Benarkah Ahlus Sunnah Tidak Memiliki Akhlak Karena Tidak Mau Mengucapkan Salam Kepada Ahli Bid’ah

Benarkah Ahlus Sunnah Tidak Memiliki Akhlak Karena Tidak Mau Mengucapkan Salam Kepada Ahli Bid'ahBENARKAH AHLUS SUNNAH TIDAK MEMILIKI AKHLAK KARENA TIDAK MAU MENGUCAPKAN SALAM KEPADA AHLI BID’AH

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah

Pertanyaan: Sebagian pihak ada yang mengatakan: “Ucapkanlah salam kepada para mubtadi’, agar orang-orang awam tidak mencela kalian dan juga tidak mencela Salafiyun dan tidak menganggap bahwa Salafiyun tidak memiliki akhlak!” (Bagaimana menanggapinya)?

Jawaban: Ketika kita mengatakan dengan mengikuti perkataan para ulama yang mendahului kita yang ditopang dan diperkuat dengan nash-nash dari Kitab Allah Jalla wa Ala dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam berkaitan dengan menghajr (menjauhi, memutus hubungan, dan memboikot) terhadap ahli bid’ah, kita tidak berangkat dari menunggu pujian manusia kepada kita atau celaan mereka terhadap kita. Tetapi kita berangkat dari menjalankan perintah Allah Jalla wa Ala dan perintah Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam. Dan Allah telah memperingatkan kita agar mewaspadai bahaya orang-orang yang menyimpang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيْلِهِ.

“Dialah yang telah menurunkan kepadamu Al-Kitab, diantaranya ada ayat-ayat yang muhkam (jelas dan gamblang) yang ayat-ayat itu merupakan isi pokok dari Al-Kitab, sedangkan sebagian ayat-ayat yang lain mutasyabihat (tidak bisa dipahami oleh semua orang). Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat kecondongan kepada kesesatan maka mereka suka mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabihat dengan tujuan untuk menyebarkan fitnah dan mencari-cari ta’wilnya (yang sesuai dengan hawa nafsu mereka).” (QS. Ali Imran: 7)

Jadi Allah menegaskan bahwa di dalam hati mereka terdapat kesesatan dan Dia menjelaskan buah dari kesesatan ini yang merupakan bukti yang menunjukkan apa yang ada di hati mereka, yaitu dengan mereka suka mencari-cari ayat mutasyabih. Oleh karena itulah maka Nabi shallallahu alaihi was sallam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Aisyah, beliau menjadikan buah dan hasil ini sebagai bukti yang menunjukkan kelakuan buruk mereka ini dan beliau menyebutkan konskwensinya. Beliau shallallahu alaihi was sallam mengatakan kepada Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha:

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهُمْ.

“Jika engkau melihat orang-orang yang suka mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabih maka mereka itulah orang-orang yang Allah sebutkan itu, maka waspadailah mereka!” (Lihat: Shahih Al-Bukhary no. 4547 dan Muslim no. 2665 –pent)

Jadi Nabi shallallahu alaihi was sallam memperingatkan kita agar selalu mewaspadai orang-orang yang menyimpang dan ahli bid’ah yang mereka ini sifatnya suka mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabihat dan meninggalkan yang muhkam. Engkau bisa melihat mereka pada awal fitnah yang menyerang umat Muhammad shallallahu alaihi was sallam yaitu fitnah Khawarij, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dan menjadikannya sebagai dalil. Mereka pun mengkafirkan umat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam yang dimulai dengan mengkafirkan para Shahabat beliau radhiyallahu anhum. Mereka menerapkan ayat-ayat yang turun untuk menjelaskan keadaan orang-orang musyrik lalu mereka terapkan kepada umat Islam.

Demikianlah mereka suka mencari-cari ayat-ayat mutasyabihat, lalu para Shahabat Nabi shallallahu alaihi was sallam membantah mereka. Pada kisah ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa orang-orang yang menyimpang seperti inilah kebiasaan mereka dan seperti inilah keadaan mereka serta seperti inilah jalan yang mereka tempuh.

Jadi kita telah diperingatkan agar tidak duduk-duduk bersama mereka, tidak mendatangi mereka, serta tidak mendengarkan ucapan mereka. Ayat-ayat yang lain selain ini disebutkan secara panjang lebar pada pembahasannya secara khusus, dan mudah-mudahan anakku si penanya merasa cukup dengan ini. Kita juga telah berbicara tentang masalah ini, dan insya Allah kita memohon kepada Allah agar memberi kita panjang umur agar kita bisa membicarakan masalah ini pada pertemuan tersendiri dengan seizin Allah Jalla wa Ala.

Sumber audio dan transkripnya:

http://ar.miraath.net/fatwah/7724/07/meeting-with-sh-mohammed-haady-11-02-1436h

Download Audio Di Sini

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.