Cukupkah Menjelaskan Kebenaran Tanpa Membantah Kebathilan

Menjelaskan Kebenaran Tanpa Membantah KebathilanCUKUPKAH MENJELASKAN KEBENARAN TANPA MEMBANTAH KEBATHILAN

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah

Seorang yang mendakwahkan agama Allah selalu bersama dua keadaan: memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.

Amar ma’ruf adalah mengajak manusia kepada kebaikan, sedangkan nahi mungkar adalah mengingkari semua hal yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam. Jadi harus ada hal yang ini dan yang itu. Padanya terdapat bantahan yang paling mengena terhadap siapa saja yang mengatakan kepadamu: “Ajarilah manusia yang benar, mereka otomatis akan mengetahui yang salah!” Orang yang semacam ini dia bodoh berlipat. Karena Allah memuji orang-orang yang beriman baik dan maupun wanita karena mereka memiliki sifat suka amar ma’ruf. Amar ma’ruf adalah mengajak manusia. Dan mereka juga melarang dari kemungkaran. Jadi harus ada yang ini dan yang itu.

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan petunjukku dan petunjuk para khalifah yang mendapat hidayah dan lurus, peganglah erat-erat dan gigitlah petunjukku dengan gigi geraham.”

Apakah di sini Nabi shallallahu alaihi was sallam diam saja?! Saya tanya kalian: apakah beliau diam saja?! Tidak, bahkan beliau melanjutkan dengan mengatakan:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ.

“Dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya semua perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah.” [1]

Jadi beliau memerintahkan agar menetapi bimbingan As-Sunnah dan beliau juga memperingatkan bid’ah bahkan sebelum bid’ah itu muncul. Maka bagaimana dengan kita pada hari ini dalam keadaan bumi telah penuh dengan berbagai bid’ah?!

Seorang yang mendakwahkan agama Allah secara jujur dan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu alaihi was sallam dia akan selalu menyertai yang ini dan yang itu dalam dakwahnya. Dan siapa saja yang mengatakan kepadamu: “Ajaklah manusia kepada kebaikan, otomatis mereka akan mengetahui keburukan!” Maka ketahuilah bahwasanya dia telah bersembunyi dan menyembunyikan kejahatan yang dia tidak ingin tersingkap, karena sesungguhnya seorang muslim yang jujur dan seorang penuntut ilmu salafy sunny atsary –apalagi seorang ulama sunny– tidak akan menerima ucapan semacam ini.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Dengan sebab apa (kalian menjadi umat terbaik)?!

تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110)

Dua hal ini (menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar) sama-sama dilakukan.

وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.

“Dan kalian beriman kepada Allah, seandainya ahli kitab mau beriman niscaya hal itu lebih baik baik mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Kita berlindung kepada Allah dari ketergelinciran lisan dan segala puji bagi Allah yang menjaga Kitab-Nya.

وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.

“Dan kalian beriman kepada Allah, seandainya ahli kitab mau beriman niscaya hal itu lebih baik baik mereka. Sebagian mereka ada yang beriman dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Jadi kebaikan itu akan datang jika dibangun di atas dua perkara ini secara berbarengan, yaitu:

تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ.

“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110)

Jadi orang yang mengatakan kepadamu: “Jelaskanlah kebenaran dan jangan engkau bantah kebathilan!” Maka orang ini telah menegakkan perkara yang paling bathil dan dia ingin menutup-nutupinya, namun alangkah jauhnya hal itu.

Jadi kita kan selalu menyertai dua perkara ini semuanya, karena kebaikan akan terwujud pada perkara ini dan pertolongan dari Allah terdapat pada hal ini. Maka harus ada usaha mendakwahkan kebenaran dan pertunjuk serta mengingkari kebathilan yang menyelisihi kebenaran dan pertunjuk tersebut.

Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=mOCbZmxze6w

Dengarkan Audio:

~  Download Audio di Sini

Alih bahasa: Abu Almass
Jum’at, 13 Ramadhan 1435 H

—————————————————————————————————————–

Keterangan:

1.    HR. Abu Dawud (4607), At-Tirmidzy (2676) dan Ibnu Majah (43, 44) dan Ahmad (4/126) dengan lafazh yang hampir sama.

Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah di dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa fii Ash-Shahihain no. 921 dan di dalam Al-Jami’ Ash-Shahih Mimma Laisa fi Ash-Shahihain (5/24-25) dan dicantumkan Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 937. (pent)

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.