Berani Dan Optimis Melalui Tawakal

Berani Dan Optimis Melalui Tawakal1BERANI DAN OPTIMIS MELALUI TAWAKAL

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Orang yang paling minim tingkat ilmunya tidak meragukan keluasan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia ini. Setiap makhluk merasakan dan mendapatkannya. Namun, semua itu tidaklah sebanding dengan keluasan rahmat-Nya di akhirat kelak.

Di dunia, Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan satu dari seratus rahmat-Nya dan 99 rahmat dipersiapkan bagi orang yang beriman kelak di hari kiamat. Tentu merugi dan celaka jika seseorang terlalaikan oleh satu rahmat dan melupakan rahmat yang akan didapatkan kelak di akhirat.

Seseorang dengan mudah bisa mendapatkan keluasan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia, akan tetapi untuk mendapatkan yang 99 tersebut membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Dengan mengetahui luasnya rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia ataupun di akhirat, menjadikan seseorang berani sekaligus berharap (raja’) di dalam hidup. Berani untuk menghadapi segala risiko dalam usaha meraih rahmat yang luas tersebut dan berharap karena Allah Yang Maha Pemurah akan mencurahkan rahmat- Nya kepada siapa pun.

Di sinilah letak keistimewaan hidup orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kala menjalani hidup, dadanya senantiasa lapang dan luas, karena diamengetahui rahasia hidup ini dan rahasia kebahagiaan di atasnya. Mereka berani dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam menjalankan roda ketaatan dan berharap dalam keluasan rahmat, pengampunan, dan kedermawanan Allah Subhanahuwata’ala.

 Namun orang orang yang beriman tersebut sebelum menjadi orang yang berani dan berharap, mereka telah berkarya besar sembari menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam segala usahanya.


Yang Menjadikan Dada Lapang

1. Tauhid

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumullah mengatakan, “Hal terbesar yang akan menjadikan dada lapang adalah ketauhidan. Berdasarkan kesempurnaannya, kekuatannya, dan bertambahnya, kelapangan dada akan mengalami yang serupa. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ

“Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk ( menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (az-Zumar: 22)

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ

 “Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa ta’ala kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’am 125)

Petunjuk dan tauhid adalah sebab yang paling besar bagi lapangnya dada, sebagaimana syirik dan kesesatan sebagai sebab terbesar dada menjadi sempit dan sulit.

2. Iman

Termasuk perkara yang akan menjadikan dada itu lapang adalah cahaya iman yang diletakkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam hati. Dengannya dada menjadi lapang, menjadikan hati selalu dalam kebahagiaan. Jika cahaya iman tersebut sirna, dadanya akan menjadi sempit dan sulit, berada dalam kungkungan yang paling sempit dan sulit. Seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan bagian yang dia dapatkan dari cahaya tersebut, sebagaimana halnya cahaya yang bisa diraba serta kegelapan yang bisa di indra akan menjadikan dada lapang dan dada sempit.

3. Ilmu

Ilmu akan menjadikan dada lapang dan menjadikannya luas, bahkan melebihi luasnya dunia. Sementara itu, kejahilan akan mewariskan dada yang sempit, kerdil, dan tertutup. Di saat ilmu seorang hamba bertambah luas, maka bertambah lapang dadanya.

Tentu saja, hal ini tidak mencakup semua ilmu, tetapi hanya ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ilmu yang bermanfaat. Pemilik ilmu yang bermanfaat adalah orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling bagus kehidupannya.

4. Bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mencintai- Nya setulus hati, memasrahkan diri kepada-Nya, dan bernikmat-nikmat beribadah kepada-Nya, akan menjadikan dada lapang. Sebagian mereka terkadang mengucapkan, “Jika saya di dalam surga dalam kondisi ini, niscaya saya berada dalam kehidupan yang baik.”

5. Cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Sungguh, cinta kepda Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki pengaruh menakjubkan bagi lapangnya dada, baiknya jiwa, dan lezatnya hati. Tidak ada yang mengetahuinya selain orang yang bisa merasakannya. Saat cinta itu kuat dan keras, niscaya dada itu akan menjadi lapang dan luas. Tidaklah dada menjadi sempit kecuali tatkala melihat orang-orang yang telanjang dari semuanya ini. Memandang mereka akan menjadikan mata kita penuh kotoran dan bergaul dengan mereka menjadikan ruh kita panas.

Termasuk perkara besar yang akan menyebabkan dada sesak adalah berpaling dari Allah Subhanahu wa ta’ala, bergantungnya hati kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala, lalai dari menginga Allah Subhanahu wa ta’ala, dan mencintai selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Barang siapa mencintai sesuatu selain Allah Subhanahu wa ta’ala, niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengazabnya dengan sesuatu (selain Allah) tersebut, yang akibatnya hatinya terbelenggu dalam mencintai selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Akhirnya, tidak ada orang yang paling celaka di muka bumi ini daripada dirinya, tidak ada yang paling tertutup akalnya, yang paling jelek kehidupannya, dan yang paling lelah hati daripada dirinya.

6. Zikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Zikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam segala kondisi dan di setiap tempat. Maka dari itu, zikir itu memiliki pengaruh menakjubkan terhadap lapangnya dada dan nikmatnya hati. Tentunya, sikap lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menyempitkan dada, terbelenggu dan tersiksanya.

7. Berbuat Baik kepada Makhluk

Berbuat baik kepada setiap makhluk dan memberikan manfaat kepada mereka dengan segala yang memungkinkan seperti dengan harta, kedudukan, dan yang bermanfaat untuk badan (jasmani), serta berbagai bentuk kebaikan lainnya. Seorang yang dermawan dan senang berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, yang paling baik jiwanya, dan yang paling tenteram hatinya.

Sementara itu, sifat bakhil yang tidak ada padanya kebaikan adalah orang yang paling sempit dadanya, paling jelek kehidupannya, serta yang paling besar keperihan dan kesedihan hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempermisalkan dalam riwayat yang sahih orang yang bakhil dan rajin bersedekah seperti halnya dua orang yang memiliki dua tameng besi.

Di saat orang yang gemar bersedekah mengeluarkan sedekahnya, maka melebarlah tameng itu dan meluas, hingga menutupi pakaian dan anggota badannya. Adapun apabila orang bakhil ingin bersedekah, tetaplah setiap lingkara  besi pada posisinya, tidak meluas. Demikianlah permisalan orang yang beriman dan gemar untuk bersedekah, lapang hatinya. Demikian pula pemisalan orang yang bakhil, sempit dadanya dan tersekap hatinya.

8. Keberanian

Seseorang yang memiliki jiwa pemberani akan memiliki dada yang lapang, luwes perangainya, dan terbuka hatinya. Sementara itu, seorang yang penakut berada dalam kondisi dada yang sempit dan yang paling kerdil hatinya. Dia tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, dan kenikmatan selain sebagaimana halnya binatang.

Oleh karena itu, kebahagiaan ruh, kelezatannya, kenikmatannya, dan kewibawaannya, menjadi sesuatu yang haram didapatkan orang yang memiliki sifat penakut, sebagaimana halnya terhalangi bagi orang yang bakhil, orang yang berpaling dari Allah Subhanahu wa ta’ala, lalai dari berzikir kepada-Nya, jahil tentang Allah Subhanahu wa ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat- Nya, dan tentang agama-Nya, serta menggantungkan hatinya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semua bentuk kenikmatan ini akan menjadi kebun dari salah satu kebun surga di dalam kubur. Demikian halnya kesempitan dada dan kerdilnya hati akan berubah menjadi azab dan belenggu di dalam kubur. Keberadaan seseorang di alam kubur bagaikan keberadaan hati di dalam dada, akankah bernikmat atau mendapat siksaan, terbelenggu atau mendapatkan kemerdekaan? Tidak ada yang menjadi penghalang jika dada tersebut menjadi lapang, sebagaimana tidak ada yang akan menjadikan dada tersebut sempit, karena semuanya itu akan sirna dengan sirnanya sebab-sebabnya. Segala sifat yang akan menyentuh dan hinggap di dalam hati, maka itulah yang akan menjadikan dada tersebut lapang atau sempit. Inilah yang menjadi barometernya, wallahulmusta’an.”(Zadul Ma’ad 2/23)

Berani dan Berharap, Sebuah Pengorbanan dan Perjuangan

Berani dan berharap dalam hidup adalah dua senyawa yang jika bertemu dan berbaur, akan menjadi sebuah akhlak yang sangat terpuji. Sifat berani adalah sifat terpuji yang mengandung segala akhlak yang terpuji lainnya.

Keberanian adalah buah dari iman seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Terlebih jika dia mengimani adanya hari kebangkitan dan hari kiamat. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memuji sifat berani di jalan-Nya sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abu Musaradhiyallahu anhu, ia berkata, “Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, seseorang berperang dengankeberanian, berperang karena kebangsaan, berperang dengan landasanriya, siapakah diantara mereka Yang benar-benar berjuang di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala?’

Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya dialah yang berada di atas jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.” Kesempurnaan sifat keberanian itu ada pada sifat al-hilm yang artinya sabar, tidak tergesa-gesa, cerdas, dan tangkas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ وَإِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي

 “Bukanlah yang dinamakan kuat itu adalah orang yang bisa membanting lawan, tetapiyang dikatakan kuat adalah orang yang bisa menahan diritatkala marah.” (Majmu’ Fatawa 15/432)

Berharap adalah buah dari ilmu tentang sifat rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti pengampunan, kelembutan, maaf, dan kebaikan. Berharap terhadap pahala yang ada di sisi-Nya termasuk amalan hati yang paling besar dan pendorong kepada ketaatan yang paling kuat. Kekuatan berharap di dalam hati tergantung pada kekuatan ilmu kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata , “Kuatnya berharap itu tergantung pada kekuatan pengetahuan tentang Allah Subhanahu wa ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta pengetahuan bahwa rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala mengalahkan murka-Nya. Tanpa ruh berharap, niscaya akan lenyaplah ubudiyah hati dan anggota badan. Akan hancur pula tempat-tempat menyebut nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Berharap itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh lepas dari kehidupan seorang muslim, baik saat melakukan kebaikan maupun melakukan kejelekan. Saat dia melakukan kebaikan, dia berharap bahwa amalnya diterima, yang wajib atau yang sunnah. Adapun saat dia melakukan kejelekan, dia berharap diterima tobatnya dan dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ

Katakanlah,“Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Alah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (az-Zumar: 53)

Maksud ayat ini adalah bagi orang yang bertobat. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala mengumumkan bagi orang yang berbuat dosa, apa pun perbuatan dosa tersebut. Artinya, Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengampuni dengan taubat yang baik, bagi siapa pun yang berdosa atas dosa apa pun, dan ini khusus taubat sebagai sebab pengampunan. Sampai-sampai ulama berselisih pendapat dalam hal mana yang lebih utama antara dua orang yang berharap tersebut. Sebagian mereka mengatakan lebih utama berharapnya orang yang berbuat baik, karena kuatnya sebab-sebab berharap itu pada dirinya.

Sebagian lagi mengatakan yang lebih utama adalah berharapnya orang yang berbuat salah untuk bertobat karena berharapnya itu bersih dari amalan yang jelek dan selalu dibarengi melihat kesalahannya. Namun, yang tampak adalah keutamaan tersebut tidak ditinjau dari sisi berharap itu, tetapi keutamaan tersebut sangatlah tergantung pada apa yang terdapat di dalam hati pemiliknya yaitu sifat takwa di saat dia berharap. Barang siapa lebih bertakwa, tentu berharapnya lebih afdal, apakah di saat dia berbuat baik ataupun berbuat salah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Dari penjelasan di atas, tampak jelas tentang berharap yang terpuji berupa bentuk berharapnya orang yang berbuat amalan agar amalnya diterima, atau berharapnya orang yang bertaubat agar taubatnya diterima. Adapun berharap yang kosong dari karya nyata (amal) dan terus dalam kemaksiatan lalu bersandar kepada pengampunan Allah Subhanahu wa ta’ala maka sikap ini adalah maghrur (tertipu) dan merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa ta’ala.”

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

 “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al- A’raf: 99)

Sebab, hukuman orang yang berbuat maksiat adalah istidraj (dibiarkan) atas kemaksiatannya, pada akhirnya dibinasakan setelahnya.” (Atsar al- Matsalul al-‘A’la hlm. 25)

Ilmu, Fondasi Akhlak yang Agung

Ibnu Qayyim rahimahumullah berkata , “Pengetahuan seorang hamba tentang keesaan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam hal menolak mudarat, mendatangkan manfaat, memberi, tidak memberi, menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan akan membuahkan ubudiyah tawakal batiniah.

Konsekuensi tawakal dan buahbuahnya jelas sekali. Pengetahuan dia tentang Allah Maha Mendengar, Melihat, dan tentang ilmu Allah Subhanahu wa ta’ala yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun yang paling kecil, baik di langit maupun di bumi. Allah Subhanahu wa ta’ala mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengetahui mata yang berkhianat dan segala yang tersembunyi di dalam dada. Semua ini akan membuahkan terjaganya lisan, anggota badan, dan pikirannya dari segala yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Dia menjadikan semua anggota tubuhnya tergantung kepada apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan diridhai-Nya. Semua ini juga akan melahirkan rasa malu di dalam batin yang akan membuahkan sikap menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan segala yang jelek. Mengenal Allah Subhanahu wa ta’ala bahwa dia adalah Dzat yang Mahakaya, dermawan, mudah memberi, banyak kebaikannya, dan penyayang; akan melahirkan harapan yang luas lalu membuahkan segala bentuk ubudiyah lahiriah dan batiniah.

Semuanya tergantung pada pengetahuan dan ilmunya. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, kemuliaan-Nya akan membuahkan ketundukan, ketenteraman, dan kecintaan yang akan melahirkan segala bentuk pengabdian lahiriah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan itulah konsekuensinya.

Demikian pula tatkala berilmu tentang kesempurnaan dan keindahan, serta ketinggian sifatsifat- Nya akan melahirkan kecintaan yang khusus dalam semua bentuk ubudiyah. Oleh karena itu, semua bentuk pengabdian akan kembali kepada namanama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Semua bentuk peribadahan terikat dengan semua di atas sebagaimana terikatnya ciptaan dengan-Nya.

Di alam ini, seluruh ciptaan dan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifatsifat- Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan menjadi mulia karena ketaatan mereka dan tidak akan hina karena kemaksiatan mereka. Renungilah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih al-Bukhari, yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Rabbnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي

 “Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak mampu berbuat mudarat terhadap-Ku hingga mencelakai- Ku. Kalian juga tidak dapat berbuat kemanfaatan bagi-Ku hingga memberiku manfaat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya setelahnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَاأَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan dimalam hari dan sianghari, sementara Aku adalah pengampundosa, maka minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.”

Ini mengandung makna bahwa apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap mereka dalam hal mengampuni kesalahankesalahan mereka, dikabulkannya permintaan mereka, dan dilepaskannya mereka dari segala bentuk malapetaka, tidak berarti Allah mengambil manfaat darimereka.(Madarijus Salikin 2/90)

Koreksilah Berharapmu dan Perbaruilah Cintamu

Berharap itu sumbernya adalah menyaksikan janji-janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, serta menyaksikan segala apa yang dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagi orang yang mengutamakan Allah Subhanahu wa ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan negeri akhirat. Berharap menjadikan petunjuk sebagai hakim terhadap hawa nafsunya, dan wahyu atas ra’yu-nya (pendapatnya), sunnah atas bid’ah, dan menjadikan hakim segala apa yang telah dilalui oleh para sahabat atas adat istiadat yang berlaku.

Sementara itu, cinta itu sumbernya adalah menyaksikan nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya sebagaimana menyaksikan segala nikmat dan pemberian-Nya. Apabila mengingat dosa-dosanya, ia berbalut rasa takut; apabila mengingat rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala, luas pengampuan, dan maaf-Nya, dia berbalut rasa berharap; dan apabila mengingat keindahan dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, kesempurnaan-Nya, kebaikan dan nikmat-Nya, ia akan berbalut rasa cinta.

Oleh karena itu, hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan tiga hal ini (takut, berharap, dan cinta) agar dia mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Sesungguhnya, hati itu terfitrah dengan Ramah Lingkungan cinta kepada keindahan dan cinta kepada Pemberi Keindahan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaindah, keindahan yang sempurna dari segala sisi.

 Indah pada Dzat-Nya, indah pada sifat-Nya, indah pada perbuatan-perbuatan-Nya, dan indah pada nama-nama-Nya. Jika berkumpul keindahan seluruh makhluk pada seseorang lalu dibandingkan dengan keindahan Allah Subhanahu wa ta’ala, perbandingannya lebih lemah daripada pancaran cahaya lentera yang paling lemah di hadapan pancaran sinar matahari. (Madarijus Salikin 3/288)

Sifat berharap yang penuh kejujuran memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Berharap akan membangkitkan dan mendorong untuk bertobat dengan benar, mendorong untuk beramal saleh berharap keberuntungan dengan surga Allah Subhanahu wa ta’ala, melihat-Nya, dan mendengar pembicaraan-Nya. Berharap yang jujur akan menjaga akidah seorang muslim dari bergantung kepada makhluk mengharapkan keberkahan dari mereka, atau syafaat, atau jalan keluar dari malapetaka. Oleh karena itu, pada kehidupan seorang muslim yang jujur, Anda tidak menjumpai penampilan-penampilan syirik dalam harapan, seperti mencari berkah melalui kedudukan para nabi, dengan para wali, dan melalui kuburan-kuburan mereka; atau mencari berkah di sumber mata air, gua, atau tempat sejenisnya.

Sebab, seorang muslim mengetahui dengan keyakinan yang benar bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang tunggal dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dia mengimani bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat tempat menggantungkan harapan segala yang dicita-citakannya berupa kebaikan dunia dan akhirat. (Atsaral-Matsalulal-A’la hlm. 25)

Sumber:  Majalah Asy Syariah Online

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.