KENANGAN AL-HARAMAIN

KENANGAN AL-HARAMAIN

Syai?, kuucap pertanyaan tersebut yang berarti teh?, kepada seorang bocah yang telah berdiri tegak dihadapanku sambil membawa termos di tangan kirinya dan gelas plastik bertumpuk ditangan kanannya, rupanya bocah tersebut telah dididik oleh orang tuanya untuk berjiwa dermawan membagi minuman kepada orang orang yang baru berbuka puasa.

Kenangan yang indah di masjid al Haramain (masjid Nabawi dan masjidil Haram), sebuah pemandangan yang istimewa di dua masjid tersebut di tiap bulan Ramadhan, sifat kedermawanan begitu menonjol saat itu, orang-orang berlomba dalam bersedekah, lebih khusus untuk memberi buka puasa kepada mereka yang berpuasa menahan lapar dan dahaga, ternyata memang itulah yang dianjurkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya

من فطر صائما فله مثل أجره

“Barangsiapa yang memberi buka puasa kepada orang yang puasa, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala yang puasa tersebut.” [Shahih, R Ahmad, At Tirmidzi dan yang lain, dishahihkan oleh asy syaikh al-Albani]

Beliau bukan hanya menganjurkan, bahkan beliau juga memberi keteladanan. Ibnu ‘Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril ‘alaihis sallam menemuinya, dan adalah Jibril ‘alaihis salam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril ‘alaihis salam mengajarkan Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih dermawan daripada angin yang berhembus. [Shahih, HR al Bukhari]

Itulah ajaran bersosial dan berderma dalam islam, yang kaya memberi kepada yang miskin dengan jiwa dermawan yang berlapis tawadhu’.

Saat berbuka bersama di masjid Nabawi, dan masjidil Haram, nampak tiada beda antara yang kaya dan yang miskin, hidangan kami sama, kurma, zabadi (yogurt), qahwah arobi (kopi arab), dan khubz (roti). Bahkan saat itu yang miskin justru menjadi orang mulia karena si kaya langsung dengan anak dan kerabatnya yang melayani si miskin, nuansa kekeluargaan begitu nyata, saling menghormati saling menyayangi saling membantu, dan saling berbahagia, tiada permusuhan, iri, dengki, dan benci, walau sebelumnya kami tak pernah kenal, tapi hati ini begitu dekat terasa, yang kaya sayang kepada yang miskin, yang miskin tidak dengki dan memusuhi yang kaya. Tiada yang mendekatkan kami melainkan Islam.

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [QS. Al-Anfal:63]

Masing masing kami mungkin mengalami kenangan tersendiri, banyak cerita indah tanpa direka. Saya sendiri, dua kali datang mendekati waktu maghrib, belum juga mendekati pintu utama masjid, saya telah melihat gelaran sufroh (taplak plastik yang memanjang) di sana sini bahkan telah terbentang diluar masjid dan dipenuhi berbagai hidangan makanan termasuk nasi bukhari dengan lauknya, itu bukan hasil patungan banyak orang tapi itu shodaqah individu tertentu atau keluarga tertentu, luar biasa. Satu gelaran sufroh bisa jadi menelan ratusan ribu rupiah bahkan sebagiannya bisa jutaan, tinggal kalikan 29 atau 30 hari, bisakah kita sedermawan mereka, bukan hanya dengan harta tapi juga dengan jiwa dan ketawadhuan?

Maaf, jadi ngelantur, kembali ke kisahku, belum lagi aku masuk ke pintu utama, tanganku telah disambar oleh tangan seorang bocah, dia apit tangan ini tanpa rela melepasnya, seraya berucap, ta’aal ma’ana artinya ayo berbukan bersama kami, aku berusaha menolak dengan dengan alasan ‘aku mau berbuka di dalam masjid (‘abgho juwwa), dia ternyata menjawab, naam ‘indana juwwatal haram (iya hidangan buka puasa kami di dalam masjid), tiada alasan lagi untuk mengelak, dan aku tak tega menolak lagi karena melihat semangatnya untuk berderma, saat itu aku diserahkan kepada temannya yang lebih besar, tanganku terus dipegang, aku ibarat tawanan, untuk dibawa kemana? Dipaksa untuk dijamu berbuka puasa, rupanya aku menjadi tawanan mulia sampai aku didudukkan di sisi sufrohnya. Anak itupun terus mencari mangsa yang lain untuk dia muliakan. Semoga Allah menerima amalnya.

Pengalaman lain dari seorang ustadz yang diceritakan kepada saya oleh ustadz tersebut (semoga Allah menjaganya), diapun pernah mengalami hal yang mirip bahkan lebih ajaib, pasalnya, beliau telah dihadang 2 kali oleh seorang bocah untuk dijamu buka puasa di masjid nabawi, beliau selalu menolak, karena sudah punya tujuan untuk berbuka puasa di tempat lain, kali ketiga, lagi-lagi anak itu menghadang dan berhasil menangkap sang ustadz, ternyata anak itu hafal dengan sang ustadz, telah 2 kali sang ustadz menolak, maka anak itu memaksa -luar biasa-, “ayo buka bersama kami, telah 2 kali anda menolak, sekarang saatnya anda buka puasa bersama kami”. Pikir sang ustadz ”eh, ternyata dia ingat’. Sang ustadz tetap berusaha menolak dengan alasan yang sama. Si bocah tak kehabisan akal, diapun mengatakan, saya punya sebuah pertanyaan, kalau anda tidak bisa menjawab, berarti anda berbuka bersama kami, baiklah kata sang ustadz, maka terlontarlah sebuah pertanyaan, dan sang ustadz tak mampu menjawab, subhanallah, sampai sedemikian rupa kedermawanan itu tertanam pada jiwa mereka, sang ustadz pun tak mampu mengelak, saat ini ia harus berbuka di sufroh keluarga si bocah tersebut.

Sudahkah kita didik anak-anak kita untuk menjadi dermawan, sehingga ketika mereka kaya tak lupa daratan, ia tetap tawadhu dan berjiwa dermawan, bahkan saat miskinpun kedermawanan senantiasa menghiasinya. Ya Allah perbaikilah kami dan keluarga kami.

Lembaran lembaran ini terasa begitu terbatas untuk menampung berbagai kisah indah itu. Namun saat ini, inilah yang bisa kuungkapkan melalui huruf-huruf yang kurangkai di masjidil Haram sembari menunggu salat isya’ pada tanggal 16 bulan Ramadhan 1437 H.

Disaat yang sama aku teringat negeriku Indonesia yang sedang hangat komunisme, sebagian orang kini memperjuangkan paham Marxisme, Leninisme, yang katanya memperjuangkan hak orang lemah dan miskin, tapi nyatanya, memperalat buruh dan tani miskin demi kepentingan para tokoh paham tersebut, setelah mereka berkuasa ternyata mereka juga menindas kaum miskin dan papa. MELAWAN BORJUIS UNTUK MENJADI BORJUIS 
Itulah senyatanya komunis.

Semoga Allah melindungi negeri Muslimin dari kejahatan komunis.

Masjidil Haram, 16 Ramadhan 1437 H.

Qomar Zaenudin A

Sumber: http://serambiharamain.com/kenangan-al-haramain/

© 1440 / 2018 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.