BENARKAH MEWASPADAI ORANG YANG SUKA BERMAJLIS DENGAN AHLI BID’AH BERARTI MENTAHDZIR SECARA BERANTAI

BENARKAH MEWASPADAI ORANG YANG SUKA BERMAJELIS DENGAN AHLI BID’AH BERARTI MENTAHDZIR SECARA BERANTAI

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhary hafizhahullah

Pertanyaan: Sebagian penuntut ilmu jika kami bawakan perkataan Salaf kepada mereka tentang larangan bermajelis dengan ahli bid’ah, seperti ucapan sebagian mereka, “Siapa saja yang akidahnya -demikan yang tertulis- tersembunyi atas kita, maka tidak akan tersembunyi dari kita pertemanannya.” Mereka mengatakan, “Ini vonis tabdi’ yang sifatnya berantai (vonis model MLM -pent) seperti model vonis takfir (mengkafirkan orang lain) berantai.”

Jawaban: Pada kasus semacam ini yang menjawab dengan jawaban seperti ini dia diberi pilihan diantara satu dari dua perkara:
Dia mengatakan seperti yang diucapkan oleh Salaf dan komitmen dengan apa yang selalu dipegangi oleh para imam yang di atas petunjuk dan kebenaran itu.
Atau dia memberikan kepada kita pengarahan kepada pemahaman tertentu bagi salah satu perkataan para imam Ahlus Sunnah tersebut.

Dia sendiri tidak komitmen berdasarkan jawabannya di atas, bukankah demikian?! Dan selanjutnya, dia mengarahkan perbuatan para imam Ahlus Sunnah kepada pemahaman yang rusak yang dia pahami, yaitu bahwa itu merupakan vonis tabdi’ yang sifatnya berantai, dan selanjutnya seperti model vonis takfir berantai.

Jadi ucapan dia semacam itu muncul disebabkan dua perkara tersebut (tidak komitmen dengan ucapan Salaf, dan memahami dengan pemahaman yang rusak -pent). Dan dengan ini dia perlu untuk direhabilitasi lagi (pemahamannya), sebagaimana yang dikatakan oleh orang, dia butuh untuk direhabilitasi lagi.

Adapun pernyataan-pernyataan para imam Ahlus Sunnah dan kaedah-kaedah yang diletakkan oleh para imam Ahlu Sunnah wajib untuk dipahami sesuai dengan pemahaman para imam Ahlus Sunnah, agar engkau selamat dari kesalahan dalam memahami, agar engkau memahami pemahaman yang salah tersebut, sehingga engkau bisa berjalan di atas jalan yang benar, ilmiyah, dan terarah, seperti yang ditempuh oleh para ulama hingga hari kita ini.

Ketika para ulama Ahlus Sunnah hingga para ulama belakangan menerapkan kaedah-kaedah para ulama dalam memperingatkan agar tidak duduk bermajelis dengan ahli bid’ah dan agar tidak mendengarkan ucapan mereka dan seterusnya, mereka tidak terjatuh pada vonis tabdi’ yang sifatnya berantai, dan tidak pula pada vonis takfir berantai.

Maka kenapa muncul sikap menyempal (dalam memahami) seperti ini?! Kita balik perkaranya, bagaimana seandainya jika kita duduk bersama dengan ahli bid’ah, apakah kita juga menjadi seperti itu?! Yaitu apakah perkaranya menjadi berantai?! Ini termasuk kebathilan, baarakallahu fiik.

Saya tidak bisa bisa memastikan sebabnya secara mutlak. Yang jelas perkara yang terjadi ini pasti memiliki sebab; yaitu ketika munculnya kelancangan sebagian penuntut ilmu pemula dan selain mereka, yaitu sebagian orang-orang yang banyak bicara dan suka bersilat lidah, bahkan orang-orang yang melihat diri mereka sendiri dan menjadikan diri mereka sebagai ulama dan ulama besar, sebagaimana sebagian orang ada yang menggambarkan dirinya sendiri, dia ingin menjadi ulama dan termasuk ulama besar.

Sudahlah, engkau demikian terserah apa yang engkau inginkan. Tetapi -hendaklah diperhatikan- apakah dia sadar bahwa dia mencela orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran dengan ucapan-ucapan semacam ini?! Sekali-kali tidak. Ini yang pertama.

Yang kedua; ucapan ini hanyalah muncul karena adanya pihak-pihak yang berusaha melemparkan kekacauan pemahaman terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran dan kaedah-kaedah mereka. Bukankah demikian?!

Tidaklah mereka baik di sini maupun di sana, di timur maupun di barat, berani lancang menyerang kaedah-kaedah para ulama dan prinsip-prinsip pokok Ahlus Sunnah, kecuali karena adanya orang-orang yang membuat keonaran dan kekacauan dalam kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip tersebut.

Misalnya salah seorang dari mereka mengajarkan kitab karya Al-Lalika’iy, atau mengajarkan al-Ibanah al-Kubra karya Ibnu Baththah, atau kitab-kitab Ahlus Sunnah yang lain. Namun ketika dia melewati kaedah-keadah yang diletakkan oleh para ulama itu, dia mengatakan, “Ini tidak bersifat mutlak, bukan seperti ini maksudnya, ini perlu untuk ditambahi penjelasan atau pengurangan…” Kitab yang dia bacakan itu semuanya bukan dia ajarkan, tetapi hakekatnya dia kritik dan dia hancurkan!!

Maka engkau jangan mengatakan kepada saya, “Dia mengajarkan kitab Aqidah Ahlus Sunnah, mengajarkan kitab ini dan itu!” Hakekatnya dia tidak mengajarkan, dia justru menghancurkan. Oleh karena itulah mereka mendapatkan cara untuk bisa masuk kepada para pemuda yang semangat mengikuti as-Sunnah, mencintainya, dan senang mempelajarinya, mereka mendapatkan cara untuk bisa masuk untuk merusak mereka dengan cara membuat label-lebel semacam ini, seperti; “Dia mengajarkan kitab at-Tauhid.” Padahal ternyata dia menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh al-Imam Muhammad (bin Abdul Wahhab at-Tamimy) rahimahullah. Ternyata dia menjadikan kitab at-Tauhid sebagai kitab untuk mengkafirkan orang lain. Atau dia mengajarkan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah, seperti kitab as-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad dan semisalnya, lalu dia membalik perkaranya seperti meletakkan kepala di kaki, dan seterusnya. Mereka menjadikan topeng-topeng semacam ini agar bisa menyusupkan prinsip-prinsip mereka yang rusak. Maka wajib untuk mewaspadai dan berhati-hati!!

Sumber audio: http://elbukhari.com/wp-content/uploads/2016/01/fawaid_sawtiyah_sh_albukhary_100.mp3

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.