Apakah Wajib Memberikan Nasehat untuk Orang yang Melakukan Kesalahan di Depan Umum Sebelum dia di Bantah

WSI manhajFawaid Manhajiyyah dari asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah

Pertanyaan Ke Empat

Pertanyaan: Apakah nasihat itu wajib (diberikan kepada orang yang melakukan kesalahan di hadapan publik) sebelum ia dibantah?
Jawaban; Asy-Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullah wara’aah menjawab,
Ahlul ‘ilmi menjelaskan bahwa bila orang yang melakukan kesalahan dan kesalahan tersebut (dilakukan) terang-terangan, nampak (di hadapan manusia), dan jelas, orang/kesalahan tersebut dibantah (dijelaskan kesalahannya) dan tidak disyaratkan harus ada nasihat sebelumnya. Bila nasihat ini mudah/mungkin disampaikan, yang demikian ini baik untuk dilakukan. Namun bila tidak mudah, bantahan tersebut wajib disampaikan ketika itu – oleh orang yang mengetahui (dan mampu memisahkan) kebenaran dari kebatilan dan mempu menjelaskannya – secara langsung. Karena terkadang orang ini meninggal setelah menyampaikan kebatilan (di tengah-hengah manusia) namun ia tidak lagi menolehnya. Oleh karena itu wajib bagi yang mengetahui kebenaran dari kebatilan untuk mengingkarinya saat itu juga.

Ini dia Ibnu Umar , ketika Abdurrahman bin Ya’mur dan seseorang yang lain mendatangi beliau dan menanyai beliau tentang sekte Qadariyyah, beliau langsung mengingkari paham Qadariyyah ini di hadapan mereka, dan beliau tidak berkata, “Tunggu dulu sampai aku utus seorang utusan kepada mereka, atau sampai mereka mendatangiku.” Beliau benar-benar berlepas diri dari perkataan mereka dan berlepas diri dari mereka bila mereka terus-menerus berada di atas perkataan sesat mereka. Jadi tidak disyaratkan harus ada nasihat sebelum disampaikan bantahan terhadap orang yang menyelisihi al-haqq (secara terbuka).
Dan ini –semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak kepadamu- juga termasuk kaidah-kaidah dan pembuatan/penyusunan hukum dasar yang rusak (batil)’ yang ditetapkan oleh sebagian manusia sebagai asas (di dalam masalah al-jarh wat-ta’dil), untuk menjadikan maslahat dakwah bergantung pada pribadi tertentu pembawa dakwah tersebut dan menjadikan nasihat  diberikan kepada pribadi tersebut secara rahasia dan tidak secara terbuka sehingga reputasinya tidak jatuh. Namun bukan demikian keadaan Salaf kita dulu. Para pendahulu kita secara langsung mengingkari orang yang menyelisihi al-haqq, mengingkari kesalahan, dan menjelaskannya. Dan dulu orang yang melakukan kesalahan (di antara mereka) senang dengan hal ini (pengingkaran dan bantahan tersebut) dan rujuk dari kesalahannya –sebagaimana hal ini sudah dijelaskan sebelumnya.

السؤال الرابع : هل النصيحة واجبة قبل الرد ؟

الشيخ أحمد بازمول حفظه الله ورعاه :

أهل العلم بينوا أن المخطئ والخطأ إذا كان معلنا ظاهرا واضحا فإنه يرد ولا تشترط النصيحة قبل ذلك إن تيسرت فحسن وإن لم تتيسر فالرد واجب في حينها على من علم الحق من الباطل واستطاع بيانه واجب مباشرة لأنه قد يموت هذا الشخص ويمرر الباطل ولا يلتفت إليه ولذلك يجب على من علم الحق من الباطل أن ينكره مباشرة هذا بن عمر رضي الله عنهما ورضي الله عنهم أجمعين لما أتاه عبدالرحمن بن يعمر والرجل الأخر وسألاه عن القدرية أنكر عليهم مباشرة وما قال له انتظر حتى أرسل إليهم مرسولا أو يأتوني أو إنما تبرأ تبرأ مما يقولون وتبرأ منهم إن كانوا يصرون على هذا القول فالرد على المخالف لا يشترط فيه النصيحة قبل .

وهذه بارك الله فيك أيضا من القواعد ومن التأصيلات الفاسدة التي يأصلها بعض الناس ليجعل مصلحة الدعوة معلقة بشخصه ويجعل النصيحة تكون له في السر لا في العلن فلا يفتضح أمره وما كان هذا حال السلف كان السلف مباشرة ينكرون على المخالف وينكرون الخطأ ويبينونه وكان من أخطأ يفرح بهذا كما سبق ويرجع .

Sumber :http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=136061

Dikumpulkan oleh Abu Muhammad as-Sunni al-Libi.
Dialihbahasakan oleh Ummu Maryam al-Atsariyyah.

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.