HENDAKNYA SEGERA KITA MEMPERBAIKI LISAN

HENDAKNYA KITA SEGERA MEMPERBAIKI LISAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib hafizhahullah

الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه، وبعد:

Sesungguhnya termasuk perkara yang banyak diremehkan oleh orang-orang yang mulia dari kalangan para penuntut ilmu, bahkan dari kalangan dai, apalagi orang awam, yaitu masalah Bahasa Arab secara umum, dan nahwu secara khusus.

Yang aneh, sebagian orang jika dinasehati tentang hal itu, dia mulai berdalih dengan sebagian ulama yang muncul dari mereka lahn (kesalahan ucap dalam Bahasa Arab dari sisi tata bahasa -pent) dan dia meninggalkan sekian banyak biografi yang digoreskan oleh buku-buku sejarah yang menyebutkan kefasihan dan balaghah para ulama, dan sebelum itu semua sesungguhnya (yang harus selalu diingat -pent) Bahasa Arab adalah bahasa al-Qur’an dan as-Sunnah.

Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam yang mengatakan:

“Telah diketahui bahwa mempelajari Bahasa Arab dan mengajarkan Bahasa Arab hukumnya adalah fardhu kifayah. Dan dahulu para Salaf biasa memberi hukuman kepada anak-anak mereka disebabkan karena lahn yang mereka lakukan. Maka kita diperintahkan baik perintah yang sifatnya wajib atau yang sifatnya mustahab untuk menjaga aturan-aturan tata Bahasa Arab, dan memperbaiki lisan yang menyimpang darinya, sehingga akan tetap terjaga untuk kita cara dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan kita juga diperintahkan agar mencontoh orang Arab ketika menggunakan Bahasa Arab. Jadi jika manusia tetap dibiarkan dalam lahn mereka, maka hal itu merupakan kekurangan dan aib.”

Dan saya tidak mengetahui hingga kapan salah seorang diantara kita akan tetap terjatuh pada lahn yang buruk dan tidak segera memperbaiki lisannya, bahkan juga tidak segera memperbaiki cara penulisan yang benar. Padahal sebagian ulama tetap menuntut ilmu walaupun telah lanjut usia, terkhusus para Shahabat radhiyallahu anhum.

Seorang penuntut ilmu betapapun tinggi kedudukannya, dia tidak akan merasa jengkel atau menggerutu untuk meraih ilmu yang belum pernah dia dapatkan di hari-hari pertamanya menuntut ilmu. Bahkan hal itu termasuk perkara-perkara yang akan menambah kemuliaan dirinya di mata hamba-hamba Allah. Dan sifat ilmu itu tidak akan diraih oleh orang yang sombong, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat.

Dan jika lahn dalam ucapan termasuk aib, maka yang lebih parah dari itu adalah ketika kita bisa mengi’rab dengan ucapan, namun kita terjatuh pada lahn ketika menerapkannya.

Kita berlindung kepada Allah darinya.
✒ Ditulis oleh: Muhammad bin Ghalib al-Umary al-Madany

? Selasa, 17 Rabi’ul Awwal 1434 H bertepatan dengan 29 Januari 2013

? Saluran Telegram asy-Syaikh Muhammad Ghalib

—————

? لنبادر إلى إصلاح الألسن ?

الحمد لله رب العالمين وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه، وبعد:

فإن مما فرط فيه كثير من الفضلاء من طلبة العلم بل والدعاة فضلا عن العامة مسألة اللغة العربية عموما والنحو على وجه الخصوص.

والعجيب أن البعض إذا نوصح في ذلك ذهب يستدل ببعض أفراد العلماء ممن ورد عنهم اللحن وترك التراجم الكثيرة التي سطرتها كتب التاريخ من فصاحة وبلاغة العلماء وقبل ذلك كله أنها لغة القرآن والسنة.

ورحم الله شيخ الإسلام إذ قال: «معلوم أنَّ تعلُّمَ العربيَّة وتعليم العربية فَرض على الكفاية، وكان السَّلَف يُؤَدِّبُون أولادهم على اللَّحن، فنحن مأمورونَ أمر إيجابٍ أو أمرَ استحبابٍ أن نحفظَ القانونَ العربي، ونصلح الألسن المائلة عنه، فيحفظ لنا طريقة فَهم الكتاب والسُّنَّة، والاقتداء بالعرب في خِطَابِها، فلو تُرِكَ النَّاسُ على لَحْنِهِم كان نقصًا وعيبا»

ولا أعلم إلى متى أحدنا يبقى في لحنه المشين ولا يبادر إلى إصلاح لسانه… بل وإلى إصلاح كتابته وإملائه. وقد طلب بعض العلماء العلم عن كبر. وعلى رأسهم الصحابة رضي الله عنهم.

ولا يتأفف طالب العلم مهما بلغت منزلته عن تحصيل العلوم التي لم يحصلها أيام طلبه الأولى… بل ذلك مما يرفعه في أعين الخلق. والعلم لا يناله متكبر كما ورد في الآثار.

وإذا كان من المعيب اللحن في القول فالأشد من ذلك أن نعرب في القول ونلحن في العمل.

نعوذ بالله من ذلك.

خاطرة كتبها محمد بن غالب العمري المدني

الثلاثاء: 17/ربيع الأول/1434هـ

الموافق لـ29/يناير/2013

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.