BOLEHKAH MENGAMBIL ILMU DARI UMMU ‘ABDILLAH AL-WADI’IYYAH

BOLEHKAH MENGAMBIL ILMU DARI UMMU ABDILLAH AL-WADI’IYYAH

Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Yusuf bin Faris al-Makky hafizhahullah

Pertanyaan: Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Bolehkah mengambil ilmu dari Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah, putri dari asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy? Karena salah seorang akhwat mengatakan kepada saya bahwa tidak wajib mengambil ilmu darinya, dan dia mengatakan bahwa dia telah bertanya kepada ulama dalam masalah ini.

Jawaban: Waalaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.

الحمدُ لله، ﻭﺍﻟﺼﻼ‌ﺓُ ﻭﺍﻟﺴﻼ‌ﻡُ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭﺻَﺤﺒِﻪِ ﺃجمعين، ومَن تَبِعَهُم بإحسانٍ إلى يومِ الدِّين،

Amma ba’du;

Wajib atas Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah untuk menampakkan dan menjelaskan kepada kita tentang sikapnya yang jelas dan terang setelah munculnya berbagai fitnah yang menimpa dakwah Salafiyyah di Yaman:

Pertama: Sikapnya terhadap Yahya al-Hajury si mubtadi’ yang sesat itu.

Kedua: Sikapnya terhadap masayikh penggembos di Yaman, yaitu para penandatangan surat penggembosan, penuh kedustaan dan fitnah, serta mengalah dalam kebenaran, yang dipimpin oleh dedengkot penggembosan Muhammad ar-Raimy.

Ketiga: Sikapnya terhadap Masayikh Salafiyun Kibar yang menghadang orang-orang sesat itu.

Keempat: Kejelasan dalam memaparkan ilmu, terkhusus dalam masalah manhaj, dan dia jangan menggunakan metode yang mengambang dan bersifat umum, seperti dengan mengatakan, “Hendaklah kalian menyibukkan diri dengan ilmu!” Ini adalah ucapan yang benar, namun sering dimaukan untuk membela kebathilan oleh banyak orang, sehingga harus dijelaskan apa maksudnya.

Kelima: Sikapnya terhadap Masayikh Yaman yang menentang gerakan pelembekan dan penggembosan, seperti Asy-Syaikh Hani al-Buraik dan Asy-Syaikh Ali al-Hudzaify serta yang bersama mereka dari orang-orang yang kokoh di atas manhaj Salaf.

Kemudian perlu untuk mengingatkan perkara besar, yaitu bahwasanya guru dan orang tua kami Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’iy –rahimahullah- pernah ditanya ketika beliau sedang berada di rumah guru kami Asy-Syaikh Rabi’ –hafizhahullah- dan ketika itu saya duduk, “Apa sebab keberhasilan dakwah di Yaman?” Maka beliau menjawab, “Sebabnya adalah adanya tamayyuz (membedakan diri dan memisahkan diri dari orang-orang yang menyimpang).”

Saya juga mengingatkan perkara yang sangat penting sekali, yaitu bahwasanya manhaj Salaf dan ilmu syar’i tidak mengenal ada pewarisan padanya. Jadi tidak benar dengan sekedar mengatakan bahwa si fulan adalah anak dari Syaikh Fulan, dan tidak benar pula menjadikan seseorang itu anaknya siapa sebagai parameter dan timbangan untuk menilai apakah anak tersebut akidah dan manhajnya benar. Jadi pemahaman semacam ini sangat jelas kesalahannya. Jadi untuk membuktikan kebenaran aqidah dan manhaj seseorang bukan dengan melihat bahwa dia adalah anaknya ulama si fulan, tetapi tazkiyah (pujian) itu hanyalah berdasarkan kekokohannya di atas aqidah dan manhaj Salaf hingga meninggl, wallahu a’lam.

Saya tulis hal ini dan saya tidak ingin bicara panjang lebar dalam masalah ini, hanya saja karena banyaknya pertanyaan tentang Ummu Abdillah al-Wadi’iyyah dan juga karena hal-hal yang beritanya sampai kepada saya tentangnyaa, sehingga saya tulis lima perkara ini agar jelas sikapnya. Dan tidak diragukan lagi bahwa perkaranya ini berkaitan dengan agama, karena kejelasan itu termasuk sifat Salafiyun yang paling menonjol dan termasuk ciri khusus dakwah mereka.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

متى رزق العبد انقيادا للحق وثباتا عليه فليبشر، فقد بشر بكل خير، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء.

“Kapan saja seorang hamba dikaruniai sikap tunduk kepada kebenaran dan kekokohan di atasnya, maka hendaklah dia bergembira, karena sesungguhnya dia telah diberi kabar gembira akan mendapatkan semua kebaikan, dan itu adalah keutamaan dari Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”

? Thariqatul Hijratain, jilid 2 hlm. 347

Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulllah berkata,

”وبكل حال فالعبد مفتقر إلى الله في أن يهديه ويلهمه رشده، وقد يكون الرجل من أذكياء الناس وأحدهم نظراً ويعميه عن أظهر الأشياء، وقد يكون من أبلد الناس وأضعفهم نظراً ويهديه لما اختلف فيه من الحق بإذنه، فلا حول ولا قوة إلا به، فمن اتكل على نظره واستدلاله، أو عقله ومعرفته خذل، ولهذا كان النبي ﷺ في الأحاديث الصحيحة كثيراً ما يقول: (يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك) ويقول في يمينه: (لا ومقلب القلوب)“ اﻫـ

• انظر: (درء التعارض) (٣٤/٩)

“Bagaimanapun yang jelas seorang hamba butuh kepada Allah agar memberinya hidayah dan mengilhamkan kelurusan kepadanya. Terkadang seseorang termasuk orang yang paling cerdas dan paling tajam pandangannya, namun Allah membutakannya dari melihat sesuatu yang paling jelas. Sebaliknya terkadang seseorang termasuk yang paling lambat berfikir dan paling lemah pandangannya, namun Allah memberinya hidayah kepada kebenaran pada perkara-perkara yang diperselisihkan dengan seizin-Nya. Jadi tidak ada daya dan upaya kecuali semata-mata dengan pertolongan-Nya. Maka siapa saja yang hanya bersandar kepada pandangan dan pendalilannya atau kepada akal dan pengetahuannya, maka dia akan dibiarkan terlantar. Oleh karena inilah dahulu Nabi shallallahu alaihi was sallam dalam hadits-hadits yang shahih disebutkan bahwa beliau sering berdoa dengan mengatakan, “Wahai Yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu.” Dan beliau juga pernah bersumpah dengan mengatakan, “Tidak, demi Yang membolak-balikkan hati.”

Lihat: Dar’ut Ta’arudh Bainal Aqli wan Naqli, jilid 9 hlm. 34

***

Ditulis oleh: Al-Makky
Pada waktu dhuha, 10 Syawwal 1437 H

Sumber: Channel Fawaid Abu Abdirrahman al-Makky

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.