BERSIKAP HIKMAH MENGHADAPI KECEMBURUAN DIANTARA PARA ISTRI

BERSIKAP HIKMAH MENGHADAPI KECEMBURUAN DIANTARA PARA ISTRI

Ketika Abu Mihjan Nashib bin Rabbah rahimahullah mendapatkan harta yang banyak dia hanya memiliki satu istri saja yang kulitnya hitam yaitu Ummu Mihjan, maka dia pun menikah lagi dengan seorang wanita yang berkulit putih. Mengetahui hal itu maka Ummu Mihjan pun marah dan cemburu.

Maka Abu Mihjan berusaha meredakannya dengan mengatakan: “Wahai Ummu Mihjan, demi Allah, orang yang seperti diriku ini tidak pantas dicemburui, karena aku ini sudah tua, demikian juga engkau tidak pantas untuk cemburu karena engkau juga sudah tua. Dan aku tidak menjumpai orang yang lebih mulia dan lebih besar haknya atas diriku dibandingkan dirimu, maka biarkanlah perkara ini dan janganlah engkau memperkeruhnya!”

Mendengar hal itu maka Ummu Mihjan ridha dan tenang kembali.

Setelah itu Abu Mihjan berkata kepadanya: “Maukah engkau kupertemukan dengan istriku yang baru, karena hal itu akan lebih bisa menjaga hubungan, lebih menyatukan, dan lebih menjauhkan dari sikap saling mencela.”

Ummu Mihjan menjawab: “Silahkan.”

Lalu Abu Mihjan memberinya uang satu dinar dan berkata kepadanya: “Aku tidak ingin dia melihat dirimu kuperlakukan secara khusus dan aku juga tidak ingin dia mengalahkan dirimu, maka hadiahkanlah dinar ini kepadanya jika besok dia datang menemuimu!”

Lalu Abu Mihjan mendatangi istrinya yang baru seraya berkata: “Saya ingin mempertemukan dirimu dengan Ummu Mihjan besok dan dia akan memuliakan dirimu, tetapi aku tidak ingin dia mengalahkan dirimu, maka ambillah dinar ini dan hadiahkanlah kepadanya jika engkau telah menemuinya besok, agar dia tidak merasa engkau kuperlakukan secara khusus, dan engkau jangan menyebutkan kepadanya bahwa hadiah yang engkau berikan kepadanya tersebut adalah dinar!”

Kemudian Abu Mihjan mendatangi salah seorang sahabatnya yang biasa dia mintai nasehat, maka dia pun berkata: “Aku ingin mempertemukan istriku yang baru dengan Ummu Mihjan besok, maka datanglah besok ke rumahku karena aku akan mengajakmu makan siang. Jika engkau selesai makan, tanyalah kepadaku mana yang paling aku cintai dari kedua istriku tersebut, namun nanti aku akan menghindar dan merasa keberatan serta enggan untuk memberitahukannya kepadamu. Kalau aku sudah menyatakan keberatan, maka desaklah diriku dengan bersumpah!”

Keesokan harinya istrinya yang baru mengunjungi Ummu Mihjan dan sahabatnya tadi pun datang ke rumahnya dan dia ajak duduk. Setelah keduanya menyantap makan siang, maka sahabatnya tersebut bertanya sesuai yang direncanakan oleh keduanya: “Wahai Abu Mihjan, aku ingin engkau mengabarkan kepadaku manakah yang lebih engkau cintai dari kedua istrimu itu?”

Abu Mihjan menjawab: “Subhanallah, engkau menanyakan hal ini dalam keadaan keduanya mendengar dari dalam. Tidak pernah seorang pun menanyakan masalah semacam ini.”

Sahabatnya tersebut melanjutkan rencana mereka: “Sungguh aku bersumpah demi Allah agar engkau mengabarkannya kepadaku, aku tidak akan memberimu alasan untuk menolaknya dan aku tidak akan menerima kecuali jawabannya.”

Maka Abu Mihjan menjawab: “Jika salah satu dari keduanya ada yang melakukan, maka yang lebih kucintai dari keduanya adalah yang memiliki dinar. Demi Allah, aku pun tidak akan menjawab lebih dari ini sedikit pun.”

Maka kedua istrinya tersebut berpisah sambil tersenyum dalam keadaan masing-masing hatinya merasa senang karena menganggap bahwa dirinyalah yang dimaksud dengan perkataan Abu Mihjan tadi.

Sumber: Al-Muntazham Fii Taarikhil Muluuk wal Umam, 7/130.

Ahad, 13 Jumaadats Tsaniyah 1435 H

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.