Bahaya Sifat Sombong, Bangga Diri dan Tertipu Dengan Kemampuannya

BAHAYA SIFAT SOMBONG, BANGGA DIRI DAN TERTIPU DENGAN KEMAMPUAANNYA

Berkata Syaikh Kholid azh Zhafiri حفظه الله :

Dan diantara penghalang dari menuntut ilmu yang dengannya kita menutup pembahasan ini.

Yang mana penghalang ini juga merupakan efek dari penghalang yang pertama yaitu sirat terburu-buru.

Penghalang yang kita akan bahas adalah sifat sombong, bangga diri dan tertipu dengan kemampuaannya.

  • Ia sudah mampu mentakhrij (menyimpulkan kedudukan hadits) satu atau dua hadits atau bahkan sepuluh hadits.

Kemudian dia menyangka dirinya sudah seperti Syaikh al Bani dan menyangka dirinya sudah mencapai tingkatan yang tinggi didalam ilmu agama ini

  • Dia duduk membacakan (mengajarkan) hadits selama satu, dua atau tiga tahun, kemudian dia mulai mengkritik para Ulama kibar.

Ini semua adalah bentuk ujub (bangga diri) atau ghurur (tertipu dengan kemampuanya) yang bisa membinasakan seorang penuntut ilmu.

Ini semua terjadi dikarenakan tidak adanya sifat ikhlas didalam niat.

Sungguh Allah telah melarang Bersifat takabbur (sombong) didalam firmannya :

“Dan janganlah kalian berjalan diatas muka bumi ini dengan penuh kesombongan”.

Dan dalam hadits :

“Tidak akan masuk surga seorang yang didalam hatinya ada seberat biji dzarrah sifat sombong”.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang merasa sombong dari ilmu dan merasa sombong dari Ulama.

Dia menyangka dirinya adalah kuda pacuan yang tidak akan dikalahkan oleh siapapun dan tidak ada disandung oleh sesuatu.

Dia menyangka dirinya telah mengarungi seluruh lautan ilmu ?

Padahal para Ulama saja baru berada ditepian lautan tersebut.

Dia memandang ulama dengan pandangan meremehkan dan memandang rendah para ulama.

Ini semua adalah sebab dari sebab-sebab penyimpangan dan kesesatan.

Dikarenakan sifat ujub dan ghurur justru akan semakin menjauhkan kamu dari Ulama dikarenakan kamu memandang dirimu lebih tinggi dari mereka para ulama.

Maka akhrinya kamupun membatasi manusia dengan pemahamanmu sendiri dan ilmumu sendiri yang pada kenyataannya kamu belum memiliki ilmu sama sekali.

Maka mulailah kamu tersesat dan menyesatkan orang lain, dan kamu menjadi sebab tersesatnya orang-orang yang tertipu denganmu.

Dan contohnya sangat banyak, diantaranya apa yang menimpa ahli sunnah pada zaman sekarang ini.
Yaitu munculnya sebagian orang yang masih shigor (kecil dalam keilmuan) sekitar dua puluh tahun dia mengatakan :

“Saya telah mendoifkan 600 hadits yang disahihkan Syakh al Bani.

Perhatikan bagaiman dia bersifat ujub dan tertipu dengan kemampuaannya.

Ada sebagian orang menasehatinya, tapi dia justru berkata :

Saya sudah berkecimpung didalam lautan ilmu hadits dan umurku sudah matang untuk menghasilkan ilmu.

Maka ini merupakan sebab kesesatan haddadiyah pada zaman sekarang ini.

Diantara sebab kesesatan mereka adalah, mereka merasa ujub dan tertipu dengan kemampuannya sehingga mereka menggiring manusia kepada pemahaman mereka.

Sehingga mulailah mereka menvonis sesat para ulama dan mentabdi para ulama dan merekapun tersesat.

Mereka menggabungkan antara shigor sinni (mudanya umur) dan sifat ujub, dan tertipu dengan kemampuannya, Maka merekapun binasa dan membinasanakn orang lain.

  • Para salaf dan para imam Kibar tidak diketahui dari mereka melainkan sifat ketawadhuan.

Berkata imam Ayyub bin Abi Tamimah as Sikhtiyani rahimahullah:

Selayaknya bagi seorang alim untuk melatakkan tanah diatas kepalanya sebagai bentuk ketawadhuan dihadapan Allah.

Maka selayaknya bagi setiap ulama dan penuntut ilmu untuk bersifat tawadhu. Senantiasa dia memandang dirinya itu rendah dan tidak mengangkat kedudukannya, bahkan dia harus tawadhu karena Allah.

Kalau sifat ujub dan ghurur mulai menjangkiti hatinya, maka itu merupakan sebab dan bahkan sebab terbesar yang menghalangi seseorang dari jalan ilmu.

[Muhadhoroh bertajuk ” Penghalang-penghalang dalam menuntut ilmu].

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152542

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

********************************

خطر الكبر والعجب والغرور

قال الشيخ خالد الظفيري حفظه الله:

من أعظم العوائق ونختم بها وهي ما ينتجه العائق السابق وهو الاستعجال وهو عائق الكبر والعجب والغرور، يدرس أو يخرّج حديثا، حديثين، عشرة، فيظن أنه الألباني وأنه وصل إلى مرحلة عالية في العلوم، جلس يقرأ في الحديث سنة، سنتين، ثلاث يبدأ يستدرك على الأئمة الكبار، هذا هو الغرور والعجب يهلك طالب العلم، هذا داخل في عدم الإخلاص، في النية، الله عزّ وجلّ نهى عن التكبر ((ولا تمش في الأرض مرحا))
المرح بمعنى العجب، التبختر التكبر ((لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر))
فكيف بمن يتكبر في العلم وعلى أهل العلم، فيظن نفسه أنه الفرس التي لا تُسبق ولا يُشق له غبار وأنه خاض البحر الذي وقف عند ساحله العلماء، و ينظر إلى أهل العلم الكبار بنظرة احتقار ونظرة دنو، وهذا من أسباب الضلال والانحراف، لأن العجب والغرور لا يجعلك ممن يتبع العلماء، لأنك ترى نفسك أرفع أصلا من أهل العلم فتحاكم الناس إلى فهمك وتحاكم الناس إلى علمك وأنت لست بشيء، فتبدأ تضل وتضلل الناس وتكون سببا في ضلال من اغتر بك.
وهذا أمثلته كثيرة وهو مما ابتلي به أهل السنة في هذه العصور وفي غيرها، يجد نفسه وهو صغير في السن من كبار العلماء أحدهم قال وهو في العشرين قال: أنا ضعّفت 600 حديث صححها الشيخ الألباني.
انظر إلى العجب والغرور ويناصح بعضهم في ذلك فيقول: أنا أصلا خضت غمار بحرعلم الحديث وأنا عمري 15 سنة يعني تركت الساحل وخضت غماره وهذا من أسباب ضلال الحدادية الموجودين الآن، من أعظم أسباب ضلالهم عجبهم وغرورهم فحاكموا الناس إلى أفهامهم فضللوا العلماء وبدعوهم وانحرفوا هم في أنفسهم.
جمعوا بين صغر السن والعجب والغرور فهلكوا وأهلكوا.
السلف والأئمة الكبار لا يعرف عنهم إلا التواضع، الإمام أيوب بن أبي تميم السختياني رحمه الله يقول: ينبغي للعالم أن يضع التراب على رأسه تواضعا لله.
لأنه ينبغي على العالم وطالب العلم التواضع فدائما ينقص من شأنه ولا يرفع من شأنه ويتواضع لله سبحانه وتعالى. فإذا دخل العجب والغرور في قلبه كان ذلك من أسباب ومن أعظم العوائق في طريق طالب العلم.

 محاضرة بعنوان: عوائق في طريق طالب العلم [ الدقيقة 54 و42 ثا ] 2 شعبان 1436 هـ الموافق 20/5/ 2015 م

الشيخ خالد بن ضحوي الظفيري حفظه الله.

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.