BANTAHAN TERHADAP ASY-SYAIKH SHALIH AS-SUHAIMI (BAGIAN2)

BANTAHAN TERHADAP ASY-SYAIKH SHALIH AS-SUHAIMY

Asy-Syaikh Abu Ammar Ali bin Husain asy-Syarafy al-Hudzaify hafizhahullah

POIN PERTAMA

Asy-Syaikh Shalih as-Suhaimy membawakan nash-nash (dalil-dalil) dari kalam (firman) Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam, lalu perkataan para ulama tentang celaan terhadap perselisihan dan peringatan dari perpecahan.

Saya katakan: Banyak orang-orang yang mulia yang menulis tentang celaan terhadap perselisihan dan peringatan dari perpecahan dengan ucapan-ucapan yang sifatnya global atau umum, dan cara semacam ini bukanlah solusi bagi permasalahan yang ada jika pada tulisan semacam ini tidak disertai penjelasan hakekat perselisihan yang sebenarnya apa, siapa penyebabnya, dan bagaimana cara menanganinya? Dan ini merupakan salah satu tugas penting yang diemban oleh para rasul, sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang perkataan Nabi Isa shallallahu alaihi was sallam:

ﻭَﻟِﺄُﺑَﻴِّﻦَ ﻟَﻜُﻢ ﺑَﻌْﺾَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗَﺨْﺘَﻠِﻔُﻮﻥَ ﻓِﻴﻪِ.

“Dan untuk aku jelaskan kepada kalian sebagian perkara yang kalian perselisihkan.” (QS. Az-Zukhruf: 63)

Dengan cara seperti inilah perkara-perkara itu akan kembali kepada tempatnya semula, dan dengan cara seperti ini akan diketahui mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah, dan kebenaran akan bisa dibedakan dari yang bathil dengan jelas oleh manusia.

Jadi, jika Ahlus Sunnah berada di atas jalan yang satu, lalu ada suatu kaum yang menampakkan sebagian bid’ah dalam dakwah Ahlus Sunnah dan muncul orang-orang yang fanatik membelanya dan mendebatnya dengan kebathilan, kemudian para ulama bangkit mengingkarinya dan membantahnya berdasarkan dalil, dan perlu diketahui bahwa orang-orang yang mengingkari tersebut adalah para ulama yang dikenal kekokohan ilmunya, maka bagaimana bisa kita menujukan pembicaraan kepada semua pihak agar menjaga persatuan dan mewaspadai perpecahan dengan cara yang global semacam ini yang bisa menimbulkan kesalahpahaman bahwa perselisihan tersebut terjadi antara dua pihak yang muncul hanya karena perkara-perkara yang tidak layak menimbulkan perselisihan dengan pihak lain?!

Jika ada yang mengatakan, “Bukankah ada kemungkinan bahwa Syaikh memaksudkan untuk menujukan nash-nash ini terhadap orang-orang yang melakukan bid’ah dan memasukkan ke dalam dakwah hal-hal yang bukan termasuk darinya, sehingga mereka inilah yang dimaksud sebagai penyebab perpecahan, jadi kenapa Anda tidak berbaik sangka?”

Jawabannya: Kenapa perkataan Syaikh tidak jelas hingga bisa memberi manfaat dan tidak menimbulkan keburukan, karena setiap pihak bisa saja menjadikan ucapan-ucapan yang sifatnya umum ini sebagai dalil?!

Dari sinilah kita katakan: Yang seperti ini bukan cara yang terbaik dalam menyelesaikan berbagai perselisihan yang ada, bahkan seharusnya Syaikh –hafizhahullah- menyebutkan mana sisi kesalahannya, membantahnya, dan menasehati siapa saja yang terjatuh padanya, sehingga manusia bisa mengetahui ilmunya dengan benar, dan ini adalah jalan yang ditempuh oleh para ulama Ahlus Sunnah seperti Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika menghadapi banyak orang dari jenis ini semacam Abdurrahman Abdul Khaliq, Safar al-Hawaly, Salman al-Audah, dan selain mereka. [1]

Jika ada yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang Anda sebutkan ini telah nampak jelas berbagai penyimpangan dan kesesatan mereka, maka bagaimana Anda menyerupakan mereka dengan saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlus Sunnah?!”

Jawabannya: Orang-orang yang menyimpang itu dahulunya mereka berada di barisan Ahlus Sunnah di suatu waktu dan mereka menyembunyikan jati diri mereka dengan menampakkan as-Sunnah, dan awal penyimpangan mereka adalah dengan munculnya berbagai fatwa, kaedah, dan prinsip yang mereka susupkan ke dalam dakwah. Lalu bangkitlah para ulama yang menasehati mereka dan membantah berbagai kesalahan mereka, namun mereka justru menolak kebenaran, menyombongkan diri, dan lebih suka untuk memisahkan diri dari jamaah, serta melancarkan permusuhan terhadap Masayikh dakwah Salafiyah.

Maka jelaslah bagi manusia bahwa orang-orang yang memiliki berbagai ucapan yang menyimpang ini dahulu mereka menyusup di tengah-tengah barisan kita, dan pihak-pihak yang mengkritik mereka di atas kebenaran. Dan manusia merujuk kepada perkataan para ulama yang menasehati dan mereka mengetahui bahwa para ulama itu benar dalam setiap perkataan yang mereka ucapkan (dalam membantah orang-orang yang menyimpang itu –pent), dan saya tidak menyangka bahwa asy-Syaikh Shalih tidak mengetahui bagian dari sejarah ini.

Dan orang-orang yang sekarang ini kalian bela mereka menempuh jalan yang sama persis di belakang orang-orang yang menyimpang terdahulu itu, dan para ulama yang menasehati kemarin –yaitu yang Allah bangkitkan untuk menyingkap berbagai kesesatan itu- mereka jugalah yang menasehati hari ini.

***

Catatan Kaki:

[1]: Diantara mereka adalah Abdurrahman Abdul Khaliq yang diundang oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dari Kuwait ke Riyadh, agar dia datang untuk menulis taubat dari berbagai kesesatannya dengan jelas, agar dengan taubatnya itu bisa menghilangkan perselisihan dan menutup pintu bagi siapa saja yang ingin menempuh di belakangnya. Demikian juga apa yang beliau lakukan terhadap Safar al-Hawaly, Salman al-Audah, Usamah bin Ladin, dan selain mereka.

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=159780

Bersambung In Syaa Allah …

 

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.