Membaca Kita-Kitab Rudud Akan Menguatkan Tauhid

Membaca Kitab RududMEMBACA KITAB-KITAB RUDUD AKAN MENGUATKAN TAUHID

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh hafizhahullah {Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi}

Saya mewasiatkan kepada kalian dengan sebuah wasiat: tema-tema ini akan dipahami lebih banyak dengan menelaah kitab-kitab rudud (bantahan), karena di sini masalah dijelaskan dengan penjelasan permulaan tanpa disebutkan bantahan dan tanpa disebutkan syubhat. Tetapi jika engkau menelaah kitab-kitab rudud, akan menjadi jelas bagimu sisi-sisi pendalilan, akan menjadi jelas bagimu sisi-sisi hujjahnya. Engkau akan melihat bahwa ulama ini membawakan hujjah-hujjah yang tidak dibawa oleh ulama yang lain, sesuai dengan ilmu yang dikaruniakan kepada masing-masing dari mereka berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jadi dengan menelaah kitab-kitab rudud maka akan menjadi kuat materi utama dari tauhid yang dipelajarinya, dan dia juga akan memiliki bukti yang jelas terhadap kesesatan orang-orang musyrik dan memiliki hujjah untuk membantah ahli khurafat, dan juga akan memiliki semangat untuk membela tauhid Allah. Karena jika dia mendengar bahwa ini adalah syirik dan itu bukan syirik, bisa jadi dia tidak memahaminya. Tetapi jika menyebar ucapan para mubtadi’ dan ucapan ahli khurafat dan bagaimana mereka berusaha untuk merobohkan tauhid para nabi dan para rasul, serta memalingkan manusia dan hati mereka agar berdoa kepada selain Allah, beristighatsah kepada selain Allah, dan mengarahkan mereka kepada kuburan, kepada para penghuni kuburan, kepada spara wali dan semisalnya, maka di hatinya akan muncul kemarahan untuk membela agama dan tauhidnya, di dalam hatinya akan muncul marah yang mendidih karena masalah ini yang itu merupakan perkara yang paling agung, yaitu tauhid.

Oleh karena inilah maka bacalah kitab-kitab rudud, hal itu bagi kalian akan membangkitkan sikap menjauhi orang-orang yang mengarahkan manusia kepada perbuatan menyembah selain Allah atau orang-orang yang tidak mengingkari kemungkaran yang besar ini dan mendiamkannya, karena jika dia mendiamkan kesyrikan ini maknanya hal itu termasuk bentuk persetujuan terhadapnya. Ketika dia melihat orang-orang musyrik berbuat syirik, dia mengatakan: “Jangan engkau ingkari!” Hal itu apa artinya?! Maknanya tauhid bagi dia tidak penting. Jika engkau membaca kitab-kitab rudud, engkau akan tahu makna memuliakan Allah dan mengagungkannya, makna mengesakan Allah dalam ibadah, dan makna bahwa perkara ini yaitu tauhid adalah inti dari risalah yang dibawa oleh para rasul dan merupakan perkara yang paling agung yang dibawa oleh para rasul. Adapun yang lainnya berupa syariat, hukum-hukum, dan perkara-perkara detail lainnya itu sifatnya mengikuti dasar pokok yang agung ini dan merupakan perkara yang dengannya tegak langit dan bumi, dan dengan tujuan itu pula manusia dan jin diciptakan. Jadi jika demikian tidak aneh jika orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Rabbnya memiliki perhatian yang besar terhadapnya.

Semua kitab karya para imam dakwah semuanya, karena masalah ini yang padanya terjadi permusuhan, pada bab inilah yaitu istighatsah dan doa terjadi permusuhan. Bacalah semuanya. Mulailah dengan kitab Ash-Sharim Al-Munky Fir Radd Ala As-Subky, dan kitab para imam dakwah semuanya seperti karya-karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, mulai dari Kasyfus Syubuhat dan tulisan-tulisan yang lainnya dalam bab ini. Itu sebagai bentuk penjagaan (dari kesyirikan –pent) bagi seseorang.

Apakah kitab-kitab yang lain juga ada? Semuanya mungkin bisa kita jumpai. Jika ada kemudahan kita dapatkan. MAKA HENDAKNYA KALIAN MEMILIKI PERHATIAN TERHADAP KITAB-KITAB RUDUD KARENA DENGANNYA HUJJAH AKAN MENJADI KUAT DAN AKAN KOKOH DALAM INGATAN. Adapun seperti ucapan yang ada di masa ini: “Diamlah, jangan mengingkari, karena ini hanya akan memecah belah umat, jangan mengingkari syirik, demikian juga pembicaraan manusia tentang tauhid!” Ini adalah kesesatan yang nyata, karena Allah Jalla wa Ala telah menghukumi orang-orang musyrik dengan firman-Nya:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُوْ مِنْ دُوْنِ اللهِ.

“Dan siapakah yang lebih sesat dibandingkan orang yang berdoa kepada selain Allah.” (QS. Al-Ahqaf: 5)

Jadi siapa saja yang menghadapi kesesatan orang lain dengan mengingkarinya maka hakekatnya dia tidak menerima kesesatan tersebut, karena seandainya kita sepakat bahwa berdoa kepada selaian Allah ini adalah puncak kesesatan dan kesesatan terbesar, pasti dia akan menghadangnya dan hatinya akan marah, karena doa merupakan murni hak Allah saja.

Sumber artikel:
http://tinyurl.com/ktnlzrx

Download Audio Di Sini

Alih bahasa: Abu Almass
Kamis, 8 Dzulqa’dah 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.