Maksud Hadits: “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa”

MaksudHadits1a

Maksud Hadits: ‘Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa’

Penanya dari Libia mengatakan: “Hadits ‘Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa’ apakah yang dimaksudkan di sini adalah puasa secara umum atau bagaimana? Apakah puasa ini bila ditinjau dari sisi wali mayyit menjadi kewajiban wali orang yang meninggal, atau sekedar perbuatan kebaikan kepada orang tersebut? Siapakah wali dari orang yang meninggal menurut pendapat yang kuat?

Jawaban:

Hadits ini diperbincangkan (maknanya) oleh para ulama.
Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hadits ini tentang puasa sunnah saja, bukan puasa wajib.

Adapun mayoritas ahlul hadits berpendapat bahwa hadits ini sifatnya umum, dan puasa itu hendaknya ditunaikan bagi orang yang sudah meninggal, sama saja apakah puasa itu wajib, puasa kaffarah, atau puasa nadzar. Ini adalah pendapat ahlul hadits. Dan ini memang zhahir (makna tekstual) hadits.

Namun sebaiknya diketahui bahwa penunaian puasa bagi orang yang meninggal, hukumnya tidak wajib bagi walinya. Karena di sana ada yang menjadi penggantinya, yaitu kaffarah. Jadi wali orang yang meninggal hendaknya berpuasa untuk menunaikan hutang puasa orang tersebut bila dipastikan ia memiliki hutang puasa. Di sini wajib bagi wali-wali orang yang meninggal untuk menunaikan hutang puasa tersebut, dan mereka memiliki pilihan di dalam penunaian atau penggantian puasa ini; dengan berpuasa, atau dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Yang demikian ini lebih utama menurut jumhur ahlul hadits. -Dan hanya Allah yang dimintai pertolongan-

Adapun wali-wali orang yang meninggal, mereka diperselisihkan. Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka adalah ashabah dari orang tersebut yang mewarisinya baik dari sisi hitungan furudh maupun dari sisi perhitungan ashabah. Pendapat ini terhitung termasuk pendapat yang paling bagus.

Diterjemah Oleh: Ummu Maryam Latifah al Atsariyah

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

المقصود بحديث: من مات وعليه صوم.

سائل من ليبيا يقول: حديث: «من مات وعليه صيام، هل المقصود عموم الصوم أم ماذا؟ وهل هذا الصوم في حق وليه واجب، أم هو من باب البر بالميت؟ ومن هو الولي في القول الراجح؟

ج: هذا الحديث لأهل العلم فيه كلام، أما جمهور الفقهاء فيقولون: هذا في صيام النفل، لا في صيام الفريضة.

وأما كثير من أهل الحديث؛ فيرون أن هذا الحديث عام، وأن الصيام يقضى عن الميت، سواء كان الصيام فرضًا أو كان كفارة، أو كان صيام نذر، وهذا قول أهل الحديث هو ظاهر الحديث، لكن ينبغي أن يُعلم أن قضاء الصيام عن الميت ليس بواجب؛ إذ أن هنالك بديلا وهو: الكفارة، فلأولياء الميت أن يصوموا عن ميتهم إذا تقرر أن على ميتهم دين صوم، هنا يجب عليهم أن يقوموا بقضائه، ولهم في هذا القضاء أن يصوموا، ولهم أن يطعموا عن كل يوم مسكينًا، وهذا عند الجمهور أفضل، والله المستعان.

أما الأولياء؛ فمختلف فيهم، فمنهم من يقول: هم عصبة الميت الذين يرثونه بالفرض والتعصيب، وهذا يعد من أحسن الأقوال.

Sumber : http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=918

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.