Ketentuan Wanita Untuk Mengajar

KETENTUAN WANITA UNTUK MENGAJAR

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry حفظه الله

Penanya (wanita): Apa ketentuan dalam pengajaran wanita untuk para akhwat di rumahnya?

Jawaban:

Ini satu dari dua keadaan;

Pertama: Ia seorang wanita yang pandai tentang ilmu syar’i yang menimba ilmu dari para ‘ulama yang mumpuni keilmuannya, maka ia mengajarkan ilmu syar’i kepada mereka sebagaimana ia menimbanya dari para ulama tersebut. Dan terkadang seorang menimba sebagian ilmu namun tidak memiliki kemampuan dalam membahas masalah-masalah khilafiyah, maka ia meninggalkannya dan mengajarkan apa yang ia pahami dari para ‘ulama.

Kedua: Ia menimba ilmu melalui kaset-kaset rekaman. Contoh: Spesialisasinya bahasa arab misalnya, atau cukup dengan tsanawiyah tetapi memiliki penguasaan penuh sehingga ia kumpulkan rekaman-rekaman ilmu para ‘ulama yang mumpuni, yang telah dikenal dengan sunnah, disertai menelaah kitab-kitab mereka. Ia memiliki kemampuan untuk itu, kemudian ia merangkumkamkannya untuk saudari-saudarinya. Maka yang demikian itu tidak mengapa insya Allah.

Dan sudah seharusnya untuk menolong dan membantunya hingga didapati seorang yang lebih utama darinya, lebih berkompeten, dan memungkinkan wanita-wanita kalian untuk mendatanginya. Tidak diragukan lagi bahwa al-fadhil (seorang yang utama) lebih dikedepankan dari pada al-mafdhul (yang dibawahnya).

Adapun bila ia bukan seorang yang pandai tentang ilmu syar’i, tidak mengambil langsung dari ahlinya, tidak memiliki kemampuan untuk memahami secara menyeluruh apa yang didengarnya dari kaset-kaset rekaman, tidak juga kemampuan untuk menelaah kitab-kitab, sedang spesialisasinya juga begitu jauh dari ilmu syar’i, maka ini tidak layak untuk mengajar dan tidak boleh mengambil ilmu syar’i darinya. Na’am.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=148806#entry703391

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

————————————————

السائلة: ما هو الضابط في تدريس المرأة لأخواتها في بيتها؟

الجـواب: هذه واحدة من اثنتين؛
ـ الأولى: أن تكون حَذِقة في العلم الشرعي عن عُلماء راسخين فيه، فهي تدرسهن العلم الشرعي كما تلَقَّته عن أهل العلم، وقد تكون تَلَقَّت بعض العلوم ولكن ليس عندها القدرة في بحث المسائل الخلافية فتتركها، تُدرِّس ما فهمته عن أهل العلم.
ـ الثانية: أن تكون تَلَقَّت عن طريق أشرطة، مثلًا: تخصُّصها لغة عربية مثلًا، أو اكتفت بالثانوية لكنها عندها قدرة على الاستيعاب، تجمع أشرطه العلم الراسخين المعروفين بالسُّنة وتُطالع في كتبهم ـ عندها قدرة على هذا ـ فتُلَخِّص لأخواتها ذلك فلا بأس عليها ـ إن شاء الله ـ، وينبغي مُؤازرتها حتى توجد عالمة أفضل منها، وأَقْدَر منها ويمكن وصول نساؤكم إليها، لا شك أنَّ الفاضل مُقَدَّم على المفضول.
أما إِذَا كانت لم تحذق العلم لا مُشَافهةً من أهله، ولا قُدْرَة على استيعاب ما تَسْمَعه من الأشرطة وتُطالع في الكتب، وتخصُّصها بعيد عن العلم الشرعي، فهذه لا تَصْلح أن تُدَرِّس ولا يجوز أَخْذ العلم الشرعي عنها.

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.