Ketergelinciran Tidak Menghabiskan Seseorang, Jika Dia Bertobat

 

Bertobat1

KETERGELINCIRAN TIDAK MENGHABISKAN SESEORANG JIKA DIA BERTAUBAT

Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimy rahimahullah

| | |

.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ. قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia tergeletak di atas kursinya dalam keadaan tubuh yang lemah. Kemudian dia bertaubat dan berdoa: “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad: 34-35)

Ketika menjelaskan ayat di atas, Al-Allamah Al-Mu’allimy Al-Yamany rahimahullah berkata sebagaimana disebutkan dalam kumpulan karya tulis beliau 7/238: “Perhatikan dengan seksama; sebagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kisah ini di dalam Kitab-Nya karena hikmah yang dalam, demikian juga secara umum ini kami menilainya pasti karena hikmah yang mendalam pula.

Adapun yang berkaitan dengan penyebutan kisah ini maka nampak diantara faedahnya adalah:

# Tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

# Tidak merendahkan siapa saja yang terjatuh dalam dosa lalu bertaubat.

# Tidak berlebihan dalam meyakini keutamaan atau memuliakan seseorang.

# Tidak berlebihan dalam mengikuti ulama.

Penjelasannya adalah bahwa diketahui dari kisah ini adalah:

# Ketergelinciran tidaklah menghabisi pelakunya dari kesempatan untuk sampai ke derajat yang paling tinggi dalam keutamaan jika dia mau bertaubatdan kembali ke jalan yang benar.

# Para nabi adalah hamba-hamba Allah juga yang membutuhkan-Nya, mereka tidak mampu mendatangkan manfaat dan tidak pula mampu mencegah keburukan dari diri mereka sendiri.

# Terkadang salah seorang dari mereka –apalagi selain mereka– terjatuh pada perkara-perkara yang tidak pantas bagi selainnya untuk menirunya dalam perkara tersebut.

# Para nabi jika salah seorang dari mereka terjatuh pada sebagian dari perkara-perkara tersebut, pasti akan disusul dengan penjelasan bahwa hal tersebut termasuk perkara-perkara yang tidak disyariatkan untuk dicontoh.

# Selain para nabi yaitu para ulama dan orang-orang shalih tidak bisa mengetahui ketergelinciran mereka kecuali dengan menimbangnya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Sumber artikel:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=144068

Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 8 Sya’ban 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.