Betulkah Ucapan Tentang Tidak Bolehnya Mengkafirkan Yahudi Dan Nashrani?

header forum salafy 48BETULKAH UCAPAN TENTANG TIDAK BOLEHNYA MENGKAFIRKAN YAHUDI DAN NASHRANI?

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ditanya: (bagaimana pendapat beliau) tentang perkataan seorang penceramah di salah satu masjid di Eropa bahwa (kita) tidak boleh mengkafirkan Yahudi dan Nashrani?

Beliau menjawab:
Ucapan yang keluar dari orang ini adalah ucapan sesat. Bahkan bisa jadi ia merupakan kekafiran, karena Allah telah mengkafirkan orang Yahudi dan Nashrani dalam kitab-Nya:

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik (menyekutukan Allah) dan Allah menerangkan dalam banyak ayat lain yang dengan tegas mengkafirkan mereka.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” (Al-Maidah: 17, 72)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam.” (Al-Maidah: 78)

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

Ayat-ayat lain dalam masalah ini jumlahnya cukup banyak, demikian pula hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka barangsiapa yang mengingkari kafirnya Yahudi dan Nashrani yang tidak beriman kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, sebaliknya malah mendustakannya, berarti ia mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan mendustakan Allah adalah kekafiran. Barangsiapa yang ragu terhadap kekafiran Yahudi dan Nashrani maka tidak ada keraguan tentang kafirnya dia.

Subhanallah, bagaimana orang ini merasa ridha untuk mengatakan bahwa kita tidak boleh mengatakan kafir kepada Yahudi dan Nashrani, padahal mereka mengatakan bahwa Allah itu adalah tuhan ketiga dari tuhan yang (jumlahnya) tiga?! Padahal Pencipta mereka telah mengkafirkan Yahudi dan Nashrani.

Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nashrani padahal mereka mengatakan bahwa Al-Masih adalah putra Allah dan mengatakan tangan Allah itu terbelenggu? Juga mengatakan bahwa Allah faqir dan mereka kaya. Bagaimana ia tidak mau mengkafirkan Yahudi dan Nasrani padahal mereka mensifati Allah I dengan sifat-sifat jelek yang semuanya adalah aib, celaan dan cercaan? Saya mengajak orang ini untuk bertaubat kepada Allah dan membaca firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Maka mereka menginginkan supaya kamu ber-mudahanah lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (Al-Qalam: 9)

Jangan ia ber-mudahanah (megorbankan prinsip agama demi menjaga perasaan mereka -pent) dengan Yahudi dan Nashrani dalam hal kekafiran mereka. Dan hendaknya ia  menerangkan kepada setiap orang bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan penghuni neraka. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Maka wajib atas orang yang mengucapkan ini (yaitu ucapan bahwa Yahudi dan Nashrani tidak kafir) untuk bertaubat kepada Allah dari ucapan dan kebohongan yang besar ini, dan agar mengatakan terang-terangan bahwa mereka adalah orang-orang kafir dan para penghuni neraka. Dan yang wajib bagi mereka adalah mengikuti Nabi yang ummi  yaitu Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam karena (nama) beliau sesungguhnya telah tertulis di sisi mereka dalam kitabTaurat dan kitab Injil.

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka. Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

Itu adalah kabar gembira dari Nabi ‘Isa bin Maryam. ‘Isa bin Maryam  telah berkata sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan dalam Al Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa Putra Maryam berkata: Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaff: 6)

Tatkala datang kepada mereka (seseorang) yang dikabarkan ia adalah Ahmad, dengan membawa al-bayyinat (keterangan-keterangan), mereka mengatakan: “Ini adalah sihir yang nyata.” Dengan ini kamu membantah pengakuan orang Nashrani yang mengatakan: “Sesungguhnya yang dikabarkan oleh ‘Isa adalah Ahmad bukan Muhammad.”

Maka kita katakan, “Sesungguhnya Allah berfirman yang artinya: “Maka tatkala datang kepada mereka.” Dan tidak ada yang datang setelah ‘Isa  kecuali Muhammad dan Muhammad adalah Ahmad akan tetapi Allah mengilhami Nabi ‘Isa  untuk menyebut Nabi Muhammad dengan nama Ahmad. Karena Ahmad adalah ism tafdhil dari kata hamd. Jadi dia adalah orang yang sangat memuji Allah  dan beliau adalah orang yang sifatnya paling terpuji.

Sungguh aku katakan, barangsiapa yang menganggap bahwa di muka bumi ini ada agama yang diterima oleh Allah selain Islam, maka dia kafir dan tiada keraguan tentang kekafirannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Atas dasar ini – saya ulangi yang ketiga kalinya – orang yang mengatakan hal ini agar bertaubat kepada Allah dan menerangkan kepada seluruh manusia bahwa Yahudi dan Nashrani adalah orang-orang kafir karena hujjah telah tegak pada mereka dan telah sampai kepada mereka risalah akan tetapi mereka kafir karena membangkang. Sungguh Yahudi telah disifati bahwa sebagai orang-orang maghdhub ‘alaihim (orang yang dimurkai) karena mereka mengetahui kebenaran namun menyelisihinya. Dan Nashara disifati dengan dhallun (sesat) karena menginginkan kebenaran tapi tersesat. Sekarang semua telah tahu yang benar akan tetapi mereka menyelisihinya, maka mereka semua berhak untuk menjadi orang-orang yang dimurkai.

Aku mengajak mereka, Yahudi dan Nashrani, untuk beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan agar mengikuti Muhammad, karena inilah yang diperintahkan kepada mereka di dalam kitab-kitab mereka sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka…” (Al-A’raf: 156-157)

“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)

Hendaknya mereka mengambil dua pahala, sebagaimana sabda Rasulullah :

“Tiga golongan yang mereka mendapatkan dua pahala, (salah satunya yaitu) seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman dengan Nabinya dan beriman dengan Nabi Muhammad  …” (Shahih, HR. Al-Bukhari dalam Kitabul ‘Ilm, no. 95)

Kemudian setelah keterangan ini aku mendapatkan ucapan penulis kitab Al-Iqna’ dalam Bab Murtad, beliau mengatakan setelah ucapannya yang sebelumnya: “… (seseorang) yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nashara, ragu terhadap kekafiran mereka, atau menganggap ajaran mereka adalah benar, maka dia kafir.”

Dinukilkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ucapan beliau: “Barangsiapa yang meyakini bahwa gereja-gereja adalah rumah Allah, bahwa Allah diibadahi di sana, dan yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nashara adalah ibadah dan (merupakan bentuk) ketaatan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, atau ia suka dengan hal itu, ridha terhadapnya, membantu mereka untuk melakukannya dan menegakkan mereka, dan (menganggap) bahwa itu merupakan bentuk pendekatan diri (qurbah) kepada Allah atau ketaatan kepada-Nya, maka dia kafir.”
Beliau juga mengatakan dalam kesempatan yang lain: “Barangsiapa yang menyakini bahwa mengunjungi ahludz dzimmah (orang kafir yang hidup di negeri muslim) di gereja-gereja mereka adalah merupakan qurbah kepada Allah, maka ia murtad.” Ini menguatkan apa yang kami katakan di awal jawaban dan ini merupakan perkara yang tidak ada kesamaran padanya. Wallahul musta’an.

Diterjemahkan dari kumpulan fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin berjudul Majmu’ Fatawa jilid ketiga pada pembahasan Al-Wala wal Bara oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

————————————————

Sumber : Majalah Asy Syariah

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.