BANTAHAN TERHADAP ASY-SYAIKH SHALIH AS-SUHAIMY (BAGIAN 3)

BANTAHAN TERHADAP ASY-SYAIKH SHALIH AS-SUHAIMY (BAGIAN 3)

Asy-Syaikh Abu Ammar Ali bin Husain asy-Syarafy al-Hudzaify hafizhahullah

POIN KEDUA

Asy-Syaikh as-Suhaimy dalam tulisannya “Tanbih Dzawil Afham” berbicara tentang wajibnya berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam memvonis orang lain. [2]

Saya katakan: Perkataan ini tidak ada seorang pun yang meragukan kebenaran dan urgensinya, jadi kaum muslimin semuanya dituntut untuk melakukan tatsabbut (meneliti dan memastikan kebenaran) ketika menyampaikan berita dan menjatuhkan vonis, terlebih lagi kita berada di zaman yang banyak fitnah dan prinsip-prinsip tatsabbut banyak ditinggalkan orang, apalagi ditambah dengan banyaknya buih media massa.

Cukup dengan kita mengatakan: Sesungguhnya keselamatan dalam masalah tatsabbut adalah dengan para dai menempuh kaedah-kaedah yang ditetapkan oleh nash-nash (dalil-dalil) yang mulia dari al-Qur’an dan as-Sunnah, karena itu menjamin akan memutus sebab-sebab perselisihan dan akan menjaga kehormatan pihak-pihak yang tidak bersalah.

Tetapi sangat disayangkan saya katakan bahwa Fadhilatus Syaikh Shalih beliau sendiri justru tidak konsekuen dengan nasehat yang sangat berharga ini, yaitu dengan beliau mengejutkan kita dengan menuduh dua orang dari anak-anaknya dari kalangan dai Salafiyyah dengan tuduhan dusta yang besar yang berat rasanya bagi kita untuk mendengarnya, terlebih tuduhan dusta itu muncul dari orang yang kedudukannya setingkat beliau, lalu bagaimana ikhwah yang tertuduh akan mampu mendengarnya?!

Beliau telah menuduh dua ikhwah yang mulia, yaitu asy-Syaikh Nazar bin Hasyim as-Sudany, dituduh dengan tidak mau mendoakan rahmat untuk Muhammad Hamzah Abu Zaid -rahimahullah-[3], dan asy-Syaikh Hani bin Buraik al-Adny dengan tuduhan tidak mau mendoakan rahmat untuk asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushaby al-Yamany -rahimahullah wa ghafara lah-, dengan menuduh tanpa sanad yang bisa dijadikan pegangan oleh Syaikh, padahal kedua ikhwah tersebut bersih dari tuduhan dusta ini.

Asy-Syaikh Shalih as-Suhaimy -semoga Allah memaafkannya- ingin memakaikan baju Haddadiyah kepada para ikhwah yang mulia dan ingin membangkitkan kemarahan manusia kepada kedua syaikh tersebut.

Asy-Syaikh Nazar bin Hasyim as-Sudany sendiri telah membantah beliau dengan rekaman suaranya yang berjudul “Dahdhu Iftira’is Syaikh as-Suhaimy” yang di dalamnya asy-Syaikh Nazar menukil rekaman suaranya dan suara asy-Syaikh Hani bin Buraik untuk membuktikan kedustaan tuduhan tersebut, dan membuktikan bahwa keduanya mendoakan rahmat untuk dua syaikh yang dimaksud.

Dalam permasalahan ini seandainya tidak ada perkara selain ucapan beliau tersebut merupakan tuduhan dusta yang kosong dari bukti, tentu itu sudah cukup untuk menolaknya, apalagi terdapat bukti yang jelas yang menunjukkan kedustaan tuduhan itu.

Setelah munculnya perkara yang membuktikan tuduhan dusta asy-Syaikh as-Suhaimy, tidak nampak dari asy-Syaikh as-Suhaimy sedikitpun bentuk taubat atau mencabut tuduhan dusta yang diada-adakan ini yang beliau lemparkan kepada anak-anaknya.

Asy-Syaikh Nazar bin Hasyim as-Sudany mengatakan, “Wahai Syaikh as-Suhaimy -semoga Allah memberi taufik kepada Anda agar mengikuti kebenaran-⏭ apa yang akan Anda lakukan setelah adanya penjelasan dan klarifikasi ini?!

Kemudian yang kedua; mana sikap konsekuen Anda dan penerapan nyata dari apa yang telah Anda tulis dan torehkan sendiri dalam kitab Anda yang berjudul “Tanbih Dzawil Afham… ”berupa wajibnya bersikap jujur dan melakukan tatsabbut serta tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan vonis, sebagaimana yang telah Anda jelaskan dan tegaskan bahwa diantara sebab munculnya fitnah adalah para penukil atau penyampai ucapan dan berita (yang tidak hati-hati -pent), *dan Anda sendiri ternyata justru telah menyelisihi semua yang Anda sampaikan itu.”

Saya katakan: Apa perbedaan antara perkara yang dicela oleh asy-Syaikh Shalih as-Suhaimy berupa sikap tergesa-gesa dan tidak hati-hati, dengan apa yang beliau tuduhkan secara dusta terhadap anak-anak beliau yang terbukti tidak bersalah?!

Tuduhan dusta ini sendiri merupakan kezhaliman, lalu bagaimana ditambah lagi jika faktanya tuduhan dusta ini telah disebarluaskan oleh para pengekor Muhammad al-Imam yang mana mereka merasa mendapatkan angin untuk melampiaskan dendam kesumat mereka terhadap musuh-musuh mereka dengan cara apapun yang mampu mereka lakukan, walaupun dengan kezhaliman.

Sikap tastabbut dan kehati-hatian yang diserukan oleh asy-Syaikh Shalih as-Suhaimy dalam tulisan beliau tidak membuat mereka berhenti (dari menyebarkan kedustaan -pent), karena orang yang jenisnya semacam ini sebenarnya memang tidak senang dengan tulisan-tulisan seperti ini, kecuali semata-mata untuk melampiaskan dendamnya kepada saudara-saudaranya, jadi tujuannya bukan untuk mendapatka faedah darinya.

***

? Catatan Kaki:

[2] Tanbih Dzawil Afham, hlm. 14.

[3] Muhammad Hamzah adalah pimpinan Jum’iyyah Ansharus Sunnah yang telah ditahdzir oleh ulama yang paling mengetahui di masa ini tentang kelompok-kelompok sesat, seperti asy-Syaikh Rabi’ bin Hady al-Madkahly, asy-Syaikh Muqbil -rahimahullah-, dan asy-Syaikh Ubaid al-Jabiry.

Muhammad Hamzah ini melakukan shalat ghaib untuk Usamah bin Ladin, memujinya, memnyebutnya sebagai mujahid dan pemimpin, serta menganggapnya lebih baik dibandingkan para penguasa kaum Muslimin, setelah orang ini sendiri mencela para penguasa tersebut.

Anehnya, setelah ini semua justru asy-Syaikh Shalih as-Suhaimy datang ke Sudan dan mentazkiyah serta memuji orang ini!!

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=159780

Bersambung In Syaa Allah …

 

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.