HUKUM AQIQAH BAGI ORANG DEWASA

HUKUM AQIQAH BAGI ORANG DEWASA

✒ Asy-Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah

📮 Pertanyaan: Apakah ada dalil yang shahih tentang aqiqah orang dewasa untuk dirinya sendiri?
Jazakumullah khairan.

🔓 Jawaban:

ﺍﻟﺤﻤﺪُ ﻟﻠﻪ ﺭﺏِّ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺇﺧﻮﺍﻧﻪ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪِّﻳﻦ.

Terdapat dalil yang shahih dalam as-Sunnah dari dua jalan dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

ﻋَﻖَّ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺑَﻌْﺪَﻣَﺎ ُبُعِثَ نَبِيًّا.

“Beliau melakukan aqiqah untuk diri beliau sendiri setelah beliau diutus sebagai seorang nabi.”(1)

Sebagian ulama Salaf ada yang berpendapat untuk mengamalkannya, Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُعَقَّ عَنِّي لَعَقَقْتُ عَنْ نَفْسِيْ.

“Seandainya saya mengetahui bahwa saya belum diaqiqahkan tentu saya akan melakukan aqiqah untuk diri saya sendiri.”(2)

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashry rahimahullah berkata:

إِذَا لَمْ يُعَقَّ عَنْكَ فَعُقَّ عَنْ نَفْسِكَ وَإِنْ كُنْتَ رَجُلًا.

“Jika engkau belum diaqiqahkan maka lakukanlah aqiqah untuk dirimu sendiri walaupun engkau telah dewasa.”(3)

Berdasarkan hal ini maka dianjurkan bagi seseorang melakukan aqiqah untuk dirinya sendiri menggantikan ayahnya, karena nasikah (aqiqah) wajib atas ayah menurut yang paling kuat dari dua pendapat para ulama, dan kewajibannya tetap menjadi tanggung jawabnya walaupun anaknya telah besar jika dia memiliki kemampuan, jika dia tidak melakukan maka boleh menggantikannya, karena aqiqah termasuk ibadah yang sifatnya harta yang padanya disyariatkan untuk menggantikan atau mewakilinya, seperti zakat, hibah, dan ibadah yang lainnya.

والعلمُ عند الله تعالى، وآخِرُ دعوانا أنِ الحمدُ لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدِّين وسلَّم تسليمًا.

📆 Aljazair, 3 Shafar 1427 H / 21 Februari 2007

➖➖➖➖➖➖➖
📚 Catatan kaki:

1⃣ Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam al-Mushannaf, jilid 4 hlm. 329 no. 7960, dan Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afa’ jilid 2 hlm. 33 dari jalan Qatadah dari Anas radhiyallahu anhu. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh ath-Thahawy dalam Musykilul Atsar jilid 1 hlm. 461 dan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla jilid 8 hlm. 321 dari jalan Tsumamah bin Anas dari Anas radhiyallahu anhu. Dan hadits ini dinilai hasan oleh al-Albany dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 2726

2⃣ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah jilid 5 hlm. 113 no. 24236 dan dinilai shahih oleh al-Albany dalam as-Silsilah ash-Shahihah (6/1/506)

3⃣ Diriwayatkan oleh Ibnu Hazm dalam al-Muhalla jilid 8 hlm. 322 dan dinilai hasan oleh al-Albany dalam as-Silsilah ash-Shahihah (6/1/506)

🌍 Sumber || https://ferkous.com/home/?q=fatwa-584

© 1439 / 2018 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.