Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah Tonggak Perjuangan Umat Islam

ASY SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH TONGGAK PERJUANGAN UMAT ISLAM

Ditulis oleh:  Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang tokoh umat Islam yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan berakidah lurus. Pengalaman beliau sebagai qadhi (hakim agama) dan da’i (pegiat dakwah) selama 14 tahun di kota Kharj membuahkan wawasan yang luas tentang kehidupan sosial kemasyarakatan dan seluk-beluknya. Pengalaman beliau yang cukup lama di dunia pendidikan, diawali sebagai dosen di Fakultas Syari’ah Riyadh selama 9 tahun, kemudian sebagai wakil rektor Universitas Islam Madinah selama 9 tahun pula, hingga menjabat sebagai rektor Universitas Islam Madinah selama 5 tahun, memosisikan beliau sebagai seorang pakar di dunia ilmu pendidikan, baik tentang keilmuannya, teknis pembelajarannya, sekaligus manajemen pengelolaan institusinya dengan taraf internasional.

Pengalaman beliau sebagai ketua umum al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ wad Da’wah wal Irsyad (Komite Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan) Kerajaan Saudi Arabia yang setingkat menteri selama 19 tahun, kemudian dilengkapi dengan jabatan Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia dan sekaligus Ketua Hai’ah Kibar Ulama (Komite Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, semakin memperkaya wawasan global beliau tentang dunia Islam dengan berbagai problematikanya. Karena keluasan ilmu agama dan segudang pengalaman yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wata’ala itulah, beliau terposisikan sebagai imam (tokoh terkemuka) di tengah-tengah umat Islam. Tak heran, bila nasihat dan bimbingan beliau selalu ditunggu kehadirannya oleh umat. Lebih dari itu, beliau terposisikan sebagai tonggak perjuangan umat dalam menghadapi berbagai pergolakan yang terjadi di dunia internasional. Semua itu karena besarnya perhatian beliau terhadap eksistensi umat.

Upaya beliau dalam menjaga persatuan umat sangat luar biasa. Pembelaan beliau terhadap umat dan kehormatan mereka tak pernah pupus. Demikian pula pembentengan beliau terhadap hal-hal yang membahayakan umat, senantiasa lekat dengan derap langkah kehidupan beliau. Itulah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, tonggak perjuangan umat Islam yang menerangi mereka dengan lentera hikmah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membalas jasa dan perjuangan beliau dengan surga-Nya yang bertaburkan kenikmatan abadi. Amiin.…

Perhatian Beliau Terhadap Eksistensi Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat memerhatikan eksistensi umat. Kejayaan Islam dan umat Islam seringkali menjadi topik bahasan beliau pada acara-acara sentral berskala internasional. Berbagai nasihat dan bimbingan berharga selalu beliau sampaikan demi kejayaan Islam dan umat Islam. Di antara nasihat dan bimbingan berharga itu adalah apa yang pernah beliau sampaikan pada Muktamar Islam Tingkat Tinggi bahwa kejayaan Islam dan umat Islam tidak akan bisa diraih kecuali dengan dua hal penting:

Pertama: Keimanan yang kokoh kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang meliputi:

a. Mengikhlaskan setiap amalan hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala semata.

b. Menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

c. Berhukum dengan syari’at Allah Subhanahu wata’ala dalam segenap sendi kehidupan.

d. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.1

e . Mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan di tengah umat kepada Kitabullah (al- Qur’an) dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

f. Menyiapkan kekuatan yang maksimal untuk membela agama Allah Subhanahu wata’ala dan kehormatannya, serta menegur pihak yang menyimpang agar kembali kepada kebenaran.

Kedua: Jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh kesungguhan, yang hakikatnya termasuk dari konsekuensi keimanan. Beliau menegaskan, apabila dua hal penting itu ada pada suatu umat atau negara, pasti kemenangan akan mengiringinya dan kejayaan di muka bumi akan diraihnya. Demikianlah janji Allah Subhanahu wata’ala yang tak akan terselisihi dan ketetapan-Nya (sunnatullah) yang tak akan berubah. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz2/167) Dalam kesempatan lain, beliau memperingatkan bahwa sebab utama kehancuran umat adalah menjamurnya kesyirikan, kebid’ahan (perkara baru yang diada-adakan dalam agama), dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Semua itu harus diatasi bersama dengan cara:

a. Saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

b. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah masyarakat. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 3/243)

Upaya Beliau dalam Menjaga Persatuan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat peduli terhadap persatuan umat Islam. Berbagai upaya untuk mempersatukan umat Islam dan menjauhkan mereka dari perpecahan telah dicurahkan oleh beliau. Bahkan, beliau termasuk ulama yang paling getol menyerukan proyek at-Tadhamun al-Islami di dunia Islam, yaitu sikap saling membantu, bekerja sama, bahu-membahu, tolong-menolong, serta berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran dengan sesama umat Islam di seluruh dunia. Di antara cakupan at-Tadhamun al-Islami itu adalah:

• Amar ma’ruf nahi mungkar.

• Dakwah di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan memberikan pembelajaran kepada orangorang yang tidak berilmu.

• Mengarahkan umat kepada sebabsebab kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

• Membantu orang yang lemah, menolong orang yang teraniaya, dan mencegah perbuatan aniaya dari pelakunya.

• Menegakkan hukum had (pidana Islam), menjaga stabilitas keamanan, menindak para perusak, mengontrol keamanan jalur-jalur lalu lintas baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

• Memperbanyak sarana transportasi yang memudahkan umat Islam di seluruh dunia untuk saling berhubungan baik via darat, laut, maupun udara. Demikian pula memperbanyak sarana komunikasi dengan membuka seluruh jaringan komunikasi yang memungkinkan. Semua itu demi lebih memudahkan koordinasi antarumat Islam di seluruh dunia dan diraihnya kebaikan bersama secara lebih maksimal, baik dalam urusan agama maupun dunia.

• Menegakkan keadilan, menebarkan ketenteraman, dan memelopori perdamaian dunia.

• Menjalin kebersamaan yang solid antarumat Islam, menyelesaikan pertikaian bersenjata di antara mereka, dan memerangi kelompok yang membangkang di tengah-tengah mereka hingga kembali kepada kebenaran. Menurut beliau, dengan at-Tadhamun al-Islami inilah kebersamaan umat Islam di seluruh dunia akan semakin kokoh, kemaslahatan di tengah-tengah mereka akan semakin tertata, persatuan mereka akan semakin kuat, sehingga semakin berwibawa di hadapan musuh-musuhnya. (Disarikan dari at-Tadhamun al-Islami. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/192—193)

Ketika ditanya tentang persatuan, beliau menjawab, “Konsep yang saya tawarkan dalam permasalahan ini adalah mengajak umat secara keseluruhan kepada tauhid, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala semata, berpegang teguh dengan syariat-Nya, dan berupaya untuk tidak menyelisihinya. Inilah yang dapat menyatukan umat di atas kebenaran, memangkas perpecahan, dan menghilangkan sikap fanatik terhadap mazhab tertentu. Dengan kata lain, mengajak umat Islam untuk istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wata’ala, menjaga syariat-Nya, serta tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.

Dengan inilah barisan umat Islam dan kekuatan mereka akan bersatu, dan menjadi satu kesatuan laksana satu tubuh, satu bangunan, dan satu pasukan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Adapun jika setiap pribadi muslim berfanatik terhadap mazhabnya, gurunya, atau ideologi yang menyelisihi salaful ummah (pendahulu terbaik umat ini), sungguh akan terjadi perpecahan di tubuh umat. Oleh karena itu, wajib bagi para ulama, para da’i, dan para penguasa umat Islam untuk bahu-membahu mengajak umat kepada kebenaran, berpegang teguh dengannya, dan istiqamah di atasnya. Hendaknya target utama semua pihak adalah menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n, berjalan di atas al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta berupaya tidak menyelisihinya. Inilah satu-satunya jalan untuk mempersatukan kesatuan umat Islam, merapatkan barisan mereka, dan meraih kemenangan atas musuh mereka.Wallahu waliyyut taufiq (Majalah al-Buhuts al- Islamiyah edisi 18, tahun 1407 H. Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/448—449)

Pembelaan Beliau Terhadap Umat Islam dan Kehormatan Mereka

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah sosok ulama yang menyatu jiwanya dengan umat Islam di seluruh dunia. Bagi beliau, problem umat Islam di suatu negeri adalah problem bersama umat Islam di seluruh dunia. Tidak dibatasi oleh bangsa, warna kulit, ataupun bahasa. Tak jarang, ketika umat Islam di suatu negeri dihinakan, diperangi, disiksa, atau dianiaya beliau tergolong orang yang terdepan dalam membangkitkan semangat kebersamaan umat, agar segera terwujud sebuah pembelaan terhadap mereka. Di antara yang terkoleksi dari kiprah beliau dalam hal yang mulia ini adalah surat terbuka yang beliau tujukan kepada para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia sebagaimana berikut ini,

“Wahai para penguasa muslim dan segenap umat Islam di seluruh dunia, saya mengajak kalian semua untuk merealisasikan kandungan firman Allah Subhanahu wata’ala, {Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara}, merajut persaudaraan yang hakiki antarpribadi muslim walaupun berbeda bangsa, warna kulit, dan bahasa. Sudah seharusnya umat Islam satu kata dalam menghadapi umat-umat selain mereka… Sungguh pada hari ini umat Islam telah mendengar atau menyaksikan musibah yang menimpa saudara-saudara mereka di Filipina, Afghanistan, Eriteria, Ethopia, Palestina, dan di banyak negeri lainnya termasuk minoritas muslim yang hidup di bawah cengkeraman kekuatan negara-negara komunis yang kafir. Namun sayang, umat Islam tidak memerhatikan hak-hak mereka. Tidak pula berupaya memberikan pertolongan, pembelaan, dan bantuan….

Padahal para ulama telah menetapkan, jika ada seorang wanita muslimah yang dizalimi atau dihinakan di belahan bumi bagian barat, wajib bagi umat Islam yang berada di belahan bumi bagian timur untuk membelanya. Lalu bagaimanakah jika yang terjadi adalah pembunuhan, pengusiran, penganiayaan, permusuhan, dan penangkapan-penangkapan tanpa bukti?! Semua itu sungguh telah menimpa ratusan umat Islam, sementara saudarasaudara mereka seislam hanya berpangkutangan, tak ada yang mau peduli dan membela mereka kecuali hanya segelintir orang saja. Maka dari itu, wajib bagi negara-negara muslim dan semua pihak yang mempunyai kemampuan untuk memberikan perhatian kepada mereka yang lemah….

Jika umat Nasrani, Yahudi, komunis, dan yang lainnya dari kalangan orang kafir sangat memerhatikan hak-hak anggotanya walaupun berada di luar negeri yang jauh dari mereka, mengirimkan segala bantuan yang dibutuhkan, bahkan mengancam pihak-pihak yang menyakitinya walaupun anggota tersebut adalah seorang penjahat di negerinya; mengapa umat Islam hanya berpangku tangan terhadap pembantaian,

penyiksaan, dan gangguan yang menimpa saudara-saudara mereka di banyak negeri?!

Ketahuilah, barang siapa dari umat ini yang tidak mau peduli terhadap penderitaan saudaranya seislam dan tidak tergerak hatinya untuk membela mereka maka sangat dikhawatirkan musibah itu berbalik kepadanya. Yaitu ketika ia ditimpa musibah yang sama maka tidak ada seorang pun yang membelanya, atau menghentikan penganiayaan dan penyiksaan tersebut….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 2/162—163)

Ketika Masjid Babri di kota Ayodhya India diserang dan dihancurkan oleh kelompok militan Hindu, beliau mengeluarkan pernyataan keras terhadap para pelaku dan terhadap Pemerintah India sebagai berikut, “Kami meyakini bahwa penyerangan dan penghancuran Masjid Babri adalah kejahatan besar yang tak termaafkan, karena termasuk penghinaan terhadap Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka. Pemerintah India harus bertanggung jawab atas kejadian itu, dengan cara menghukum para pelaku kejahatan yang menyakitkan itu, membangun kembali masjid tersebut, dan menghentikan segala kejahatan dari pihak Hindu yang ditujukan kepada Islam, umat Islam, dan tempat-tempat suci mereka….

Pemerintah India juga harus menghormati Islam dan umat Islam di India, memilihkan tempat yang tepat untuk mereka, menghormati tempat-tempat suci mereka, serta mengayomi mereka dari gangguan orang-orang jahat dengan penuh kekuatan dan kesungguhan….” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 7/349—351)

Upaya Beliau dalam Pembentengan Umat

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat menyayangi umat Islam. Dengan gigih beliau berjuang membentengi mereka dari hal-hal yang membahayakan, baik yang bersifat fisik sebagaimana keterangan di atas maupun yang bersifat nonfisik sebagaimana yang akan disebutkan. Adapun pembentengan yang bersifat nonfisik adalah dalam bentuk pembentengan umat dari ghazwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan

oleh musuh-musuh Islam dan para kaki tangannya. Pembentengan tersebut meliputi:

1. Pembentengan akidah umat dari pemurtadan yang dewasa ini gencar dilakukan oleh kaum Nasrani, Yahudi, dan komunis.

2. Pembentengan manhaj (metode mengamalkan agama) umat dari bid’ah dan kesesatan, termasuk ideologi teroris.

3. Pembentengan akhlak umat dari dekadensi moral dan kemaksiatan. Rincian konsep dan bimbingan beliau seputar pembentengan umat tersebut dapat dilihat pada beberapa jilid dari kitab Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz terkhusus 3/338.

Meraih Penghargaan Internasional Raja Faisal (King Faisal International Prize) atas Pengabdian untuk Islam

Pengabdian yang dilakukan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah sangat dirasakan oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia, kecuali orangorang yang menutup mata karena kesumat benci yang menyelimuti hatinya. Demikianlah perjuangan beliau yang tiada henti. Tak mengherankan apabila Penghargaan Internasional Raja Faisal menganugerahkan penghargaan kepada beliau atas segala pengabdian yang beliau lakukan untuk Islam dan umat Islam.

Penghargaan yang tidak diberikan kepada sembarang orang itu dikeluarkan di Riyadh pada 6 Jumadal Ula 1402 H, bertepatan dengan 1 Maret 1982 M. Disebutkan padanya beberapa contoh dari pengabdian yang telah beliau lakukan sebagaimana berikut ini,

• Ragam aktivitas beliau yang banyak di medan dakwah ilallah dan ketegaran beliau di atas jihad, perjuangan, dan amal saleh di zaman ini.

• Militansi beliau dalam merealisasikan Islam yang tercermin pada pemikiran, perilaku, pedoman hidup, dan dakwah beliau.

• Peran aktif beliau yang bagus di bidang riset dan studi keilmuan Islam, di bidang pendidikan Islam, penyebaran ragam buku Islam dan pembagiannya secara gratis di berbagai penjuru dunia, hingga tercatat sebagai salah satu tokoh kebudayaan Islam yang terkemuka.

• Semangat beliau yang besar dalam memberikan berbagai solusi yang tepat untuk problematika Islam dan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

• Bantuan beliau terhadap berbagai gerakan jihad (syar’i, bukan terorisme, pen.) di berbagai belahan bumi ini.

• Dukungan beliau terhadap proyekproyek Islami dan dorongan beliau terhadap para ulama, pribadi-pribadi, dan lembaga-lembaga agar membantu proyek-proyek tersebut. (Lihat al-Kitab al-Watsaiqi ‘Anil Jami’ah al-Islamiyyah bil Madinah al-Munawwarah hlm. 221)

Sumber:  Majalah Asy Syariah Online

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.