Hal-hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran – Bagian 3

Hal-hal Yang Memalingkan Dari KebenaranHAL-HAL YANG MEMALINGKAN DARI KEBENARAN

Asy-Syaikh Hamad bin Ibrahim Al-Utsman hafizhahullah

KEEMPAT ~ MEREMEHKAN UPAYA MENCARI KEBENARAN

Sebagian manusia ada yang meyakini kebathilan dan menganggapnya sebagai agama Allah, tetapi sebenaranya dia mengetahui ada pihak yang menyelisihi apa yang dia yakini dan dia anggap sebagai agama Allah itu, bahkan terkadang sampai kepadanya vonis sesat yang dilontarkan oleh orang yang menyelisihinya tersebut.Walaupun demikian dia tidak berusaha meneliti dan memastikan apa yang mendorongnya lebih cenderung kepada apa yang dia yakini.

Jadi terkadang dia meyakini pendapatnya disebabkan karena dia menjumpai penyebutan sebagian kecil dari sebuah masalah dan hukumnya dalam sebuah kitab tertentu, atau dia menimba ilmunya dari seorang guru tertentu tanpa memastikannya dengan melakukan pembahasan tuntas, mempelajarinya dan menelitinya.

Dia juga tidak mau membandingkan dengan pendapat yang menyelisihinya, tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan dalil-dalil dari masing-masing pendapat beserta sisi pendalilannya, dan juga tidak menyaring dalil-dalil serta menimbangnya dengan timbangan yang adil.

Akhirnya dia pun mengambil sebuah pendapat dalam keadaan penuh cacat dan meremehkan apa yang wajib dia lakukan berupa mengerahkan segenap kemampuan untuk mengklarifikasi pendapat yang benar.

Hal ini seringnya terjadi pada orang yang daya pikirnya lambat Adapun orang yang cepat daya pikirnya maka jika dia mendengar pendapat yang menyalahkan apa yang dia yakini, hal itu akan membangkitkan semangatnya untuk berusaha mengetahui masalah yang dia yakini dan membahasnya hingga tuntas.

Al-Allamah Abdurrahman Al-Mu’allimy rahimahullah berkata: “Seorang ulama yang kokoh ilmunya adalah yang jika dia mendapatkan ilmu yang meyakinkan dalam sebuah masalah maka dia memegangi dengan kuat, dan dia tidak peduli dengan hal-hal yang terkadang menimbulkan keraguan terhadapnya, bahkan dia akan berpaling dari hal-hal yang menimbulkan keraguan tersebut, atau dia akan memperhatikannya dengan seksama berdasarkan apa yang telah dia yakini itu.” [1]

Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah berkata: “Orang yang mengetahui kebenaran hanyalah yang mau mengumpulkan lima sifat, yang terbesar adalah ikhlash, lalu pemahaman, sikap inshaf (adil), yang keempat – INI YANG PALING SEDIKIT DAN SERINGNYA TIDAK ADA – yaitu semangat dalam berusaha mengetahui mana yang benar, dan semangat mendakwahkannya.” [2]

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya kebenaran akan senantiasa terjaga, berwibawa, berharga, dan mulia, namun dia tidak akan bisa diraih tanpa mau berusaha mencarinya, tidak tertarik dan tidak ada keinginan untuk mengetahuinya. Kebenaran tidak akan membangkitkan semangat para pengangguran dan orang-orang yang berpaling darinya, dan tidak akan menyeru orang-orang yang sifatnya seperti binatang ternak yang tersesat.” [3]

Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa tidak akan menerima kebenaran kecuali orang yang memang benar-benar mencarinya dan menginginkannya.” [4]

Ibnul Jauzy rahimahullah berkata: “Musibah terbesar adalah seseorang ridha terhadap dirinya dan merasa puas dengan ilmu yang dia miliki. Ini merupakan bencana yang menimpa mayoritas manusia. Engkau bisa melihat seorang Yahudi atau Nasrani merasa dirinya di atas keyakinan yang benar, sehingga dia tidak mau lagi meneliti dan memperhatikan bukti kenabian yang ada pada nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam. Dan jika dia mendengar sesuatu yang akan melembutkan hatinya seperti Al-Qur’an yang penuh mu’jizat, dia justru lari karena memang tidak ingin mendengarnya. Demikian juga setiap orang yang memiliki hawa nafsu yang bercokol pada dirinya, apakah hal itu karena dia mengikuti madzhab ayahnya dan keluarganya, atau karena dia memiliki pandangan tertentu sehingga melihatnya sebagai kebenaran, namun dia tidak mau memperhatikan hal-hal yang menyelisihinya, dan juga tidak berusaha bertanya kepada para ulama agar menjelaskan kesalahannya kepadanya.” [5]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hanya saja perlu diketahui bahwa mayoritas orang yang tersesat dalam masalah ini atau tidak mampu untuk mengetahui mana yang benar padanya, hal itu hanyalah karena dia meremehkan sikap mengikuti petunjuk yang dibawa oleh Rasul, tidak mau memperhatikan dan tidak pula mencari petunjuk yang bisa menyampaikannya kepada pengetahuan tentangnya. Maka tatkala mereka berpaling dari Kitab Allah, mereka pun tersesat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّيْ هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Jika datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan juga tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya dia akan merasakan kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (QS. Thaaha: 123-124)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata: “Allah menjamin siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan benar-benar mengamalkan kandungannya, dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” Lalu Ibnu Abbas membaca ayat di atas. [6]

Ibnu Taimiyah juga berkata: “Hanyalah yang itu terjatuh ke dalam bid’ah itu orang yang kurang upayanya untuk mengikuti jalan yang ditempuh oleh para nabi baik secara ilmu maupun dalam pengamalannya.” [7]

Jadi siapa saja yang meremehkan usaha mencari kebenaran dan tidak bersungguh-sungguh mencari dalil, maka tidak layak baginya untuk bersikap yang tidak pantas terhadap orang lain yang menyelisihinya atau tidak menerima alasannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah ketika menutup pembahasan tentang hukum thalaq (cerai) terhadap wanita yang sedang haidh dan membandingkan dua pendapat yang ada serta memilih pendapat yang menyatakan bahwa thalaq dalam keadaan seperti ini tidak jatuh, beliau mengatakan: “Jika seseorang termasuk orang yang langkahnya pendek (meremehkan) dalam usaha mencari ilmu sehingga dia tidak mampu memahami dalil dengan benar dan tangannya menjulur ke tanah sehingga dia tidak mampu memetik buah ilmu, maka hendaklah dia menerima alasan orang lain yang telah mengerahkan segenap usahanya dan selalu berada di sekitar warisan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, menerapkannya dan berhukum kepadanya dengan semangat jika dia menjumpai perselisihan.” [8]

Catatan Kaki:

[1] Al-Anwaar Al-Kaasyifah, hal. 34.
[2] Qathfut Tsamar Fii Bayaani Aqiidati Ahlil Atsar, hal. 175.
[3] Qathfut Tsamar Fii Bayaani Aqiidati Ahlil Atsar, hal. 175.
[4] Majmuu’atut Tauhiid, risalah pertama, hal. 65.
[5] Shaidul Khaathir, hal. 374.
[6] Majmuu’ul Fataawa, III/314. Lihat juga: Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql, I/54.
[7] Al-Jawaab Ash-Shahiih Liman Baddala Diinal Masiih, III/85.
[8] Zaadul Ma’aad, V/240.

BERSAMBUNG INSYA ALLAH

Alih Bahasa: Abu Almass
Rabu, 22 Dzulqa’dah 1435 H

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.