Jika Benar Abdurrahman Mar’i Mendukung Jihad Melawan Hutsiyun, Mengapa Dia Menuduh Presiden Yaman Sebagai Penghianat??!!! (BANTAHAN TERHADAP PENJELASAN ABU KHALID WALID MAQRAM)

JIKA BENAR ABDURRAHMAN MAR’I MENDUKUNG JIHAD MELAWAN HUTSIYUN, MENGAPA DIA MENUDUH PRESIDEN YAMAN SEBAGAI PENGKHIANAT??!!! (BANTAHAN TERHADAP PENJELASAN ABU KHALID WALID MAQRAM)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على النبي الكريم وآله وصحبه ومن اهتدى بهديه إلى يوم الدين

Amma ba’du,

Saya telah menulis sebuah makalah dengan judul “Abdurrahman bin Mar’i Pergi ke Hadhramaut untuk Memecah Belah Ahlus Sunnah,

Setelah berlalu kurang lebih 20 hari sejak keluarnya makalah tersebut, saya dikejutkan oleh sebuah tulisan yang ditunjukkan oleh sebagian ikhwah yang tulisan tersebut ditulis oleh salah seorang ikhwah yang disebut dengan Abu Khalid Walid Maqrim.

Redaksinya sebagai berikut:

Keterangan dan Penjelasan

Amma ba’du, 

Telah keluar sebuah penjelasan dari Al-Akh Yasin Al-Adany yang kesimpulannya adalah bahwa Asy-Syaikh Abdurrahman Mar’i keluar menuju Hadhramaut dan bertemu dengan orang-orang yang mengurusi dakwah dan beliau menggembosi mereka dari jihad. Dia menyandarkan penukilan ucapan yang sampai kepadanya tersebut melalui Abu Khalid Walid Maqrim.

Hal ini tidaklah benar, bahkan sesungguhnya saya tidak ridha dengan ucapan semacam ini dan saya menilai hal itu membuat senang musuh-musuh Islam. Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman tidaklah melakukan penggembosan jihad pada majelis yang kami duduk bersamanya tersebut. Bahkan beliau menampakkan apa yang beliau yakini sebagai syari’at Allah yang beliau pegangi, dan beliau mengatakan wajibnya mendukung pihak yang berpendapat adanya jihad.
Saya katakan hal ini sebagai bentuk untuk membebaskan diri dari tanggung jawab dan sebagai penjelasan apa yang terjadi sebenarnya, dan Allah menjadi saksi apa yang kami katakan.

والحمد لله رب العالمين.

Ditulis oleh: Abu Khalid Walid Maqrim.

***

Saya katakan: Bantahan saya yang tidak akan bisa dielakkan lagi saya buat menjadi beberapa kritikan ringkas:

Kritikan Pertama: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Telah keluar sebuah penjelasan dari Al-Akh Yasin Al-Adany yang kesimpulannya adalah bahwa Asy-Syaikh Abdurrahman Mar’i keluar menuju Hadhramaut dan bertemu dengan orang-orang yang mengurusi dakwah dan beliau menggembosi mereka dari jihad.”

Saya katakan: Tulisan saya yang berjudul “Abdurrahman bin Mar’i Pergi ke Hadhramaut untuk Memecah Belah Ahlus Sunnah” berisi beberapa pembahasan:

  1. Berkumpulnya Abdurrahman dengan ikhwah para dai Hadhramaut.
  2. Penggembosan terhadap jihad melawan Hutsiyun.
  3. Membesar-besarkan kekuatan Hutsiyun.
  4. Tuduhan Abdurrahman bin Mar’i terhadap Presiden Abdu Rabbih dan Menteri Pertahanan Mahmud Ash-Shubaihy dengan pengkhianatan.

Walid Maqrim –walhamdulillah– tidak mengingkari kecuali  satu saja, yaitu upaya penggembosan terhadap jihad melawan Hutsiyun. Maka ini menunjukkan persetujuannya terhadap saya pada perkara-perkara yang lainnya tersebut. Kalau tidak demikian, maka saya menunggu penjelasan yang lainnya darinya.

Kritikan Kedua: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Dan dia menyandarkan penukilan ucapan yang sampai kepadanya tersebut melalui Abu Khalid Walid Maqrim.”

Saya katakan kepada pembaca: Silahkan membaca kembali tulisan saya yang berjudul “Abdurrahman bin Mar’i Pergi ke Hadhramaut untuk Memecah Belah Ahlus Sunnah” apakah Anda menjumpai di dalam tulisan tersebut saya menyebutkan nama Abu Khalid Walid Maqrim?!

Kritikan Ketiga: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Bahkan sesungguhnya saya tidak ridha dengan ucapan semacam ini dan saya menilai hal itu membuat senang musuh-musuh Islam.”

Saya katakan: Pada ucapannya ini menunjukkan dua hal kepada Anda wahai saudaraku pembaca:

  1. Apa yang saya nukil pada tulisan yang lalu memang benar, hanya saja Walid Maqrim menilai tidak boleh untuk menyebarkannya karena akan membuat senang musuh-musuh Islam!!
  2. Pada ucapannya ini terdapat penerapan kaedah thaghut “Kita bersatu pada perkara-perkara yang kita sepakati, dan sebagian kita memberi udzur bagi sebagian yang lain pada perkara-perkara yang kita berselisih padanya.” Sehingga kita wajib untuk mendiamkan kebathilan dan kita jangan membantah orang yang menyelisihi kebenaran, karena hal itu akan membuat senang musuh-musuh Islam!!

Kritikan Keempat: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Sedangkan Asy-Syaikh Abdurrahman tidaklah melakukan penggembosan jihad pada majelis yang kami duduk bersamanya tersebut. Bahkan beliau menampakkan apa yang beliau yakini sebagai syari’at Allah yang beliau pegangi.”

Saya katakan: Ini adalah bersilat lidah darinya, bahkan ini –dan hanya bagi Allah segala puji– merupakan bentuk persetujuan dari Walid Maqrim terhadap saya pada ucapan saya “Penggembosan terhadap jihad melawan Hutsiyun.” Kalau memang tidak demikian, maka jelaskanlah kepada kami apakah perkara yang ditampakkan oleh Abdurrahman bin Mar’i kepada kalian di majelis itu yang dia yakini sebagai syari’at Allah yang dia pegangi, wahai Walid!

Kritikan Kelima: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Dan beliau mengatakan wajibnya mendukung pihak yang berpendapat adanya jihad.”

Saya katakan: Sesungguhnya saya benar-benar memuji Allah Ta’ala yang telah menjadikan orang yang memusuhi saya menjadi saksi yang membela saya, jadi ini merupakan persetujuan terhadap saya pada ucapan saya: “Membesar-besarkan kekuatan Hutsiyun.”

Kritikan Keenam: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Saya katakan hal ini sebagai bentuk untuk membebaskan diri dari tanggung jawab.”

Saya katakan: Alangkah serupanya malam ini dengan kemarin malam, sesungguhnya hal itu benar-benar mengingatkan saya terhadap sikap berlepas tanggung jawab dari para pengikut Abul Hasan Al-Ma’riby!! Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Kritikan Ketujuh: Berkaitan dengan ucapan Walid Maqrim: “Dan Allah menjadi saksi apa yang kami katakan.”

Saya katakan: Demikiankah seperti ini yang engkau lakukan demi untuk engkau membuat ridha Abdurrahman Mar’i dan para pengikutnya, wahai Walid?!!

Sesungguhnya saya setelah membaca ucapan Walid Maqrim, saya langsung menghubungi saudara kita yang mulia yaitu Murad Baflai’ (pemilik penerbit Daar Al-Imam Al-Wadi’iy) yang dia ini berasal dari daerah yang sama dengan Walid Maqrim. Saya sampaikan berita tersebut, maka dia menyanggahnya dan mengatakan: “Walid Maqrim mengatakan hal itu kepada saya.”

Bahkan Murad Baflai’ mengatakan kepada saya: “Sesungguhnya Walid menyesal ketika menghadiri majelis bersama Abdurrahman bin Mar’i. Bahkan ketika Walid diundang untuk jamuan makan siang, di tengah perjalanan dirinya merasa tidak enak sehingga pulang dan tidak mau menghadirinya.”

Demikiankah engkau mengatakan seperti ini, wahai Walid: “Dan Allah menjadi saksi apa yang kami katakan.”
Tidakkah engkau mengetahui besarnya bahaya ucapan seperti ini bagi siapa yang mengatakannya tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya?!

Disebutkan dalam Rasail wa Fatawa Aba Bathin hal. 18: Beliau ditanya tentang sumpah yang dilakukan oleh sebagian orang dengan ucapan, “Allah mengetahui saya tidak berbuat demikian demikian?” Maka beliau menjawab: “Jika orang yang mengatakannya jujur dalam ucapannya maka tidak mengapa. Namun jika dia dusta pada ucapannya ‘Allah mengetahui saya tidak berbuat demikian demikian’ padahal dia telah melakukannya, atau dia dengan mengatakan ‘Allah mengetahui hal itu tidak akan menjadi demikian-demikian’ padahal perkaranya telah terjadi demikian, maka yang seperti ini haram.

Seandainya orang yang mengatakannya mengetahui makna ucapannya itu tentu ucapan tersebut merupakan kekfiran, karena konsekuensi dari ucapannya tersebut adalah Allah mengetahui sebuah perkara tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, sehingga hal itu berarti mensifati Allah dengan kebodohan. Maha Tinggi Allah dari yang demikian itu setinggi-tinggi dan seagung-agungnya. Wallahu subhanahu wa ta’ala alam.”

Di dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin (3/141) disebutkan: Beliau –semoga Allah mengampuninya– ditanya tentang ucapan sebagian orang, “Allah mengetahui demikian-demikian.”

Maka beliau menjawab: “Ucapan ‘Allah mengetahui’ ini merupakan masalah yang sangat berbahaya, sampai-sampai saya melihat dalam kitab-kitab Al-Hanafiyah disebutkan bahwa siapa yang mengatakan tentang sesuatu bahwa Allah mengetahuinya, padahal perkaranya bertolak belakang, maka dia menjadi kafir dan keluar dari Islam. Jadi jika engkau mengatakan, ‘Allah mengetahui bahwa saya tidak berbuat demikian’ padahal engkau telah melakukannya, maka konsekuensi dari hal itu adalah bahwasanya Allah tidak mengetahui perkara yang sebenarnya. Atau misalnya yang lain jika engkau mengatakan, ‘Allah mengetahui bahwa saya tidak mengunjungi si fulan’ padahal engkau telah mengunjunginya, maka konsekuensi dari ucapan itu adalah Allah tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Padahal telah diketahui bahwa siapa yang menafikan sifat ilmu dari Allah maka dia kafir.

Oleh karena inilah Asy-Syafi’iy –rahimahullah– mengatakan tentang sekte Qadariyah (orang-orang yang mengingkari takdir –pent): “Bantahlah mereka dengan menanyai mereka apakah mereka menetapkan sifat ilmu bagi Allah, jika mereka mengingkari maka mereka kafir, namun jika mereka menetapkannya berarti otomatis terbantah keyakinan mereka.
Kesimpulannya bahwa ucapan seseorang “Allah mengetahui” jika dia mengucapkannya padahal perkaranya tidak seperti yang dia ucapkan, maka sesungguhnya hal itu sangat berbahaya sekali dan hal itu tanpa diragukan lagi haram hukumnya. Adapun jika dia benar dan perkaranya sesuai dengan yang dia ucapkan maka hal itu tidak mengapa, karena dia jujur dalam ucapannya, dan juga karena memang Allah mengetahui segala sesuatu, seperti yang dikatakan oleh para rasul yang disebutkan dalam surat Yasin:

قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ.

Para rasul itu mengatakan: “Rabb kami mengetahui bahwa kami benar-benar diutus kepada kalian.” (QS. Yasin: 16)

–selesai penukilan–

Dan engkau mengetahui wahai Walid, bahwa para pengikut Abdurrahman bin Mar’i terus menerus mendesakmu hingga akhirnya engkau pun mengeluarkan penjelasanmu ini demi engkau membuat mereka riidha, terlebih lagi diperkuat karena penjelasan itu muncul setelah kurang lebih 20 hari sejak keluarnya tulisan saya. Maka segeralah bertaubat dan bertaubat wahai Walid, apalagi engkau sedang berada di bulan Ramadhan. Jadi hendaknya engkau membuat ridha Sang Khaliq dan bukan membuat ridha makhluq. Kalau tidak, maka sesungguhnya saya menunggu darimu penjelasan yang lainnya bagi setiap kritikan di atas.

Kami memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung atas segala kesalahan dan ketergelinciran baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.

والحمد لله وحده وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه

Ditulis oleh: Abul Abbas Yasin bin Ali Al-Adany
Aden, Yaman Malam Kamis, awal bulan Ramadhan, 1436

*********************************************************

الرد المبرم
على “بيان وتوضيح” المدعو أبي خالد وليد مَقْرم

بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على النبي الكريم ، وآله وصحبه ومن اهتدى بهديه إلى يوم الدين.
أما بعد : فقد كنت كتبت مقالاً بعنوان : (عبد الرحمن بن مرعي ذهب إلى حضرموت ليُفرِّق بين أهل السنة).
وبعد مرور عشرين يوماً تقريباً من خروج هذا المقال فاجأني بعض إخواني بمقال كتبه أخ يقال له : أبو خالد وليد مقرم.
وهذا نصّه :
((بيان وتوضيح
أما بعد:
فقد خرج بيان للأخ ياسين العدني خلاصتهُ أن الشيخ عبدالرحمن مرعي خرج إلى حضرموت واجتمع بالقائمين على الدعوة وخذلهم عن الجهاد.
ونسب نقل هذا الكلام إليه من طريق أبي خالد وليد مقرم، وهذا غير صحيح، بل إني لا أرضى بهذا الكلام وأراه يفرح أعداء الإسلام.
والشيخ عبدالرحمن لم يخذل في الجلسة التي جلسناها معه،
بل أبدى مايدين الله به.
وقال بوجوب الإعداد على من رأى الجهاد.
أقول هذا براءة للذمة وبياناً لما حصل والله الشهيد على مانقول، والحمد لله رب العالمين.
كتبه/ أبو خالد وليد مقرم  .انتهى.

فأقول : ردّي المبرم أجعله على وقفات مختصرة:
1(الوقفة الأولى) : قول وليد مقرم : (((فقد خرج بيان للأخ ياسين العدني خلاصتهُ أن الشيخ عبدالرحمن مرعي خرج إلى حضرموت واجتمع بالقائمين على الدعوة وخذلهم عن الجهاد))) .انتهى.
أقول : قد حوى مقالي : (عبد الرحمن بن مرعي ذهب إلى حضرموت ليُفرِّق بين أهل السنة) على عدة مواضيع :
الأول : اجتماع عبد الرحمن بن مرعي بالأخوة الدعاة الحضارم.
الثاني : التخذيل عن جهاد الحوثة.
الثالث : التعظيم من أمر الحوثة.
الرابع : رمي عبد الرحمن بن مرعي رئيسَ البلاد عبد ربّه ، ووزير الدفاع محمودًا الصبيحي بالخيانة.

ولم يُنكر وليد مقرم – ولله الحمد – إلا واحداً منها فقط ، وهو : التخذيل عن جهاد الحوثة ، فهذا يدل على موافقته لي على المواضيع الأخرى ، وإلا فأنا في انتظار بيان آخر له.

2(الوقفة الثانية) : قول وليد مقرم : (((ونسب نقل هذا الكلام إليه من طريق أبي خالد وليد مقرم))) .انتهى.
فأقول للقارئ : ارجع إلى مقالي (عبد الرحمن بن مرعي ذهب إلى حضرموت ليُفرِّق بين أهل السنة) ، فهل تجد فيه أني ذكرت اسم المدعو (أبو خالد وليد مقرم).

3(الوقفة الثالثة) : قول وليد مقرم : (((بل إني لا أرضى بهذا الكلام وأراه يفرح أعداء الإسلام))) .انتهى.
أقول : فهذه المقولة تدلك أخي القارئ على أمرين :
الأمر الأول : أن ما نقلته في المقال السابق صحيح ، لكن وليد مقرم لا يرى نشره ؛ لأنه يفرح أعداء الإسلام.

الأمر الثاني : أن في هذه المقالة تطبيقاً للقاعدة الطاغوتية: (نجتمع فيما اتفقنا فيه، ويعذر بعضنا بعضاً فيما اختلفنا فيه). فعلينا أن نسكت عن الباطل وألا نرد على المخالف ؛ لأنه يُفرح أعداء الإسلام!!!

4(الوقفة الرابعة) : قول وليد مقرم : (((والشيخ عبدالرحمن لم يخذل في الجلسة التي جلسناها معه، بل أبدى مايدين الله به))) .انتهى.
أقول : وهذه مغالطة منه ، بل هذه – ولله الحمد – موافقة من وليد مقرم لي في قولي : (التخذيل عن جهاد الحوثة) ، وإلا بيِّن لنا يا وليد ما هو الأمر الذي أبداه لكم عبد الرحمن بن مرعي في الجلسة ، والذي يدين الله به.

5(الوقفة الخامسة) : قول وليد مقرم : (((وقال بوجوب الإعداد على من رأى الجهاد))) .انتهى.
أقول : إني لأحمد الله تعالى الذي جعل خصمي يشهد لي ، فهذه موافقة لي في قولي : (التعظيم من أمر الحوثة).

6(الوقفة السادسة) : قول وليد مقرم : (((أقول هذا براءة للذمة))) .انتهى.
أقول : ما أشبه الليلة بالبارحة ، إنها لتذكرني ببراءة الذمة لأتباع أبي الحسن المأربي !! نسأل الله العافية.

7(الوقفة السابعة) : قول وليد مقرم : (((والله الشهيد على مانقول))) .انتهى.

أقول : أهكذا تفعل يا وليد من أجل أن ترضي عبد الرحمن بن مرعي وأتباعه ، فإني بعد أن قرأت كلام وليد مقرم اتصلت مباشرة بأخينا الفاضل مراد بافليع [صاحب دار الإمام الوادعي] وهو من نفس بلاد وليد مقرم ، فقلت له بالخبر فصدم ، وقال : وليد مقرم قال لي بذلك.

بل قال لي مراد بافليع : إن وليداً ندم لمَّا حضر الجلسة مع عبد الرحمن بن مرعي ، بل استدعي وليد مقرم لوجبة الغداء فبينما هو في منتصف الطريق ما طابت له نفسه ، فرجع ولم يحضر.

أهكذا يا وليد تقول : (((والله الشهيد على مانقول))) !! ، أمَا تعلم خطورة هذه الكلمة لمن قالها على خلاف الواقع.

ففي “رسائل وفتاوى أبا بطين” (ص: 182) : وسئل عن إقسام بعض الناس بقول : (الله يعلم ما فعلت كذا) ؟ فقال : إن كان القائل صادقاً في قوله فلا بأس ، وإن كان كاذباً في قوله : (الله يعلم ما فعلت كذا) ، وهو قد فعله ، أو : (الله يعلم ما صار كذا) ، وهو قد صار ، فهذا حرام.
ولو عرف القائل معنى قوله لكان قوله هذا كفراً ؛ لأن مقتضى كلامه أن الله يعلم الأمر على غير ما هو عليه ، فيكون وصفاً لله بالجهل ، تعالى الله عن ذلك علواً كبيراً . والله – سبحانه وتعالى – أعلم .انتهى.

وفي “مجموع فتاوى ورسائل العثيمين” (3/141) : وسئل غفر الله له : عن قول بعض الناس: (يعلم الله كذا وكذا) ؟
فأجاب بقوله : قول : (يعلم الله ) هذه مسألة خطيرة ، حتى رأيت في كتب الحنفية أن من قال عن شيء : يعلم الله والأمر بخلافه صار كافرًا خارجًا عن الملة ، فإذا قلت: (يعلم الله أني ما فعلت هذا) ، وأنت فاعله فمقتضى ذلك أن الله يجهل الأمر، (يعلم الله أني ما زرت فلاناً) وأنت زائره صار الله لا يعلم بما يقع ، ومعلوم أن من نفى عن الله العلم فقد كفر ، ولهذا قال الشافعي – رحمه الله – في القدرية قال : جادلوهم بالعلم فإن أنكروه كفروا ، وإن أقروا به خصموا ا. هـ.
والحاصل أن قول القائل : (يعلم الله) إذا قالها والأمر على خلاف ما قال فإن ذلك خطير جدًا وهو حرام بلا شك.
أما إذا كان مصيبًا ، والأمر على وفق ما قال فلا بأس بذلك ؛ لأنه صادق في قوله ، ولأن الله بكل شيء عليم ، كما قالت الرسل في سورة يس : {قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ} .انتهى.
وأنت تعلم يا وليد أن أتباع عبد الرحمن بن مرعي لا يزالون بك حتى أخرجت هذا البيان لترضيهم لا سيّما أنه خرج بعد مرور عشرين يوماً تقريباً من خروج مقالي ، فالتوبة التوبة يا وليد لا سيَّما وأنت في شهر رمضان. فعليك أن ترضي الخالق لا المخلوق.
وإلا فإنني أنتظر بياناً آخر منك مع كل وقفة.
نستغفر الله العظيم ، من الخطأ والزلل ، في القول والعمل . والحمد لله وحده ، وصلى الله وسلم على نبيّنا محمد وآله وصحبه.

كتبه : أبو العباس ياسين بن علي العدني
اليمن – عدن.
في ليلة الخميس الأول من شهر رمضان سنة 1436 هـ

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.