Akibat Lupa Kebaikan untuk Diri Sendiri

Akibat Lupa Kebaikan untuk Diri SendiriAKIBAT LUPA KEBAIKAN UNTUK DIRI SENDIRI

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal hafizhahullah

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?” (al-Baqarah: 44)

Penjelasan Mufradat Ayat

“Mengapa kamu suruh….”

Ayat ini berbentuk pertanyaan, namun maknanya adalah menjelekkan orang yang melakukannya. (Tafsir al-Qurthubi dan Fathul Qadir)

“Kebajikan.”

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam mengungkapkan secara rinci tentang makna “al-birr” dalam ayat ini. Namun, secara umum mereka sepakat bahwa segala jenis ketaatan dalam agama disebut al-birr. (Tafsir ath-Thabari)

Al-Qurthubi berkata, “Al-birr adalah ketaatan dan amal saleh.” (Tafsir al-Qurthubi)

Al-Allamah as-Sa’di berkata, “Iman dan kebaikan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

“Kamu melupakan.”

Maknanya adalah lupa. Akan tetapi, lupa yang dimaksud dalam ayat ini adalah meninggalkan. Ini seperti halnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, serta mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 67)

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am: 44)

“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 237) (Tafsir al-Qurthubi)

“Tidakkah kamu berakal?”

Yang dimaksud berakal di sini adalah memahami karena akal adalah pemahaman. As-Sa’di mengatakan, “Disebut akal karena dia mampu memahami apa yang bermanfaat baginya berupa kebaikan dan menahan diri dari yang memudaratkannya. Hal itu karena akal menganjurkan pemiliknya menjadi orang yang pertama melakukan apa yang diperintahkannya dan yang pertama pula meninggalkan apa yang dilarangnya. Oleh karena itu, siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan sementara dia tidak melakukannya atau dia melarang dari kejahatan namun dia justru melakukannya, ini menunjukkan bahwa dia tidak berakal dan bodoh. Terlebih lagi jika dia telah mengetahuinya sehingga telah tegak hujjah atasnya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Siapakah yang Dimaksud oleh Ayat Ini?

Mayoritas ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan perbuatan ahli kitab yang menganjurkan kebaikan kepada orang lain namun mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Juraij, Qatadah, dan yang lainnya. Namun penunjukan ayat ini bersifat umum untuk siapa saja termasuk umat ini.

As-Sa’di Rahimahullah mengatakan, “Meskipun ayat ini turun terkait dengan Bani Israil, namun bersifat umum untuk siapa saja berdasarkan firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2—3)

Setelah menjelaskan makna “al-kitab” dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah Taurat, al-Qurthubi Rahimahullah menerangkan, “Demikian pula orang yang berbuat seperti perbuatan mereka, dia sama seperti mereka.” (Tafsir al-Qurthubi)

Bahaya Meninggalkan Kebaikan yang Diajarkan kepada Orang Lain

Ayat ini menjelaskan diharamkannya seseorang menganjurkan kebaikan kepada orang lain namun dia tidak melakukannya, atau melarang orang lain dari satu kemaksiatan namun dia melanggarnya. Ibnu Katsir Rahimahullahmenjelaskan ayat ini, “Apakah layak bagi kalian, wahai ahli kitab, kalian memerintahkan manusia kepada al-birr, yaitu kumpulan kebaikan, lalu kalian melupakan diri kalian sendiri.Kalian tidak melakukan apa yang kalian perintahkan kepada manusia untuk melakukannya, padahal kalian membaca Al-Kitab dan mengetahui isinya yang menjelaskan akibat orang yang tidak menjalankan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tidakkah kalian menggunakan akal kalian terhadap perbuatan kalian agar kalian sadar dari tidur kalian dan sembuh dari kebutaan kalian?” (Tafsir Ibnu Katsir)

Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ يَعْقِلُونَ

Aku melihat satu malam tatkala aku melakukan perjalanan isra’ beberapa lelaki yang digunting bibir-bibir mereka dengan gunting-gunting dari api neraka. Aku bertanya, “Siapakah mereka ini, wahai Jibril?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para pengkhutbah dari kalangan umatmu. Mereka memerintahkan manusia kepada kebaikan namun mereka lupa akan diri mereka sendiri padahal mereka membaca al-kitab. Tidakkah mereka berakal?” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Disahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, 1/291)

Diriwayatkan pula dari hadits Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلاَنُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

Didatangkan pada hari kiamat seorang lelaki lalu dilempar ke dalam api neraka, dalam keadaan ususnya terburai keluar. Lalu dia berputar seperti keledai yang berputar pada batu penggilingnya. Penduduk neraka kemudian berkumpul mengerumuninya lalu bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Benar. Akan tetapi, aku mengajak kepada kebaikan sementara aku tidak melakukannya dan aku mencegah dari kemungkaran sementara aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)

Ibrahim an-Nakha’i Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku benci bercerita karena tiga ayat ini:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?” (al-Baqarah: 44)

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (ash-Shaf: 2)

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Abu Umar bin Mathar mengisahkan bahwa dia menghadiri majelis Abu Utsman al-Hiri az-Zahid. Beliau keluar lalu duduk di tempat yang ia biasa duduk di atasnya untuk memberi nasihat. Beliau diam cukup lama. Lalu ada seseorang yang dikenal dengan sebutan Abul Abbas memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau hendak mengucapkan sesuatu dengan diammu ini?”

Beliau menjawab:

وَغَيْرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ بِالتُّقَى

طَبِيْبٌ يُدَاوِي وَالطَّبِيبُ مَرِيضُ

Orang yang tidak bertakwa memerintahkan manusia untuk bertakwa, Dokter ingin mengobati sementara dokternya sendiri sedang sakit

Seketika itu terdengar suara gemuruh tangisan manusia.

 

Abul Aswad ad-Du’ali Rahimahullah mengatakan:

لاَ تَنْهَ عَنِ خُلُقٍ وَتَأْتِي مِثْلَهُ

عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيمُ

وَابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا

فَإِنِ انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيمُ

فَهُنَاكَ يُقْبَلُ إِنْ وَعَظْتَ وَيُقْتَدَى

بِالْقَوْلِ مِنْكَ وَيَنْفَعُ التَّعْلِيمُ

Jangan engkau melarang dari satu perangai sementara engkau sendiri melakukannya, Sungguh celaan besar bagimu jika engkau melakukannya, Mulailah dari dirimu dan cegahlah dari penyimpangannya, Jika dirimu meninggalkannya berarti engkau seorang yang bijak, Akan diterima jika engkau menasihati dan engkau akan diikuti, ucapanmu dan pengajaranmu jadi bermanfaat, (Lihat Tafsir al-Qurthubi)

Pemahaman yang Perlu Diluruskan

Sebagian orang memahami bahwa makna ayat ini menunjukkan tidak diperbolehkan bagi seorang muslim melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar sebelum dia mengamalkan apa yang dia perintahkan kepada orang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru karena dalam hal ini ada dua perkara yang setiap muslim dituntut menegakkannya.

  1. Mengamalkan perintah dan menjauhi larangan
  2. Mengajak orang lain untuk menaati perintah dan larangan tersebut

Kedua hal ini harus ditegakkan oleh setiap muslim. Apabila dia tidak mengerjakan salah satunya, dia terjatuh ke dalam perbuatan dosa sesuai dengan kadar kewajiban dan larangan yang dilanggarnya. Lebih besar lagi dosanya jika dia meninggalkan keduanya. Oleh karena itu, seorang muslim tetap diperintahkan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar meskipun dia sendiri belum menegakkannya. Jika dia tidak mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, ditambah lagi tidak menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dia melakukan dua pelanggaran terhadap syariat Allah ‘azza wa jalla.

Al-Allamah as-Sa’di Rahimahullah mengatakan, “Ayat ini tidak menunjukkan bahwa jika seseorang tidak menegakkan apa yang diperintahkan, maka dia harus meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, ayat tersebut menunjukkan tercelanya seseorang jika ditinjau dari dua kewajiban yang wajib ia tegakkan. Sebagaimana diketahui, seseorang memiliki dua kewajiban: memerintah dan melarang orang lain, serta memerintah dan melarang dirinya sendiri. Meninggalkan salah satunya bukanlah keringanan baginya untuk meninggalkan yang lain, karena kesempurnaan iman adalah jika seseorang menegakkan keduanya, sedangkan kekurangan yang sempurna adalah jika dia meninggalkan keduanya. Adapun jika dia menegakkan salah satunya tanpa yang lain, dia berada di bawah tingkat yang pertama, namun di atas tingkat yang terakhir. Demikian pula, jiwa-jiwa manusia terbiasa untuk tidak mengikuti orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya. Oleh karena itu, memberi contoh kepada mereka dengan perbuatan lebih memberi pengaruh daripada memberi contoh hanya dengan ucapan semata (tanpa perbuatan).” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela mereka karena perbuatan ini dan memperingatkan mereka atas kesalahan mereka. Mereka mengajak kepada yang ma’ruf namun mereka sendiri tidak melakukannya. Bukan yang dimaksud bahwa mereka dicela karena mengajak kepada kebaikan lalu mereka sendiri meninggalkannya. Namun, mereka dicela hanya karena meninggalkannya. Sebab, beramar ma’ruf adalah kebaikan dan hal yang wajib atas seorang alim. Akan tetapi, yang wajib dan yang paling utama bagi seorang alim adalah melakukan apa yang dia perintahkan kepada yang lain dan tidak meninggalkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’aib ‘alaihissalam:

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)

Oleh karena itu, setiap amar ma’ruf wajib ditegakkan. Tidak gugur salah satunya karena meninggalkan yang lain, menurut pendapat yang lebih benar dari dua pendapat para ulama kalangan salaf dan khalaf. Sebagian mereka berpendapat bahwa pelaku maksiat tidak boleh melarang yang lainnya dari melakukannya. Ini pendapat yang lemah. Lebih lemah lagi tatkala mereka menjadikan ayat ini sebagai pegangan, padahal tidak ada hujjah pada ayat tersebut yang menguatkan alasan mereka. Yang benar adalah seorang alim mengajak kepada yang ma’ruf meskipun dia tidak melakukannya, dan melarang dari kemungkaran meskipun dia sendiri melakukannya.

Malik bin Rabi’ah mengatakan, “Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata, ‘Seandainya seseorang tidak mengajak kepada yang ma’ruf dan tidak mencegah dari kemungkaran sampai dia tidak punya kesalahan sama sekali, maka tidak ada seorang pun yang akan mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran’.”

Malik berkata, “Benar ucapan beliau. Siapakah orang yang tidak punya kesalahan sama sekali?”

Aku (Ibnu Katsir) berkata,”Akan tetapi—kenyataannya demikian—ia dicela karena meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, dalam keadaan dia mengetahui dengan ilmunya. Sebab, tidaklah sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Asy Syariah

© 1438 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.