Kritikan Ilmiyah Terhadap Kitab Al-Ibanah Karya Muhammad Al Imam ~ Bagian 3

Kritikan Ilmiyah Terhadap Kitab Al Ibanah Karya Muhammad al Imam3KRITIKAN ILMIYAH TERHADAP KITAB AL-IBANAH KARYA MUHAMMAD AL-IMAM – 3

Asy-Syaikh Abu Ammar Ali Al-Hudzaify hafizhahullah

5.  Muhammad Al-Imam berkata dalam Al-Ibanah hal. 115 (pada cetakan baru di hal. 131 –pent):

قاعدة: كثرة محاسن العالم مانعة من القدح فيه.

“Kaedah: Banyaknya kebaikan seorang ulama menghalangi untuk mencelanya.”

Dia juga berkata dalam Al-Ibanah hal. 126 (pada cetakan baru di hal. 143 –pent):

العبرة بطريقة أهل الاستقامة لا بهفواتهم وزلاتهم.

“Yang menjadi tolak ukur adalah dengan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang istiqamah, bukan dengan keterjatuhan dan tidak pula dengan ketergilinciran mereka.”

Dia juga berkata dalam Al-Ibanah (pada cetakan baru di hal. 143 –pent):

ينبغي أن يعلم أن ما يحصل منهم من زلات وهفوات لا يصح الاعتماد عليها ولا اعتبارها أصلا للحكم العام على صاحبها، بل الاعتماد على سيرتهم التي عرفوا بها وأحوالهم التي استمروا عليها، مع بقاء الحكم بالخطأ على صاحب الزلات والهفوات.

“Sepantasnya untuk diketahui bahwa apa yang muncul dari mereka berupa ketergilinciran dan keterjatuhan tidaklah tepat untuk menjadikannya sebagai sandaran atau penilaian bagi vonis secara umum terhadap pelakunya sama sekali, tetapi yang dijadikan sandaran adalah perjalanan hidup mereka yang dengannya mereka dikenal dan juga keadaan mereka yang mereka terus berada di atasnya, di samping tetap memvonis salah terhadap orang melakukan ketergelinciran dan keterjatuhan tersebut.”

Saya katakan: Ini tidak bersifat mutlak, ketergelinciran yang menghalangi dari celaan terhadapnya disyaratkan jika kesalahan tersebut kecil dan muncul dari ijtihad karena pelakunya tidak mengetahui nash yang dia selisihi, dan ungkapan-ungkapan para ulama yang dinukil oleh penulis berputar sekitar ini. [1] Berdasarkan apa yang telah lalu, terkadang seseorang keluar dari lingkup Ahlus Sunnah hanya dengan satu penyimpangan saja, walaupun penyimpangan ini terjadi setelah sekian tahun dia di atas ilmu dan amal shalih. Jadi ketika itu tidak harus memperhatikan banyaknya kebaikan-kebaikannya, tetapi cukup dengan memperhatikan seberapa besar kadar penyimpangan tersebut. Buktinya para imam kita telah memvonis sebagian orang hanya dengan sebab satu penyimpangan saja. Diantara mereka ada yang hidup di masa ini, jadi setelah sekian tahun lamanya dia di atas ilmu lalu dia memvonis salah seorang Shahabat sebagai seorang yang fasiq yang hal tersebut jelas menyelisihi ijma’, dan dia pun telah dinasehati namun menolak dan menyombongkan diri, sehingga para ulama pun menggabungkannya dengan para pengekor hawa nafsu. Maka bagaimana mungkin kaedah semacam ini akan diterapkan terhadapnya?!

6.  Muhammad Al-Imam berkata dalam Al-Ibanah hal. 115 (pada cetakan baru di hal. 131 –pent):

التحذير من تتبع العثرات.

 “Peringatan dari tindakan mencari-cari kesalahan orang lain.”

Saya katakan: Mencari-cari kesalahan orang lain terbagi menjadi 2 jenis:

Pertama: Jenis yang tercela dan ini memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah mencari-cari kesalahan seorang ulama dengan tujuan untuk mencelanya. Dan juga mencari-cari kesalahan seorang ulama dengan tujuan menjadikan kesalahan-kesalahan itu sebagai dalil untuk membela kesalahan dirinya dan menjadikan kesalahan-kesalahan ulama tersebut sebagai sandaran. Maka jenis inilah yang tepat untuk diterapkan padanya nash-nash yang disebutkan oleh penulis.

Kedua: Jenis yang boleh. Jika seseorang memiliki dugaan yang kuat bahwa telah muncul kesalahan-kesalahan dari seorang ulama lalu dia menelusurinya dalam rangka menasehati kaum Muslimin, maka yang semacam ini boleh dan terkadang bahkan wajib hukumnya. Contohnya Ibnu Abi Hatim memiliki sebuah kitab yang padanya beliau menelusuri kesalahan-kesalahan Al-Imam Al-Bukhary dalam kitabnya yang berjudul At-Tarikh Al-Kabir. Ad-Daruquthny memiliki kitab yang berjudul At-Tattabu’ yang mengkritisi hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhary dan Shahih Muslim. Syaikhul Islam memiliki kitab yang beliau beri judul Naqdu Maratibil Ijma’ yang merupakan kritikan terhadap kitab Ibnu Hazm yang berjudul Maratibul Ijma’. Al-Allamah Ibnul Qayyim juga dalam kitab Madarijus Salikin banyak mengkritik kesalahan-kesalahan Abu Dzar Al-Harawy dalam kitabnya yang berjudul Manazilus Saa-irin. Dan guru kita Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy telah menelusuri kesalahan-kesalahan Al-Hakim yang tidak dikritik oleh Adz-Dzahaby.

7.  Muhammad Al-Imam berkata dalam Al-Ibanah hal. 122 (pada cetakan baru di hal. 139 –pent):

وقد ابتلينا في عصرنا ببعض الفاشلين في طلب العلم، يتفرغون لسماع أشرطة العالم السني الذي يريدون الطعن فيه لعلهم يعثرون على زلات.

“Kita telah ditimpa musibah di masa kita ini dengan sebagian orang-orang yang gagal [2] dalam menuntut ilmu, mereka meluangkan waktu untuk mendengar kaset-kaset seorang ulama Ahlus Sunnah dengan tujuan untuk mencelanya, barangkali dengan cara itu mereka bisa mendapatkan ketergeliciran-ketergelinciran.”

Saya katakan: Sebagian orang-orang yang dianggap termasuk Ahlus Sunnah di ceramah-ceramah mereka telah menyusupkan penyimpangan-penyimpangan aqidah dan kaedah-kaedah dalam dakwah yang bathil serta fatwa-fatwa menyimpang yang tidak disadari kecuali oleh mereka orang-orang yang engkau anggap sebagai orang-orang yang gagal, padahal di saat yang sama berbagai penyimpangan tersebut tersamar atau tidak diketahui oleh banyak orang-orang yang berhasil. Yang jelas tindakan mencari-cari kesalahan tidaklah tercela secara mutlak. Yang menjadi timbangan untuk mencela adalah jika hal tersebut bertujuan untuk menjatuhkan seorang ulama. Adapun mencari-cari kesalahan seorang ulama dengan tujuan untuk nasehat (bagi pihak yang salah agar bertaubat dan mencabut kesalahannya, dan bagi orang lain agar mewaspadai kesalahan dan orang yang salah tersebut –pent) maka hal ini tidak masalah.

Bersambung in Syaa Allah

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=148992

http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=55246

Catatan kaki:

  1. Apalagi sebagian nukilan-nukilan yang dia bawakan tidak ada dalil yang menguatkan bagi kaedah yang dia buat ini.
  2. Cara yang merendahkan semacam ini hakekatnya justru menafikan kelembutan yang engkau serukan dalam kitabmu ini, dan kita tidak pernah menjumpai celaan semacam ini yang penulis menggunakannya sebagai celaan, kecuali dari orang-orang yang melindungi diri mereka dari kritikan para ulama.
© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.