Hal-Hal Yang Memalingkan Dari Kebenaran – Bagian 1

 

Hal-hal yang Memalingkan Dari Kebenaran-Kebodohan1

HAL-HAL YANG MEMALINGKAN DARI KEBENARAN

” KEBODOHAN ”  [ Bagian Pertama ]

Asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim Al-Utsman hafizhahullah

Kebenaran terang dan jelas, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ.

“Dan sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” (QS. Al-Qamar: 17)

Jadi Allah memudahkan lafazhnya untuk dibaca dan memudahkan maknanya untuk dipahami.

Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda:

الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ.

“Yang halal jelas dan yang haram jelas, dan diantara keduanya terdapat perkara-perkara yang tersamar.”  [1]

Sedangkan ijma’ terwujud berdasarkan hukum asal ini.  [2]

Oleh karena itulah kebathilan menyebar di tengah-tengah orang-orang yang tidak memiliki ilmu, pengetahuan dan perhatian terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perkataan para Shahabat dan Tabi’in.

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata:

إِنَّمَا جَاءَ خِلَافُ مَنْ خَالَفَ لِقِلَّةِ مَعْرِفَتِهِمْ بِمَا جَاءَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Perselisihan dari orang yang menyelisihi kebenaran hanyalah karena sedikitnya pengetahuan mereka terhadap apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi was sallam.”  [3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فَالْحَقُّ يَعْرِفُهُ كُلُّ أَحَدٍ فَإِنَّ الْحَقَّ الَّذِيْ بَعَثَ اللهُ بِهِ الرُّسُلَ لَا يَشْتَبِهُ بِغَيْرِهِ عَلَى الْعَارِفِ كَمَا لَا يَشْتَبِهُ الذَّهَبُ الْخَالِصُ بِالْمَغْشُوْشِ عَلَى النَّاقِدِ.

“Jadi kebenaran itu diketahui oleh setiap orang, karena kebenaran yang dengannya Allah mengutus para rasul tidaklah terkaburkan dengan selainnya bagi orang yang mengetahui, sebagai emas yang murni tidak akan tersamar dengan emas yang tercampuri bagi ahli emas.”  [4]

Beliau juga berkata:

إِنَّ الشَّارِعَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ نَصَّ عَلَى كُلِّ مَا يَعْصِمُ مِنْ الْمَهَالِكِ نَصًّا قَاطِعاً لِلْعُذْرِ.

“Sesungguhnya peletak syari’at (Rasulullah –pent) alaihis shalatu was salam telah menyampaikan nash pada semua perkara yang akan menjaga dari hal-hal yang membinasakan dengan sejelas-jelasnya sehingga manusia tidak punya alasan lagi.”  [5]

Beliau juga berkata:

وَكَثِيرًا مَا يَضِيْعُ الْحَقُّ بَيْنَ الْجُهَّالِ الْأُمِّيِّيْنَ وَبَيْنَ الْمُحَرِّفِيْنَ لِلْكَلِمِ الَّذِيْنَ فِيْهِمْ شُعْبَةُ نِفَاقٍ.

“Dan seringnya kebenaran itu tersia-siakan atau hilang di tengah-tengah orang-orang yang bodoh yang tidak mengetahui baca tulis dan di tengah-tengah orang-orang yang suka merubah-rubah (lafazh atau makna) dari dalil-dalil syari’at yang pada mereka ini terdapat cabang kemunafikan.”  [6]

Asy-Syaukany rahimahullah berkata:

الْمَيْلُ إِلَى الْأَقْوَالِ الْبَاطِلَةِ لَيْسَ مِنْ شَأْنِ أَهْلِ التَّحْقِيْقِ الَّذِيْنَ لَهُمْ كَمَالُ إِدْرَاكٍ وَقُوَّةُ فَهْمٍ وَفَضْلُ دِرَايَةٍ وَصِحَّةُ رِوَايَةٍ بَلْ ذَلِكَ دَأْبُ مَنْ لَيْسَتْ لَهُ بَصِيْرَة نَافِذَةٌ وَلَا مَعْرِفَةٌ نَافِعَةٌ.

“Cenderung kepada pendapat-pendapat yang bathil bukan sifat orang-orang yang ahli tahqiq (kritikus dan teliti) yang mereka ini memiliki kesempurnaan wawasan, kekuatan pemahaman, kelebihan pengetahuan, dan riwayat yang shahih. Bahkan hal itu adalah sifat orang yang tidak memiliki ilmu yang tajam dan pengetahuan yang bermanfaat.”  [7]

Bahkan madzhab Rafidhah yang dibuat-buat oleh Abdullah bin Saba’ Al-Yahudy yang itu merupakan madzhab yang paling sesat, menyebar juga di tengah-tengah sebagian kaum Muslimin disebabkan kebodohan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

إِنَّ الَّذِيْ ابْتَدَعَ مَذْهَبَ الرَّافِضَةِ كَانَ زِنْدِيْقًا مُلْحِدًا عَدُوًّا لِدِيْنِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ، وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ الْمُتَأَوِّلِيْنَ كَالْخَوَارِجِ وَالْقَدَرِيَّةِ، وَإِنْ كَانَ قَوْلُ الرَّافِضَةِ رَاجَ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ إِيمَانٌ لِفَرْطِ جَهْلِهِمْ.

“Sesungguhnya yang telah mengada-adakan madzhab Rafidhah adalah seorang zindiq mulhid yang merupakan musuh Islam dan ummat Islam, dan dia ini bukan termasuk ahli bid’ah yang melakukan ta’wil seperti Khawarij dan Qadariyah, walaupun keyakinan Rafidhah ini menyebar setelah itu di tengah-tengah orang-orang yang masih memiliki keimanan disebabkan karena parahnya kebodohan mereka.”  [8]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

وَالْأَسْبَابُ الْمَانِعَةُ مِنْ قَبُوْلِ الْحَقِّ كَثِيْرَةٌ جِدًّا فَمِنْهَا: الْجَهْلُ بِهِ، وَهَذَا السَّبَبُ هُوَ الْغَالِبُ عَلَى أَكْثَرِ النُّفُوْسِ، فَإِنَّ مَنْ جَهِلَ شَيْئًا عَادَاهُ وَعَادَى أَهْلَهُ.

“Sebab-sebab yang menghalangi untuk menerima kebenaran sangat banyak, diantaranya adalah tidak mengetahui kebenaran, dan sebab ini yang mendominasi mayoritas jiwa, karena siapa yang tidak mengetahui sesuatu maka dia akan memusuhinya dan memusuhi orang-orangnya.”  [9]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَلَا تَجِدُ أَحَدًا وَقَعَ فِيْ بِدْعَةٍ إِلَّا لِنَقْصِ اتِّبَاعِهِ لِلسُّنَّةِ عِلْمًا وَعَمَلًا. وَإِلَّا فَمَنْ كَانَ بِهَا عَالِمًا، وَلَهَا مَتَّبِعًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ دَاعٍ إِلَى الْبِدْعَةِ، فَإِنَّ الْبِدْعَةَ يَقُعُ فِيْهَا الْجُهَّالُ بِالسُّنَّةِ.

“Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang terjatuh kepada sebuah bid’ah, kecuali hal itu disebabkan kurangnya dalam mengikuti As-Sunnah secara ilmu maupun pengamalannya. Kalau tidak demikian maka siapa saja yang mengetahui As-Sunnah dan mengikutinya dengan baik, tidak akan ada pada dirinya pendorong untuk melakukan bid’ah tersebut, karena yang terjatuh pada bid’ah adalah orang-orang yang bodoh terhadap As-Sunnah.”  [10]

Siapa yang meremehkan usaha menghilangkan kebodohan (belajar ilmu agama –pent) dari dirinya, maka orang semacam ini tidak diterima jika dia beralasan tidak tahu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَيُلْحَقُ الذَّمُّ مَنْ تَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ فَتَرَكَهُ، أَوْ مَنْ قَصَرَ فِيْ طَلَبِهِ حَتَّى لَمْ يَتَبَيَّنْ لَهُ، أَوْ أَعْرَضَ عَنْ طَلَبِ مَعْرِفَتِهِ لِهَوًى، أَوْ لِكَسَلٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ.

“Dan ikut mendapatkan celaan siapa saja yang mengetahui kebenaran dengan jelas namun dia meninggalkannya, atau orang yang meremehkan dalam mencarinya sehingga dia tidak mengetahui kebenaran dengan jelas, atau dia berpaling dari usaha mengetahuinya dikarenakan hawa nafsu, karena malas, atau yang semisalnya.”  [11]

Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’dy rahimahullah berkata: “Siapa diantara mereka yang ridha dengan bid’ah yang dia lakukan, meninggalkan usaha mencari dalil-dalil syari’at dari tidak mau mencari apa yang merupakan kewajiban atasnya berupa ilmu yang membedakan antara kebenaran dan kebathilan, membela bid’ahnya tersebut, dan menolak apa yang dibawa oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, di samping kebodohan dan kesesatannya serta meyakininya sebagai kebenaran, maka orang semacam ini dia sesat dan fasiq sesuai kadarnya dalam meninggalkan apa-apa yang Allah wajibkan atasnya dan sesuai kelancangannya dalam melanggar apa-apa yang Allah Ta’ala haramkan.”  [12]

Asy-Syaikh Al-Walid Al-Allamah Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

قَدْ لَا يُعْذَرُ الْإِنْسَانُ بِالْجَهْلِ، وَذَلِكَ إِذَا كَانَ بِإِمْكَانِهِ أَنْ يَتَعَلَّمَ وَلَمْ يَفْعَلْ، مَعَ قِيَامِ الشُّبْهَةِ عِنْدَهُ، كَرَجُلٍ قِيْلَ لَهُ: هَذَا مُحَرَّمٌ، وَكَانَ يَعْتَقِدُ الْحِلَّ، فَسَوْفَ تَكُوْنُ عِنْدَهُ شُبْهَةٌ عَلَى الْأَقَلِّ، فَعِنْدَئِذٍ يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَعَلَّمَ لِيَصِلَ إِلَى الْحُكْمِ بِيَقِيْنٍ. فَهَذَا رُبَّمَا لَا نَعْذرُهُ بِجَهْلِهِ؛ لِأَنَّهُ فَرَّطَ فِيْ التَّعْلِيْمِ، وَالتَّفْرِيْطُ يُسْقِطُ الْعُذْرَ، لَكِنْ مَنْ كَانَ جَاهِلاً، وَلَم ْيَكُنْ عِنْدَهُ أَيُّ شُبْهَةٍ، وَيَعْتَقِدُ أَنَّ مَا هُوَ عَلَيْهِ حَقٌّ، أَوْ يَقُوْلُ هَذَا عَلَى أَنَّهُ الْحَقُّ، فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ لَا يُرِيْدُ الْمُخَالَفَةَ وَلَمْ يُرِدْ الْمَعْصِيَّةَ وَالْكُفْرَ، فَلَا يُمْكِنْ أَنْ نُكَفِّرَهُ حَتَّى وَلَوْ كَانَ جَاهِلاً بِأَصْلٍ مِنْ أُصَوْلِ الدِّيْنِ.

“Terkadang seseorang tidak diberi udzur (toleransi –pent) dengan sebab ketidaktahuan. Hal itu ketika memungkinkan baginya untuk belajar namun dia tidak melakukannya, padahal ada syubhat (perkara yang tidak jelas dan rancu –pent) baginya. Misalnya ada seseorang yang dikatakan kepadanya bahwa sesuatu haram hukumnya, sementara dia meyakininya halal. Maka minimalnya akan muncul syubhat pada dirinya, sehingga ketika itu wajib atasnya untuk belajar sampai dia mengetahui hukumnya dengan yakin. Jadi orang semacam ini terkadang tidak kita beri udzur dengan dalih ketidaktahuannya, karena dia meremehkan untuk belajar, sementara sikap meremehkan itu menggugurkan udzur. Tetapi orang yang bodoh sementara pada dirinya tidak terdapat syubhat sedikitpun dan dia meyakini apa yang dia amalkan adalah benar, atau dia melakukan sebuah kesalahan karena meyakininya sebagai kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa dia ini tidak bermaksud menyelisihi kebenaran dan juga tidak bermaksud untuk berbuat maksiat dan kekafiran, sehingga tidak mungkin untuk kita kafirkan, walaupun dia bodoh terhadap salah satu dari prinsip-prinsip pokok agama ini.”  [13]

Footnote:

[1] Muttafaqun alaihi,
[2] Taudhihul Kaafiyatis Syaafiyah, hal. 79.
[3] I’lamul Muwaqqi’iin, I/44.
[4] Majmu’ul Fataawa, XXVII/315-316.
[5] Dar-u Ta’aarudhil Aqli wan Naql, I/73.
[6] Majmu’ul Fataawa, XXV/129.
[7] Adabut Thalab wa Muntahal Adab, hal. 40.
[8] Minhaajus Sunnah, IV/363.
[9] Hidaayatul Hayaara, hal. 18.
[10] Syarh Hadits Laa Yazniz Zaany, hal. 35.
[11] Iqtidhaaus Shiraatil Mustaqiim, II/85.
[12] Irsyaad Ulil Bashaa-ir, hal. 300.
[13] Asy-Syarhul Mumti’, VI/193-194.

Alih Bahasa: Abu Almass –afaallahu anhu–
Senin, 12 Rajab 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.