍﻷﺥ ﺃﺣﻤﺪ ﺍﻟﺪﺍﻋﻲ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ؛ ﺃﻧﻪ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺤﻮﺛﺔ ﻣﺪﻳﻨﺔ ﺍﻟﺒﻴﻀﺎﺀ، ﺍﺗﺼﻞ ﺍﻟﺒﺮﻋﻲ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﻟﻪ، ﻓﻮﺟﺪﻩ ﻣﻐﻠﻘﺎ، ﻓﺎﺗﺼﻞ ﻋﻠﻰ ﺻﺎﻟﺢ ﺍﻟﻐﺸﺎﻣﻲ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ:
“ﻗﻞ ﻷﺣﻤﺪ ﺍﻟﺪﺍﻋﻲ ﻻ ﻳﻘﺎﺗﻞ، ﻳﺘﺮﻙ ﺍﻟﺤﻮﺛﺔ ﻳﺪﺧﻠﻮﻥ”
ﺃﻱ: ﻣﻦ ﺟﻬﺔ ﻳﺎﻓﻊ.

?  ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﺜﻼﺛﺎﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺎﻡ 1437 ﻩ

ﻛﺘﺒﻪ: ﻓﻮﺍﺯ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺍﻟﻤﺪﺧﻠﻲ
2/4/1437 ﻫﺠﺮﻱ
12/1/2016 ﻧﺼﺮﺍﻧﻲ

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.