Jika Ulama Mentabdi’ Seseorang, Apakah Wajib Tatsabbut Kepada Kedua Belah Pihak

Jika Ulama Mentabdi Seseorang, Apakah Wajib Tatsabbut Kepada Kedua Belah PihakJIKA ULAMA MENTABDI’ SESEORANG, APAKAH WAJIB TATSABBUT KEPADA KEDUA BELAH PIHAK

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah

Pertanyaan: Bolehkah mengatakan bahwa jika ulama telah mencela seseorang dan mentabdi’nya maka wajib atas seorang penuntut ilmu untuk tatsabbut (meneliti, klarifikasi, cross cek dan semisalnya –pent) kepada kedua belah pihak dan memperhatikan perkataan kedua belah pihak serta tidak memvonis kecuali setelah melakukan tatsabbut?

Jawaban:

Sekarang ini kita sering mendengar ucapan semacam ini didengung-dengungkan. Jika para ulama sudah berbicara sebagaimana yang dikatakan oleh yang mengatakan tadi yaitu oleh si penanya, jika orang-orang yang mentabdi’ atau mencela seseorang tersebut adalah ahlul ilmi, dan mereka telah mencelanya dan memvonisnya sebagai seorang mubtadi’, maka sesungguhnya wajib untuk kembali kepada perkataan ahlul ilmi. Maksimalnya jika engkau ingin mengetahui sebab kenapa mereka mentabdi’nya maka hal itu boleh bagimu.

Adapun klaim harus melakukan tatsabbut maka bagaimana harus melakukan tatsabbut sedangkan mereka adalah para ulama sebagaimana yang engkau katakan?! Adapun pihak yang dicela dan divonis sebagai mubtadi’ maka tidak teranggap, jika Ahlus Sunnah telah menjelaskan keadaan orang tersebut. Kita tidak mengetahui kaedah semacam ini dari para pendahulu kita yang shalih radhiyallahu anhum. Setelah memperhatikan perkataan para ulama Ahlus Sunnah jika mereka mencela seseorang, menjelaskan keadaannya, dan memvonisnya sebagai seorang mubtadi’, maka wajib untuk mengikuti mereka.

Jika engkau ingin mengetahui kenapa para ulama tersebut memvonisnya sebagai seorang mubtadi’ maka ini babnya tersendiri. Engkau ingin mengetahui dalil-dalil mereka dan mengetahui bid’ah yang ada padanya, ini adalah bab lain. Tujuannya adalah agar engkau mengetahui rinciannya, bukan karena engkau meragukan para ulama tersebut. Jadi wajib untuk hal ini diketahui.

Adapun dengan engkau menjadikan seorang yang divonis sebagai mubtadi’ yang telah divonis oleh ahlul ilmi sederajat atau selevel dengan ahlul ilmi, maka hal ini menyelisihi jalan yang ditempuh oleh para Salaf rahimahumullah. Jadi jika para ulama Ahlus Sunnah yang dikenal dengan kekokohan agama dan ilmu serta amanahnya telah menjelaskan keadaan seseorang, maka tidak boleh untuk mengatakan bahwa harus melakukan tatsabbut pada perkataan mereka.

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147662

Download Audio Di Sini

Alih Bahasa: Abu Almass
Jum’at, hari Arafah tahun 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.