BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG YANG TIDAK MENGAKU SEBAGAI SALAFY

BAGAIMANA MENYIKAPI ORANG YANG TIDAK MENGAKU SEBAGAI SALAFY

Pertanyaan Kelima

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul hafizhahullah

Penanya: Jika seseorang tidak mengaku sebagai seorang salafy dan tidak mentazkiyah dirinya dengan menisbahkan dirinya kepada manhaj Salaf, padahal dia banyak menyampaikan pelajaran, ceramah dan fatwa, apakah orang semisal mereka ini perlu kita jelaskan kesalahan-kesalahan mereka ataukah cukup dengan mentahdzir mereka karena mereka tidak mengakui mengikuti manhaj Salaf? Karena sebagian mereka jika saya memperingatkan agar berhati-hati dari orang-orang semacam Amr Khalid dan Umar Abdul Kafy, mereka mengatakan: “Saya menginginkan bantahan ulama terhadap mereka.” Jadi terkadang kami menjawab mereka dengan mengatakan bahwa para ulama tidak akan meluangkan waktu untuk mengurusi semua orang, tetapi cukup dengan mereka tidak mentazkiyah diri mereka sendiri dengan mengaku mengikuti manhaj Salaf. Apakah hal ini benar?

Asy-Syaikh:

Seseorang yang tidak mengaku mengikuti manhaj Salaf atau tidak menampakkan pengakuan mengikuti manhaj Salaf, keadaannya tidak terlepas dari dua hal:

Bisa jadi ucapan dan perbuatannya dibangun di atas manhaj Salaf dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj Salaf dan perbuatan mereka, maka orang semacam ini dihukumi sebagai seorang salafy, walaupun dia tidak terang-terang menyatakan manhaj Salaf dengan jelas. Hanya saja jika dia mengingkari penamaan dengan Salafiyah, maka dijelaskan dan diberitahukan kepadanya serta disampaikan perkataan para ulama kepadanya. Khususnya perkataan Al-Imam Al-Albany rahimahullah di dalam mendudukan masalah ini, serta menjelaskan penisbahan kepada Salafiyah. Juga disampaikan kepadanya perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau menyukai penisbahan kepada Salafiyah dan merasa bangga dan mulia dengan manhaj Salaf.

Keaadan kedua bisa jadi orang tersebut tidak mengaku mengikuti manhaj Salaf, di samping memang perbuatan-perbuatannya menyelisihi manhaj Salaf, dan bisa jadi ketika dia ditanya: “Apakah engkau seorang salafy?” Dia mengingkarinya dan tidak ridha dengan penjelasan para ulama yang menjelaskan kebenaran berkaitan dengan keadaan sebagian orang seperti Amr Khalid atau selainnya, maka ini menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki jalan lain yang menyimpang, hanya saja dia tidak terang-terangan menyatakan sikap permusuhan dari kepada manhaj Salaf. Dia melakukan hal itu bisa jadi karena takut dicela, atau bisa jadi sebagai makar jahat agar dia tetap bisa mengumpulkan para pemuda di sekitarnya untuk dia didik di atas manhajnya yang menyelisihi manhaj Salaf dalam figur seorang dai yang mendakwahkan agama Allah.

Maka hendaknya perkara semacam ini diwaspadai, karena orang seperti ini termasuk mata-mata yang disusupkan oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun dan ahli bid’ah.

Jadi sebagian ahli bid’ah memiliki cara-cara yang penuh makar, yaitu mereka mengetahui bahwa seandainya mereka menampakkan permusuhan terhadap dakwah Salafiyah atau seandainya mereka menampakkan jalan mereka yang menyelisihi manhaj Salaf, tentu para ulama akan membantah habis mereka dan para pemuda pun akan lari meninggalkan mereka. Tetapi mereka menggunakan cara lain dengan menampakkan kepada para pemuda berupa ilmu, nasehat, dan perhatian terhadap pelajaran-pelajaran ilmiah umum, agar para pemuda tetap berkumpul di sekitar mereka, lalu mereka pun mendidik para pemuda berdasarkan manhaj semacam ini untuk:

  • Mendiamkan atau  tidak membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran.
  • Tidak mengingkari siapa saja yang menyelisihi manhaj Salafus Shalih.
  • Tidak berani menamakan diri atau mengaku mengikuti manhaj Salafus Shalih.

Jadi yang ada adalah tidak berbuat begini atau begitu atau yang lain. Sampai akhirnya seorang salafy menjadi sesuatu yang tidak ada hakekatnya atau menjadi orang yang menyelisihi manhaj Salaf, padahal sebenarnya dia ingin mencari dan mengikuti manhaj Salaf.
Maka saya katakan: Jika orang ini termasuk jenis kedua, maka orang semacam ini tidak ada kehormatan dan harganya. Bahkan dia harus ditahdzir, dijelaskan kesalahannya kepada manusia, dan dijelaskan bahwa dia dalam keadaan yang seringnya lebih berbahaya dibandingkan orang lain yang terang-terangan. Jadi orang yang menyatakan terang-terangan menyelisihi manhaj Salaf, walaupun dia orang yang berbahaya, namun para pemuda akan mewaspadainya. Adapun orang yang tidak terang-terangan, maka para pemuda seringnya tertipu dengannya dan mendekatinya, kemudian mereka pun terpengaruh kejahatannya, wallahu a’lam.

Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=108091

* Alih bahasa: Abu Almass
Ahad, 27 Jumaadats Tsaniyah 1435 H

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.