Kesalahan-kesalahan Yang Banyak Tersebar Di umat Islam – Bagian ke-4

kesalahan

KESALAHAN-KESALAHAN YANG BANYAK TERSEBAR DI UMAT ISLAM

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi]

———————————————————————————-

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM AKIDAH DAN TAUHID

———————————————————————————-

PERTAMA: Kesyirikan Yang Mengeluarkan Dari Islam

4. Thawaf Pada Kuburan, Mengusap-usapnya, Dan Bertabarruk Dengannya

Jadi thawaf termasuk ibadah yang paling agung, sementara tidak disyariatkan thawaf kecuali di Baitullah yang suci. Jadi ibadah thawaf hanya khusus di Ka’bah yang dimuliakan. Demikian juga bolak-balik (sa-i) antara Shafa dan Marwah. Sedangkan apa-apa yang ditujukan untuk selain Allah adalah dengan meletakkan ibadah bukan pada tempatnya, mengagungkan kuburan dan menyerupakannya dengan Baitullah, serta memalingkan ibadah thawaf untuk selain Allah.

Adapun mengusap-usap kuburan dan ngalap berkah padanya maka ini adalah tindakan menjadikan kuburan sebagai sesembahan dan mengagungkannya, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik di masa jahiliyah terhadap sesembahan-sesembahan mereka. Jadi siapa saja yang ingin tabarruk dan mengusap-usap kuburan maka sungguh dia telah mengagungkan apa yang tidak disyariatkan oleh Allah untuk mengagungkannya.

Dalil yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan kesyirikan adalah hadits Abu Waqid Al-Laitsy yang menceritakan: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi was sallam menuju Hunain dan kami baru saja meninggalkan kekafiran. Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon Sidr yang mereka sebut dengan Dzatu Anwath, dan kebiasaan mereka adalah dengan i’tikaf di sisinya dan menggantungkan senjata mereka padanya (dalam rangka mencari berkah atau semacam kesaktian –pent). Ketika kami melewati pohon tersebut, sebagian kami ada yang mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami semacam Dzatu Anwath seperti yang mereka miliki!” Maka Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

اللهُ أَكْبَرُ إِنَّهَا السُّنَنُ قُلْتُمْ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ: (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ)

“Allahu Akbar, sesungguhnya itu adalah perbuatan umat sebelum kalian. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sebagaimana ucapan Bani Israil: “Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka juga memiliki sesembahan-sesembahan.” Maka Musa berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil.” (QS. Al-A’raf: 138)

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzy dan merupakan hadits shahih. [1]

Mereka hanyalah ingin bertabarruk dengan pohon, tetapi Rasulullah  shallallahu alaihi was sallam menamakan permintaan mereka itu sebagai permintaan agar dijadikan sesembahan di samping Allah. Dan ini merupakan inti dari kesyirikan itu sendiri. Tatkala Rasulullah shallallahu alaihi was sallam menjelaskan kepada mereka perkaranya, maka mereka pun langsung rujuk dan bertaubat. Sedangkan bertabarruk dengan kuburan lebih besar perkaranya dibandingkan dengan apa yang mereka minta itu.

[1] Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah berkata dalam Tahqiq Misykaatul Mashaabiih no. 5408: “Sanadnya shahih.” (pent)

.

Bersambung In Syaa Allah…

Sumber artikel: Al-Minzhaar Fii Bayaani Katsiirin Minal Akhthaa’ Asy-Syaai’ah

Alih Bahasa: Abu Almass
Hari Arafah tahun 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.