Tag: bantahan untuk abdul barr

Hadiah Teruntuk Ustadz Abdul Barr Atas Kekeliruannya

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HADIAH TERUNTUK USTADZ ABDUL BARR ATAS KEKELIRUANNYA

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya0

Membaca sebuah artikel tertanggal 26 Desember 2013 dalam blog pribadi Abdul Mu’thi Al Maidany yang ditulis oleh Al Ustadz Abdul Barr Kaisinda yang diberi judul “ Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh”.

Sepintas ketika dibaca, terkesan adalah sebuah tulisan yang ‘ilmiah’ dengan menghadirkan beberapa kalimat dari Kalamullah dan Kalam Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Tak terlupa pula beberapa Atsar dari Salafus Shalihin Rahmatullah ‘Alaihim Ajmain.

Sedikit kembali dibaca dengan menuangkan beberapa kejap perhatian, tampak sebuah tulisan yang terpaksa dituangkan karena sebuah pembelaan. Terlepas pembelaan yang diajukan diletakkan pada tempatnya ataukah tidak, faktanya bahwa sang penulis kurang begitu mengetahui biografi orang yang hendak “dijatuhkannya”. Lebih tepatnya ia bisa disebut sebagai orang yang “Tertinggal  Sejarah”.

Semakin teliti dalam membaca, ternyata Al Ustadz Abdul Barr sepertinya kurang bagus dalam memahami permasalahan, kurang tepat dalam peletakannya, dan hendak mengalihkan perhatian dari duduk “permasalahan”sebenarnya.Saya memberikan tanggapan atas tulisannya tanpa mengubah muatan, itupun jika memang benar Ustadz Abdul Barr jujur dalam bercerita. Adapun jika ada sebagian isinya ternyata berdusta, maka bisa jadi tanggapan saya bisa berubah lebih dari yang saya tuliskan.

1. Dari judul artikel yang dibawakan “ Mengenal Sang Politikus Dakwah, Pemecah Belah Ahlus Sunnah, Al Ustadz Lukman Baabduh”.

Dua julukan yang sekaligus disematkan “Politikus Dakwah” dan “Pemecah Belah Ahlus Sunnah”. Tidakkah engkau mengingat ayat Allah

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (٥٨)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Al Ahzab :58)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (١١)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela sesama kalian dan jangan memanggil dengan julukan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (Al Hujurat :11)

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya2

Judul bersifat provokatif tanpa adanya Hujjah dan Burhan. Bisa mengakibatkan pandangan miring dan kebencian yang muncul dari hati para pembaca. Yang pasti Ahlul Bid’ah para musuh dakwah ini sangat berbahagia dengan tulisannya. Mereka sudah bisa tersenyum gembira, ataupun bisa juga justru bertepuk tangan karenanya. Mukhalifin tidak perlu bersusah payah untuk menjatuhkan Ahlus Sunnah, karena Mukhadzdzilin sudah tampil mewakili. Bahkan lebih “telak” terasa, lebih “menyakitkan” dirasa. Tak tanggung-tanggung, yang tampil bergulat adalah sosok “Kawan Lama” di barisan Mukhalifin, sering diistilahkan sebagai Mukhadzdzilin.

Pertanyaan yang muncul adalah “Benarkah Ustadz Luqman Ba’abduh adalah Politikus Dakwah dan Pemecah Belah Ahlus Sunnah ?” Kita perlu membaca alasan yang diutarakan dalam tulisan, kitapun butuh memperhatikan Hujjah dan Burhan yang di tampilkan. Butuh data yang akurat untuk memvonisnya.

Ditampilkan dalam alinea pertama oleh Ustadz Abdul Barr :

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya3

Sungguh sangat mulia yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Hafidzahullahu Ta’ala (Jika benar penukilan dari Ustadz Abdul Barr). Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Asy-Syaikh Abdurrahman adalah salah seorang Ulama yang kita cintai.Seorang yang Faqih sebagaimana disebut oleh Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullah Ta’ala. Perhatian dan kesungguhan beliau dalam Dakwah Salafiyyah tidak diragukan lagi. Tidak ada yang salah pada ucapan beliau. Bahkan itu merupakan sebuah bimbingan dan bukti cinta dan kasih sayangnya kepada Salafiyyin secara khusus dan kepada Kaum Muslimin secara keumuman.

Ucapan Beliau tentu tidaklah berbeda dengan Para Ulama lainnya. Indonesia adalah negeri yang besar, padanya terdapat umat yang besar, membutuhkan seorang yang kuat dalam ilmu, untuk kaum muslimin merujuk kepadanya. Bahkan Indonesia tidaklah cukup dengan seorang Alim Ulama saja, bahkan membutuhkan ratusan Ulama, sebagaimana bumi kita sekarang ini membutuhkan ratusan bahkan ribuan Ulama yang membimbing dalam derap langkah melalui kehidupan ini.

Tentu dan sangat jelas, seorang Ustadz Luqman Ba’abduh tidak mungkin bisa memikul beban sebagaimana yang dipikul oleh Ulama. Sebuah kemustahilan bila permasalahan dakwah di Indonesia dengan mengampu jutaan manusia akan disandarkan kepada Ustadz Luqman Ba’abduh seorang.

Sehingga, tidak ada yang salah dalam ucapan Syaikh Abdurrahman –hafidzahullahu Ta’ala-. Bahkan sebaliknya, bukankah itu merupakan bukti kecintaan beliau terhadap dakwah Salafiyyah? Bukankah beliau yang memulai pertanyaan, sebagaimana kata Abdul Barr “Pada kesempatan itu, beliau bertanya tentang perihal dakwah di Indonesia”.

Bahkan kalimat tersebut menjadi motivasi bagi kita semua Salafiyyin untuk memperdalam ilmu, dan merujuk kembali kepada para Ulama. Jika kita tidak mendapatkan Ulama di Indonesia sebagai sandaran dan pembimbing, maka kita kembalikan kepada para Ulama yang sebenarnya. Sehingga kita mendapatkan solusi dalam  masalah yang dihadapi. Alhamdulillah Asatidzah Ahlus Sunnah di Indonesia memiliki Irtibath (komunikasi berkesinambungan) bersama Para Ulama sampai detik ini.

Dalam Ucapan Syaikh Abdurrahman Al Adeny juga tidak terdapat didalamnya ucapan “celaan” kepada Ustadz Luqman Ba’abduh. Tidak pula beliau memperingatkan dengan sebutan “Politikus Dakwah” ataupun “Pemecah Belah Ahlus Sunnah”. Tidak pula sedikitpun dari kalimat yang beliau ucapkan menunjukkan ‘ihtiqar’(perendahan) kepada Ustadz Luqman.

Tapi rupanya anda wahai Ustadz Abdul Barr hendak “memolitisir” kalimat Beliau. Saya tidak tahu apakah hendak menggunakan kalimat “terkesan” atau “mengesankan”, sebagai tanggapan atas politisasi kalimat.

Sekarang kita lihat bersama, betapa kurang tepatnya Ustadz Abdul Barr mengartikan kalimat yang diucapkan Oleh Syaikh Abdurrahman Al Adeny.

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya4

Sandingkanlah ucapan Syaikh Abdurrahman dengan “makna” yang diartikan oleh Ustadz Abdul Barr Kaisinda. Darimana wahai Ustadz engkau bisa mengartikan dan memahami ucapan Syaikh Abdurrahman seperti yang engkau katakan?

Dan ternyata setelah saya pulang ke Indonesia apa yang dikhawatirkan oleh Asy Syaikh Abdur Rahman benar adanya. Ketika orang yang tidak berilmu berbicara tentang agama maka dia akan sesat lagi menyesatkan”.

Tunjukkan kepada kami titik temu antara “kesimpulan” pribadimu dengan Kalam Syaikh Abdurraman! Kalau yang engkau maksud adalah hizbiyyin, maka mereka pantas mendapatkan julukan itu.Tapi jika yang engkau maksud adalah Ustadz Luqman, maka Syaikh tidak memberikan kesimpulan seperti yang kamu simpulkan.

Syaikh Abdurrahman sedang mengajakmu berbicara tentang Dakwah Ahlus Sunnah, bukan tentang dakwahnya Ruwaibidhah. Syaikh Abdurrahman sedang mengajakmu berbicara tentang “seorang yang kuat dalam ilmu, untuk kaum muslimin merujuk kepadanya (dari kalangan duat Ahlus Sunnah)” dan tidak sedang mengajakmu berbicara tentang “Duat yang tidak berilmu berbicara tentang agama, maka dia akan sesat lagi menyesatkan”.Tentu kalam ini bukanlah yang dimaksud oleh Syaikh Abdurrahman. Hendaknya engkau cermati lagi “Perbedaan” antara “Salafiyyin dengan Hizbiyyin” karena dikhawatirkan engkau belum bisa membedakannya.

Syaikh Abdurrahman tidaklah mengkhawatirkan bahwa Ustadz Luqman termasuk Ruwaibidhah yang ada dalam tubuh Ahlus Sunnah. Akan tetapi beliau mengkhawatirkan jika Ustadz Luqman memposisikan diri sebagai Ulama rujukan, sehingga manusia merujuk kesana, padahal beliau tidak mampu memikulnya.

Kenyataannya beliau tidaklah memposisikan diri sebagai Alim Ulama. Tidak ada sedikitpun beliau memposisikan diri dan menganggap diri sebagai Ulama. Bahkan untuk mengetahui “sejarah belajar” dan “biografi” beliau pun akan sulit didapatkan. Berbeda bukan dengan kawanmu yang bernama “Dzulqarnain”? Seorang yang mengenal Ustadz Luqman dengan baik, tentu akan mengetahui fadhilah yang Allah berikan kepadanya.

Menyadari keadaan di negeri kita Indonesia yang tidak terdapat Ulama disana, maka beliau dan Asatidzah bersamanya selalu menyambung tali hubungan dan komunikasi bersama para Ulama. Tidaklah ada sebuah pertanyaan yang terkait dengan dakwah, kecuali akan dirembug (dimusyarawahkan) bersama terkait poin yang akan ditanyakan. Sehingga benar-benar bisa bersifat obyektif dan sesuai dengan kenyataan yang ada. Benar bukan ?Ustadz Abdul Barr mestinya bisa menjawab.

Semakin memperparah keadaan, sampai hati engkau wahai Ustadz Abdul Barr untuk membawakan Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam beserta ucapan dari sebagian Ulama Besar yang terdahulu, sebagai tameng untuk memaksakan “kesimpulanmu yang salah”. Seharusnya, bila engkau terpaksa membawakan Dalil, maka datangkanlah dalil untuk menjelaskan ucapan Syaikh Abdurrahman dan bukan dalih yang menjelaskan kesimpulan bathilmu.

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ucapan As Syatibi, Ibnul Qayyim rahimahumallah ditujukan kepada siapa? Kepada Ahlus Sunnah yang mengikuti bimbingan para Ulama ataukah kepada Ahlul Bid’ah yang memusuhi Ahlus Sunnah? Ataukah justru lebih tepat tertuju kepada Mukhadzdzilah yang menggembosi dan hendak menjatuhkan Dakwah  Ahlus Sunnah?

Apakah engkau rela Ahlus Sunnah di Indonesia diam seribu bahasa sehingga tidak memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dengan alasan “Bahwa tidak ada Ulama di Indonesia” yang istilahnya sebagai “Ruwaibidhah” (dalam makna yang disalah artikan)? Kemudian engkau rela jika yang berbicara biarkan Ahlul Bid’ah dan Hizbiyyin saja? Atau yang engkau maksudkan, biarkan Ulama yang berdakwah, kita sebagai pendengar saja dan biarkan pula mereka sendiri yang mempelajari kasus yang terjadi dalam dakwah? Jangan kita menyambung lisan para Ulama dalam dakwah, karena kita orang-orang yang tidak berilmu. Sehingga kita cuma belajar dan beramal, tidak ikut menyampaikan dakwahnya para Ulama. Apakah demikian yang engkau maksudkan?

Dalam menyikapi makna ucapan Asy-Syaikh Abdurrahman, semestinya kita tanyakan bersama kepada Beliau. Beliau adalah orang yang paling berhak untuk menjelaskan, karena beliau masih hidup dan masih bisa dihubungi. Tapi mengapa di“politisir” dengan diartikan secara sepihak, lalu disebarkan melalui artikel di internet?

Fakta di lapangan, bahwa Asy-Syaikh Abdurrahman telah memenuhi undangan Ustadz Luqman dan Asatidzah dengan tazkiyah dari Asy Syaikh Rabi’ hafizhahumullah dengan bukti kunjungan beliau ke Indonesia.  Bahkan Asy-Syaikh Abdurrahman menyambut hangat kedatangan Ustadz Luqman bersama Asatidzah ketika beliau beekunjung ke Fiyus. Adapun ucapan yang engkau nukil dari beliau (itupun jika benar) –wahai ustadz Abdul Barr! – sudah berapa lamakah umurnya? 10 Tahunkah?

Bukankah Allah berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٤٣)بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (٤٤)

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (An Nahl : 43-44)

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf :108)

Dan kenapa baru sekarang engkau lontarkan setelah berselang waktu yang sedemikian lamanya justru setelah kedatangan beliau ke Indonesia memenuhi undangan Asatidzah atas rekomendasi Asy-Syaikh Rabi’? Apakah ini amanah ilmiah? Ataukah ini merupakan dari menyembunyikan ilmu (jika memang engkau yakini bahwa ucapan beliau itu merupakan peringatan besar dari Asy Syaikh Abdurrahman akan bahayanya seorang Luqman)?   Ataukah engkau angkat ucapan beliau (setelah sekian tahun engkau kubur dalam-dalam) karena situasi saat ini dikondisikan agar “cocok” untuk memolitisir ucapan beliau hafizhahullah?!

Siapakah Ruwaibidhah itu? Siapa yang paling pantas mendapatkan “gelar” ini sehingga kita harus membedakan antara orang “Besar” dan orang “rendahan” alias Ruwaibidhah yang berbicara urusan manusia. Berikut diantara kaedah yang disebutkan oleh As Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul dalam Kitab Qawa’id Salafiyyah wa Nasha`ih Taujihiyyah Li al-Khuruj min Fitan al-Hizbiyyah :

KAIDAH KEDELAPAN

Hendaknya kita ketahui bersama bahwa : ORANG-ORANG YANG BERADA DI ATAS AL-HAQ(KEBENARAN) DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA, MAKA  DIRINYA MASUK KATEGORI “KABIR” (ORANG-ORANG BESAR).

SEORANG YANG BERADA DI ATAS SUNNAH DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA SERTA BERJALAN DI ATAS MANHAJ SALAFY MAKA DIRINYA MASUK  KATEGORI  “KABIR” DENGAN AL-HAQ YANG IA BERJALAN DIATASNYA. SUNGGUH DIA BERADA DI ATAS KEBAIKAN YANG SANGAT  AGUNG –BIIDZNILLAH TA’ALA-.

Adapun barangsiapa yang menyelisihi al-haq, memusuhi, dan tetap bertahan di atas kebatiilannya maka ia“Shagir” (orang kecil/rendahan), meskipun ilmunya banyak.

Sehingga ilmu diambil dari golongan pertama diatas, dan tidak diambil dari golongan kedua.Ilmu diambil dari orang yang berada di atas al-Haq dan tidak diambil dari orang yang menyimpang dari al-Haq.

Sebagai penyempurna, kami lampirkan pula Kaedah Lainnya :

KAIDAH KETUJUH

Saya nasehatkan kepada diri saya pribadi dan kepada saudara-saudaraku, yaitu dengan suatu kaidah yang telah ditetapkan dan dikenal, akan tetapi perlu selalu kita mengulanginya dan kembali meyebutkannya :

HENDAKNYA SELALU BERGABUNG DALAM BARISAN ULAMA SALAFIYYIN, DAN MENJAUHKAN DIRI DARI AHLUL BID’AH DAN AHLUL AHWA’. HENDAKNYA MENJAUH DARI ORANG YANG TIDAK JELAS BESERTA ORANG-ORANG YANG TELAH MENDAPATKAN TAHDZIR. ATAUPUN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARINYA PERMUSUHAN TERHADAP ULAMA SALAFIYYINDAN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARI SELA-SELA UCAPANNYA SESUATU YANG MENUNJUKKAN TIDAK ADA KECENDERUNGAN KEPADA SALAFIYYIN

Ini adalah perkara yang sangat penting. Karena sebagian generasi muda Salafiyyin terkadang berada  di sekitar seseorang, yang sebenarnya ia bukanlah seorang salafi, namun berpenampilan salafi. Para pemuda berkerumun disekitar orang tersebut, sehingga dia pun “membina” (para pemuda tersebut) kepada apa yang dia maukan, berupa berbagai fitnah dan petaka. Setelah mapan, kemudian dia memecahkan diri dari Salafiyyin, dan jadilah barisan Salafiyyin di daerah tersebut terpecah menjadi dua bagian atau bahkan lebih. (dan sebenarnya pecahan-pecahan tersebut, tidak bisa lagi dianggap sebagai salafy,pent).

Kemudian, mengapa saya justru ikut campur dalam urusan ini?

Sesungguhnya saya menuntut ilmu di sisi para Ulama Salafiyyin, atau di sisi seorang yang direkomendasi ‘ulama salafiyyin, atau kepada orang yang memang jelas, dikenal nyata sebagai seorang Salafy, berdakwah kepada manhaj salafi dan tidak sedikitpun didapatkan padanya tahdzir.

Ini juga merupakan salah satu kaedah penting, karena kita yakin bahwa seseorang jika ingin meminum air, ia akan memilih air yang bersih jernih sehingga ia tidak terserang penyakit karena kotornya air yang diminumnya.

Maka kita katakan, demikian juga dengan ilmu. Sesungguhnya Ilmu jauh lebih penting dari air, dan lebih penting daripada makanan dan minuman, karena seseorang membutuhkan ilmu terus-menerus. Sesungguhnya mengambil ilmu yang jernih dari Ahlul Ilmi yang dikenal beningnya dalam manhaj dan aqidah ini merupakan suatu kewajiban secara syar’i.Hal ini lebih selamat untuk ditempuh agar terhindar dari berbagai penyakit hati dan syubhat. Terhindarkan dari terjerumusnya dalam fitnah. Oleh karenanya banyak ditemui dari generasi muda dan para da’i yang menyimpang dan tersesat karena sebab tidak memperhatikan mengikuti kaedah ini.

Seorang Salafy harus menjauh dari Ahlul bid’ah yang sesat, ini sudah sangat gamblang. Akan tetapi permasalahannya adalah apabila ia tidak menjauh dari orang-orang yang menampakkan perkara-perkara yang rancu membingungkan, tidak pula ia menjauh dari orang-orang yang sudah terkena tahdzir dari sisi ‘ulama, meskipun sekilas ia menampilkan as-Sunnah. Namun para ‘ulama sedang membantahnya, menuntutnya untur rujuk dari kebathilan, dan para ‘ulama juga tengah menjelaskan kesalahan-kesalahan dan ketergelincirannya.Maka menyikapi tokoh-tokoh yang seperti itu, yang lebih selamat dan lebih utama bagi seseorang adalah menjauhi tokoh-tokoh seperti mereka itu.

Sebagaimana ungkapan yang dituturkan oleh Ahlul Ilmi : “Pada (hadits) yang shahih itu sudah terdapat kecukupan (tidak butuh lagi) kepada (hadits) yang dha’if”.

Demikian juga yang kita katakan : “Pada para ‘Ulama Salafiyyin, kitab-kitabnya, rekaman-rekamannya itu terdapat kecukupan dan tidak butuh lagi kepada Ahlul Bid’ah serta Ahlul Ahwa’. Tidak butuh pula dengan orang-orang yang sudah terkena Jarh, serta tidak membutuhkan orang-orang yang tidak berprinsip dan tidak punya pendirian (dalam bermanhaj).”

Kita tidak membutuhkan mereka, ini adalah Agama Allah, kita tidak main-main padanya. Setiap orang akan bertanggung jawab atas perkara ini. Hendaknya dia tinggalkan fanatisme terhadap tokoh-tokoh tertentu, tinggalkan fitnah dan segala yang bisa memunculkan fitnah pada dirinya, meskipun dirinya merasa memiliki ilmu yang luas, dan lain sebagainya.

Jadi, siapakah itu Politikus Dakwah? Pemecah Belah Ahlus Sunnah? Ruwaibidhah? Dirimu sendiri berada di posisi yang mana? Apakah engkau memposisikan diri sebagai Ulama? Apakah engkau mengikuti bimbingan Ulama? Atau bagaimanakah yang engkau maksudkan dari ucapan itu semua? Aslahakumullah.

2. Ucapan selanjutnya yang dituliskan oleh Ustadz Abdul Barr dalam artikel “ilmiahnya” sebagai Hujjah dan Burhan bahwa Ustadz Luqman Baabduh adalah Politikus Dakwah dan Pemecah Belah Ahlus Sunnah.

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya5

Dalam forum diskusi Asatidzah pengampu Majalah Asy Syari’ah, dijadikan alasan oleh Ustadz Abdul Barr Kaisinda sebagai batu loncatan untuk memaksakan kesimpulannya: Ustadz Luqman sebagai Politikus Dakwah. Sebuah forum Ilmiah, dibahas didalamnya secara bersama-sama tentang dakwah Ahlus Sunnah secara umum. Adapun secara khusus membahas tentang perjalanan Majalah As Syari’ah termasuk materi pembahasan. Dalam sebuah forum kebersamaan, terkadang seseorang mengusulkan suatu usulan yang benar, terkadang pula salah. Kemudian dalam forum tersebut terjadi perbandingan pendapat, ada yang berpendapat dan ada yang menyanggah. Kemudian dilihat dan dihitung secara Syar’i tentang pendapat yang dikemukakan.

Bila pendapat yang diajukan bagus dan tidak menyelisihi Syar’i patut di hormati. Bila pendapat yang diajukan tidak tepat atau bahkan menyelisihi Syar’i, maka patut ditolak. Jika pendapat yang diajukan terjadi tarik ulur, apakah syar’i ataukah tidak, bagus ataukah tidak, maka sepantasnya diajukan kepada Ulama untuk kita mendengar solusi dari mereka.

Kesalahan dari sikap Ustadz Luqman pada sisi yang mana? Bila kita mau menilai objektif persis dengan apa yang Ustadz Abdul Barr ucapkan :

“ketika itu dia mengusulkan suatu masalah yang bisa dibahas di majalah Asy-Syari’ah, yaitu pengalaman masa lalu kisah nyata tentang orang-orang yang bermaksiat untuk diambil pelajaran”.

Dari ucapan diatas, saya katakan itu merupakan pendapat yang berdasar. Bukankah banyak dalam Al Qur’an kisah orang-orang yang berbuat maksiat? Bukankah banyak dalam hadits kisah orang-orang yang berbuat maksiat? Bukankah sering kali Salafus Shalih menceritakan orang-orang yang berbuat maksiat?untuk apa semua itu diceritakan? Bukankah untuk diambil pelajaran darinya? Kisah Ka’ab bin Malik ? Kisah Pembunuh seratus orang? Kisah seorang Alim yang kepalanya berubah menjadi keledai? Itu semua diceritakan sampai hari kita sekarang ini. Ataukah Ustadz Abdul Barr melewati saja kisah-kisah di atas manakala dia membaca ayat Al Qur’an, Al Hadits dan kisah para ulama yang termaktub dalam kitab-kitab yang beliau baca dan ajarkan? Tentu ini semua dalam konteks Ilmiah, dan tidak mungkin kita sendiri yang akan menceritakan tentang dosa-dosa kita yang telah lalu, kemudian dimuat dalam Majalah Asy-Syari’ah dan tanpa menyebutkan nama.

Kemudian ternyata Al Ustadz Abdul Barr berpendapat itu merupakan “Al Mujahirin”. Karena terjadi tarik ulur tentang perkara yang diperselisihkan, lalu muncullah pendapat “Setelah saya kritik beliau, maka beliau mengelak dan berkata nanti kita tanyakan ulama”.

Bukankah itu pendapat yang terpuji “NANTI KITA TANYAKAN ULAMA”. Bukankah Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada para Ulama bila kita tidak mengetahui ?Kecuali Ustadz Luqman bersikeras memegang pendapatnya dan mementahkan pendapatmu, lalu enggan bertanya kepada para Ulama, maka ini tidak tepat. Dan kenapa engkau mencibir sikap Ustadz Luqman yang mau bertanya kepada ‘ulama sebagai sikap “mengelak”, betapa kasar cara berbicaramu wahai Ustadz Abdul Barr kepada sikap untuk merujuk pada ulama!

Tidakkah engkau menyadari wahai Ustadz Abdul Barr bahwa dalam kejadian yang engkau kisahkan ini dirimu sedang menunjukkan aibmu sendiri kepada orang lain? Engkau memaksakan kehendak dalam berpendapat dan engkau tidak terima bila harus ditanyakan kepada para Ulama! Engkau terlihat merasa tidak puas ketika pendapatmu tidak diikuti, dan engkau tidak menampakkan raut “tulisan” yang berbahagia ketika hendak ditanyakan perkaranya kepada Ulama. Ada apa denganmu wahai Ustadz ?!

Ketika dua orang berbeda pendapat, antara pengkritik dan yang dikritik. Masing-masing memiliki hujjah dan pemahaman pribadi. Bukankah seharusnya untuk ditanyakan kepada Ulama? Kemudian jawaban dan bimbingan Ulama tersebut diikuti dan diamalkan? Bukankah itu adalah salah satu kaedah kita sebagai  Salafiyyin?

Kemudian ditambah lagi penyebutan Kalam Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin yang diletakkan bukan pada tempatnya :

“padahal dalam banyak kesempatan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah sering ditanya tentang kemaksiatan yang dilakukan seseorang maka beliau menasihatkan untuk tidak merinci pertanyaannya karena yang demikian itu termasuk membongkar aib”.

Pernyataan Syaikh Al Utsaimin tidak jauh berbeda dengan yang kita dapatkan di dalam Syarh Riyadhus Shalihin. Terkait dengan pertanyaan individual yang diajukan kepada seorang Alim, yang pertanyaan tersebut menyangkut aib orang lain yang tidak perlu disebutkan orang yang dimaksudkan, kecuali bila terpaksa.

Adapun pembahasan di Rapat Majalah Asy-Syariah tentu bukanlah kisah maksiat yang dilakukan oleh kita ataupun orang-orang yang disekitar kita. Tentu kisah yang dimaksud adalah yang ada Ibrah (pelajaran) dari kisah orang-orang yang terdahulu.

Seandainya beliau seorang ruwaibidhah seperti tuduhanmu sebelumnya, tentu beliau akan memaksakan pendapat dan tidak akan berniat menanyakan kepada Ulama. Dan justru kisahmu ini merupakan hujjah untuk membantah tulisanmu sendiri yang memaksakan kesimpulan bahwa Ustadz Luqman memposisikan diri sebagai Ulama yang berbicara tentang urusan orang banyak! Jika tidak, apa artinya ucapan beliau untuk menanyakan hal itu pada ulama?! Apalagi kalau itu mau dijadikan dalih seperti yang kamu katakan sebelumnya.

Justru keanehannya ada pada dirimu manakala pendapatmu tidak langsung diterima, dan enggannya dirimu bila perkaranya harus ditanyakan kepada Ulama. Ternyata terpaksa engkau “politisir” dan engkau kemukakan di hadapan Ummat lewat tulisanmu ini dengan kesimpulan aneh yang engkau tuliskan :

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya6

Lalu siapa sebenarnya yang memposisikan dirinya sebagai ulama? Pendapatnya harus diterima dan merasa berat ketika diajak mengembalikan persoalan kepada ulama wahai ustadz? Allahul musta’an.

Ustadz Abdul Barr sebaiknya kembali mencermati adab Musyawarah dan adab Khilaf. Wallahu A’lam.

3. Dikala Al Ustadz Muhammad As Sewed bahu membahu bersama Asatidzah lainnya, termasuk Al Ustadz Luqman Ba’abduh dalam membantah para penyimpang maka tampillah sebagian Mukhadzdzilah hendak “memolitisir” dengan istilah “devide et impera” = pecah belah dan serang. Kalimat ini pas untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh Ustadz Abdul Barr. Berikut perkataannya hendak membenturkan Al Ustadz Muhammad As Sewed dengan Al Ustadz Luqman Ba’abduh Hafidzahumullah.

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya7

Saya tidak punya hak untuk berbicara tentang “nukilan” Ustadz Abdul Barr di atas. Biarlah Ustadz Muhammad sendiri yang akan menjelaskannya dan Alhamdulillah beliau sudah menuliskan catatan khusus terhadap Ust Abdul Barr, dan sudah tersebar.

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya8

Kembali mengingatkan dengan Ayat Allah :

وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠)هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١)مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢)عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (١٣)

 “Dan janganlah kamu ikuti Setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,” (Al Qalam :10-13)

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak masuk surga orang yang mengadu domba“ (HR. Muslim)

4. Dari point Ketiga diatas, kemudian dipaksakan menjadi alasan sebagaimana yang Ustadz Abdul Barr tuliskan pada kalimat setelahnya :

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya9

Ustadz Abdul Barr mengatakan : “Maka dengan sebab itu semakin membuat saya menjauh dan menjaga jarak dengan Ustadz Lukman”.

Tapi mengapa Ustadz Abdul Barr mengambil bimbingan Al Ustadz Muhammad hanya setengah hati? Ketika Ustadz Muhammad dan Ustadz Luqman beserta Asatidzah yang lain memperingatkan Salafiyyin dari Ahlul Bid’ah, ternyata tidak dia ikuti. Giliran “menurut” dia sedang menyerang Salafiyyin “justru dia ikuti”.

Ustadz Abdul Barr melanjutkan “Hujjah dan Burhan” yang menunjukkan bahwa Luqman Ba’abduh adalah Politikus Dakwah dan Pemecah Belah Ahlus Sunnah. Dia mengatakan :

“Terlebih lagi jika melihat apa yang telah beliau lakukan terhadap dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu memporak-porandakan tatanan persaudaraan antara sesama Ahlus Sunnah dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar tanpa melihat dan menimbang dengan dhowabith dan qowaa’id maslahat dan mudarat, atau kaidah al-badaah bil aham fal aham, atau kaidah adh-dhoror yuzaal, maka yang terjadi adalah kemungkaran yang lebih besar”.

Wahai Ustadz, hendaknya engkau takut kepada Allah. Manakah bukti yang menunjukkan Ustadz Luqman telah memporak-porandakan tatanan persaudaraan antara sesama Ahlus Sunnah dengan dalih Amar Ma’ruf Nahi Munkar? Apakah yang engkau maksud adalah Sururiyyin, Halabiyyin, Quthbiyyin, Hajuriyyin? Ataukah memporak-porandakan Duat Al Mukhalifin dan Al Mukhadzdzilin ?

Bukankah merupakan kewajiban untuk menjaga keutuhan Dakwah Salafiyyah dari penyimpangan dan dari tipu daya Hizbiyyin? Jika memperingatkan Ummat dari Mukhalifin dan Mukhaddilin bukanlah termasuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar, maka Demi Allah kami tidak tahu apa itu “Amar Ma’ruf Nahi Munkar”. Sepintas ucapan ini mengingatkan kepada Ali Al Halaby.

Engkau katakan: “tanpa melihat dan menimbang dengan dhowabith dan qowaa’id maslahat dan mudarat, atau kaidah al-badaah bil aham fal aham, atau kaidah adh-dhoror yuzaal, maka yang terjadi adalah kemungkaran yang lebih besar”.

Manakah yang dimaksudkan Wahai Ustadz? Apakah toleransi kepada Radio Rodja yang dipenuhi oleh para Mukhalifin sehingga maslahatnya lebih besar? Atau memulai dengan perkara yang paling penting, yaitu dengan membantah Shufiyyah Quburiyyah. Adapun yang semodel Halabiyyin dan Sururiyyin itu tidak harus segera, dengan alasan mereka juga mendakwahkan Sunnah? Ataukah mudharat-mudharat yang harus dihilangkan terlebih dahulu?

Sekarang kami katakan, bahwa engkau menuduh tidak baik dengan istilahmu “dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar”. Adapun dirimu melakukan Istihsan dengan dalih “Maka Yang Terjadi Adalah Kemungkaran Yang Lebih Besar”.

Manakah kemungkaran yang lebih besar yang engkau maksudkan Wahai Ustadz? Apakah adanya Tamayyuz antara Salafiyyin dan Sururiyyin Halabiyyin adalah kemungkaran lebih besar? Apakah terpisahnya antara Salafiyyin dan Mukhalifin beserta Mukhadzdzilin merupakan kemungkaran yang lebih besar? Ataukah justru merupakan nikmat yang agung, sehingga Salafiyyin semakin kuat untuk membungkam Ahlul Bid’ah lainnya semisal Shufiyyah, quburiyyah, Khawarij, Mu’tazilah dan sebagainya.

Justru karena ulah paraMukhadzdzil-lah yang menyebabkan Ahlul Bid’ah tertawa terpingkal, mengejek dan mencaci maki Ahlus Sunnah dan Salafiyyin.

5. Ucapan selanjutnya yang dituliskan oleh ustadz Abdul Barr dalam artikel “ilmiahnya”. Sebagai Hujjah dan Burhan bahwa Ustadz Luqman Ba’abduh adalah Politikus Dakwah dan Pemecah Belah Ahlus Sunnah.

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya10

Perhatikan Ustadz Abdul Barr  hendak “mencuci tangan”, dengan istilah “Menyia-nyiakan kesempatan dan point yang menguntungkan”. Itu menurut “husnudzon kepada dirinya sendiri”.

Apa jadinya bila pertanyaan itu diajukan kepada Syaikh Ali Ar Razihi yang disarankan oleh Syaikh Al Imam untuk duduk bersama beliau dengan menyatakan bahwa dirinya dan kawan-kawannya telah duduk bersama Asy-Syaikh Rabi’ dan telah pula menerima keputusan dari beliau berupa tahdziran beliau terhadap Rodja dan merasa cukup dengan keputusan tersebut akan tetapi kami mengangkat kembali persoalan ini bersama Asy Syaikh Ali Ar Razihi seperti yang disarankan oleh Asy-Syaikh Al Imam untuk menambah wawasan keilmuan kami?!

Jika memang untuk menambah wawasan keilmuan, kenapa sosok penting Ali Hasan Al Halaby yang merupakan Syaikh Rodja (yang telah dibahas tuntas keterlibatannya bersama Asy Syaikh Rabi’ di Jalsah Mekah!!) justru tidak disampaikan kepada Masyaikh Yaman? Bukankah ini merupakan bukti upaya Ustadz Abdul Barr untuk MENGURANGI WAWASAN KEILMUAN dan memberikan gambaran yang tidak semestinya tentang Rodja kepada Asy Syaikh Al Imam hafizhahullah?

Sedangkan kisah Jalsah Mekkah saja “takut” kalau sampai ketahuan Syaikh Al Imam karena menunjukkan adab yang rendah. Apalagi mau ditanyakan kepada Syaikh Ali yang di isyaratkan oleh Syaikh Al Imam? Kalau Syaikh Al Imam sampai tahu ternyata masih menanyakan pertanyaan yang sama, sedangkan Syaikh Al Imam sudah mengisyaratkan untuk bertanya kepada As Syaikh Rabi’ bin Hadi sebagai Ulama Besar, apa jadinya? . Bahkan seandainya Syaikh Ali Ar Razihi kalian minta berdiskusi pun tentu beliau sudah siap. Kenapa ? Dikarenakan beliau sudah mengetahui bahwa kalian baru meninggalkan kediaman As Syaikh Rabi’ di Mekkah. Masya Allah.

Ustadz Abdul Barr menegaskan:

“Maka perhatikanlah, andaikan kami politikus seperti Ustadz Luqman maka saran Syaikh Al-Imam adalah kesempatan yang baik dan point yang menguntungkan bagi kami.Kenapa demikian?Karena kami kenal dekat dengan Syaikh Ali Ar-Razihi. Akan tetapi kenyataannya, ketika kami bertemu dengan beliau, kami tidak sedikitpun membuka pembicaraan tentang radio Rodja.”

Lihatlah wahai pembaca bagaimana Ustadz Abdul Barr berupaya mengelabui pembaca tulisan “ilmiah”nya dengan berupaya meyakinkan pembacanya bahwa ketika  “bertemu dengan beliau (maksudnya Syaikh Ali Ar Razihi-pen), kami tidak sedikitpun membuka pembicaraan tentang radio Rodja” padahal Asy Syaikh Ali Ar Razihi ikut mendampingi Asy Syaikh Al Imam ketika mereka menanyakan ulang permasalahan Rodja! Beliau mendengarkan apa yang mereka utarakan dan (Subhanallah!) Abdul Barr menyatakan “kami tidak sedikitpun membuka pembicaraan tentang radio Rodja”. Dan mungkin ini bisa menjadi berita gembira bagi ustadz Abdul Barr (dan kawan-kawannya) bahwa Syaikh Ali Ar Razihi (yang nama beliau dibawa-bawa) telah menyalahkan tindakan kalian ini!!

Ustadz Abdul Barr memang pandai “memolitisir” cerita untuk mencari pembenaran. Adapun perkataan Abdul Barr:

“Dan ini membuktikan bahwa tatkala kami bertanya kepada Syaikh Al-Imam bukanlah maksud kami untuk mencari senjata atau membenturkan fatwa seperti tuduhan keji yang dilontarkan Ustadz Luqman kepada kami, seolah-olah beliau mengetahui apa yang ada di hati-hati kami”.

Kami katakan, apa yang  terjadi jika ternyata Syaikh Al Imam menjawab dengan sesuatu yang “menguntungkan” kalian? Apakah kalian akan mendiamkan dan menyimpan saja fatwa Syaikh Al Imam? Ataukah kalian akan bersegera menyebarluaskannya dengan dalih terjadi khilaf ulama dalam permasalahan ini?

Jika melihat sepak terjang dan qarinah selama ini, kalian tidak akan demikian. Apakah kalian tidak akan membenturkannya?

Sebagai bukti adalah apa yang kalian lakukan ketika mengajukan pertanyaan kepada Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah, apakah kalian menyimpannya? Ataukah disebarkan? Sehingga “terkesan” terjadi benturan dengan Syaikh Rabi’, yang kemudian kalian istilahkan Syaikh Rabi’ tertipu oleh “Haaulai Ikhwah”. Sedangkan kalian sendiri bertanya dengan pertanyaan dusta kepada Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah.

Contoh yang paling dekat adalah, ketika terjadi Majlas sebagian Thullab Indonesia bersama Syaikh Al Imam, kemudian Farhan Aceh bertanya dengan pertanyaan tendensius dengan menyebutkan “pemanis bibirnya ucapan Syukur Syaikh Dzulqarnain” tanpa menyebutkan kalimat Dzulqarnain secara lengkap. Hasilnya? Didiamkan dan disembunyikan?  Karena khawatir berbenturan dengan fatwa Syaikh Rabi? Ataukah justru disebarkan sepenggal kalimat yang memuji Syaikh Dzulqarnain atas tindakannya? Apakah itu bukan membenturkan?

Lagi-lagi, mendatangkan syubhat

“seolah-olah beliau mengetahui apa yang ada di hati-hati kami”

Bukankan Ustadz sudah mengetahui bahwa “Prasangka buruk” itu Masyru’ secara Syar’i dalam menghadapi orang yang sudah berungkali dikenal “tipu dayanya”? Prasangka buruk itu disyariatkan atas orang yang terlihat tanda-tanda kekejiannya. Kita tidak hendak membelah dada orang lain, tapi kita beramal sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu mengamalkannya. Bukankah Nabi pernah menyatakan di hadapan keluarganya tentang seseorang :

“Bi’sa Akhul Asyirah”.

Di akhir Alinea Ustadz Abdul Barr merendahkan Ustadz Luqman dengan kalimat:

“maka ini sekaligus membuktikan kedangkalan ilmu beliau terhadap kaidah-kaidah dan hukum-hukum syari’at”.

Dari Abu Hurairah Rhadiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda : “ Cukuplah seseorang dikatakan buruk ketika dia merendahkan saudaranya yang muslim . (HR.Muslim. Riyadhus Shalihin 4/126)

Wallahu Al Musta’an, wahai Ustadz engkau mengerti dan tinggi keilmuannya. Seandainya Ustadz Abdul Barr meletakkan hukum pada tempatnya, maka itu jauh lebih baik.

6. Ucapan selanjutnya yang dituliskan oleh ustadz Abdul Barr dalam artikel “ilmiahnya”. Sebagai Hujjah dan Burhan bahwa Ustadz Luqman Baabduh adalah Politikus Dakwah dan Pemecah Belah Ahlus Sunnah. 

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya11

Pada penggalan kalimat yang disebutkan oleh Ustadz Abdul Barr “terasa sejukterkesan”:

“Maka ketahuilah yang sesungguhnya adalah, KAMI TELAH MENCUKUPKAN DIRI DENGAN FATWA SYAIKH ROBI’, sehingga kami bertanya kepada Syaikh Al-Imam adalah untuk menambah wawasan keilmuan kami”.

“kami telah mencukupkan diri dengan fatwa Syaikh Robi’”

Bagaimana anda mencukupkan diri dengan fatwa Syaikh Robi’? Fatwa yang mana?

Bukankah Asy-Syaikh Rabi’ memfatwakan untuk meninggalkan Radio Rodja? Orang-orang awam-pun harus ditahdzir dari Rodja, sementara Syaikh Dzulqarnain mengatakan,

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya12

“Saya telah terdidik untuk memberikan obat sesuai dengan porsi dan keadaannya….Banyak orang dari kalangan awam atau orang-orang yang baru belajar, menanyakan kepada Saya secara pribadi tentang mendengarkan Radio Rodja dan melihat Rodja TV, dan Saya tidak melarangnya.”

Juga Ja’far Shalih mengatakan:

Hadiahteruntukustadzabdulbarrataskekeliruannya13

Lalu Ustadz Abdul Barr dengan jujur dan polosnya menyatakan “maka ketahuilah yang sesungguhnya adalah, kami telah mencukupkan diri dengan fatwa Syaikh Robi’,” ucap Abdul Barr.

Apakah ini namanya mencukupkan diri  dengan fatwa Syaikh Robi’ ya Ustadz?

Menambah wawasan kelimuan ? Subhanallah indah sekali untaian kalimat anda.

Kemudian, jika mendapatkan ilmu “baru” lagi apa yang harus dilakukan ? Beramal bukan? Karena Al Ilmu Qoblal Qouli Wal Amal?

Kemudian akan muncul alasan lagi, “Itukan khilaf di kalangan Ulama” !!

Masalah tahdzir kan masalah Ijtihadi!!

Ya, itu pendapat Syaikh Rabi’ yang sudah “tertipu haaulai Ikhwah”, sedangkan ini Ulama yang belum tertipu.

Apakah seperti ini yang kalian maksud dengan menambah wawasan keilmuan?

Ilmu yang kemudian diarahkan kepada Syubhat?

Jadi, jangan katakan kami mengetahui isi hati kalian. Tapi katakanlah “kami Su’udzhan atas makar dan tipu daya kalian”.

Kami lebih “Waspada” terhadap makar perusak Dakwah Salafiyyah dibanding pencuri yang masuk rumah halaman kami.

Karena mereka lebih pantas dipenjara dibanding para pencuri. Sebagaimana perkataan Rabi’ah bin Abi Abdirrahman, disebabkan kerusakan fatal yang ditimbulkan di tengah Ummat.

“Menambah wawasan keilmuan” dengan bertanya dari satu ulama  ke ulama yang lain, merupakan kalimat yang bisa mengantarkan pada sekian banyak kerusakan di masa fitnah. Karena kalimat ini rentan “dipolitisir” oleh para politikus dakwah. Mudah sekali dipolitisir oleh Pemecah Belah Ahlus Sunnah untuk menjadikan musuh-musuh Dakwah tersenyum berbahagia dan bergembira.

Selanjutnya Ustadz Abdul Barr menerangkan kondisi majlis :

“Dan perlu diketahui bahwa kami mengetahui yang hadir di majelis Syaikh Al-Imam bukan hanya dari rombongan kami, tapi ada juga orang-orang yang mendukung Ustadz Luqman, maka kalaulah kami punya maksud keji seperti yang dituduhkan Ustadz Luqman, tentunya kami akan meminta majelis yang khusus kepada Syaikh Al-Imam, tidak bersama orang-orang tersebut”.

Kehadiran “sebagian orang-orang yang mendukung Ustadz Luqman” sebagaimana istilah yang dibawakan Ustadz Abdul Barr Kaisinda, meskipun kami tidak menyukai kalimat-kalimat seperti diatas karena kami bukan politikus seperti dirinya.

Apalah artinya kehadiran dan ucapan mereka jika dibandingkan Kalam Syaikh Al Imam jika sudah berbicara?

Apakah kehadiran mereka bisa mementahkan Ucapan Syaikh Al Imam jika sudah berbicara? Apakah kehadiran mereka akan berpengaruh dalam pertanyaan kalian?

Apakah kehadiran mereka akan meredam fitnah bila kalian menyebarkan fitnah?

Sama sekali hal itu tidak mempengaruhi Wahai Ustadz. Alhamdulillah Syaikh Al Imam tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, ini merupakan sebuah nikmat besar.

Jika anda meminta Majlis khusus bersama Syaikh Al Imam, apakah hal itu kemudian akan mengubah jawaban Syaikh Al Imam dimana beliau juga mengarahkan agar menanyakan permasalahan ini kepada Asy Syaikh Rabi’? Tidak ada perbedaan jawaban tentunya, karena Beliau menilai “obyektif” atas pertanyaan yang diajukan, bukan “Subjektif” seperti kebiasaan kalian.  Bahkan jika kalian meminta majlis khusus, kemudian tidak dihadiri “pendukung Ustadz Luqman” bukankah itu akan merugikan kalian? Karena “terkesan” sebuah majlis khusus yang entah apa pertanyaan yang diajukan, sehingga menimbulkan anggapan orang bahwa “kalian” telah memolitisir isi pertanyaan, padahal di MAJELIS UMUM itu saja yang dihadiri oleh “pendukung Ustadz Luqman” (meminjam istilah Ustadz Abdul Barr) kalian berani “menghilangkan” nama besar Ali Hasan Al Halaby dalam sepak terjangnya bersama Dakwah Halabiyun Rodja yang telah dikupas tuntas dalam Jalsah Mekah bersama Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah .

Sehingga tentu lebih menguntungkan untuk kalian bertanya di hadapan sekalian Ikhwan Indonesia yang ada di Ma’bar.

Kemudian Ustadz Abdul Barr  membuat suatu kesimpulan dalam Kalam yang masih dia lanjutkan:

“Lihatlah pemutarbalikan fakta yang dituduhkan oleh sang politikus kepada kami, dan bisa jadi kedustaan inilah yang disampaikan kepada Syaikh Robi’ hafizhahullah sehingga beliau menghukumi Ustadz Dzulqarnain sebagai la’aab, suka main-main.Maka lihatlah sesungguhnya siapa yang mempermainkan ulama?!
Dan sangat wajar kalau Syaikh Robi’ memvonis Ustadz Dzulqarnain sebagai la’aab, kalau memang faktanya sudah diputarbalikkan seperti itu”.

Manakah pemutarbalikan fakta yang dilakukan Ustadz Luqman? Kami bertanya Wahai Ustadz….Bukankah beliau menceritakan yang sebenarnya terjadi? Dan kalian mengakuinya bukan? Itu namanya “Bukan pemutarbalikan fakta” wahai Ustadz, tapi “Ustadz Luqman tidak menyebutkan semua kejadian yang ada”, dan tidak ada yang salah dari apa yang beliau sebutkan, dan Alhamdulillah sudah anda lengkapi dalam tulisan ini, yang ternyata menambah kelengkapan makar kalian.

Kalau bisa tolong dilengkapi lagi Wahai Ustadz Abdul Barr, karena anda yang mengalami langsung kejadian tersebut. Tidak mengapa kalau mau cerita dari isi hati yang terdalam, agar terlihat dan tidak perlu kami membelah dada karena kalian sudah membelah dada masing-masing.

Selanjutnya Ustadz Abdul Barr menyebutkan :

“dan bisa jadi kedustaan inilah yang disampaikan kepada Syaikh Robi’ hafizhahullah sehingga beliau menghukumi Ustadz Dzulqarnain sebagai la’aab, suka main-main”.

Subhanallah, untuk kalimat ini sesungguhnya sudah terjawab dalam tulisan yang dikaryakan oleh Syaikh Ahmad bin Umar Bazmul :

Syubhat: bahwa Syaikh terpengaruh oleh orang-orang yang ada di sekitarnya (dalam fatwa dan tahdzirnya).

Makna dari syubhat ini, pernyataan seorang syaikh atau seorang alim tentang ahli ahwa, ahli bid’ah dan dai-dai kesesatan, tidak bisa dipegang dan tidak bisa diterima.Sebab, dia terpengaruh oleh orang-orang (di sekitarnya) yang mempunyai misi tertentu, menurut anggapan mereka.

Syubhat ini batil dari beberapa sisi:

1. Pernyataan ini mengandung celaan terhadap syaikh tersebut, yaitu syaikh tidak selektif, hanya menerima talqin (bisikan) dari murid-muridnya. Padahal, hukum asalnya Syaikh tersebut adalah seorang yang ‘adil,tsiqah, dan memiliki pemahaman yang benar.

Pernyataan (syubhat) di atas menyelisihi hukum asal tersebut. Maka dari itu, jika ada dalil yang menyelisihinya, pernyataan tersebut diterima. Jika tidak, pernyataan itu  tertolak dan tidak bisa diterima.

2. Pernyataan seperti ini telah dilarang oleh Allah untuk dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Padahal ulama adalah pewaris para nabi.

وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (61) [التوبة/61]

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya”. Katakanlah: “Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu”. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih. (at-Taubah: 61)

Ath-Thabari mengatakan, “Allah yang Maha Tinggi ucapannya berfirman, ‘di antara mereka kaum munafik ada sekelompok yang menyakiti hati dan menghina Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam’. Mereka mengatakan bahwa beliau (Nabi) mempercayai semua yang beliau dengar dari apa yang dikatakan oleh setiap orang serta menerima dan membenarkannya.’Ini diambil dari perkataan mereka (orang Arab) ‘rajulun adznatun’ seperti wazan fa’alatun, yang artinya terburu-buru mendengar dan menerimanya. Ini seperti kata yaqinun wa yaqanun. Artinya dia meyakini setiap apa yang disampaikan. Asal katanya dari adzina lahu—ya’dzanu, yaitu jika dia mendengarnya.” (Jami’ul Bayan jilid 11 hlm. 535)

Ungkapan seperti ini (bahwa Nabi mempercayai semua yang beliau dengar) diucapkan oleh orang-orang munafik sebagai bentuk celaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Sekarang, ucapan tersebut diucapkan oleh ahlul bid’ah dan orang-orang jahil sebagai bentuk celaan terhadap para ulama dalam rangka menjatuhkan kredibilitas ucapan para ulama tersebut serta menolak ilmu mereka.Perbuatan mereka tersebut serupa dengan perbuatan orang-orang munafik. La haula wala quwwata illa billahi ‘aliyyil ‘azhim….

3. Pernyataan tersebut diterapkan oleh si pengucapnya untuk menolak perkataan ‘ulama ketika menghukumi perorangan atau perkara-perkara yang lain. Sungguh, ini merupakan perbuatan yang paling buruk dan paling batil. Sebab, pernyataan seorang ulama tidak boleh dimentahkan kecuali dengan dalil syar’i. Apakah pernyataan tersebut (syubhat di atas) termasuk dalil syar’i?

4. Pernyataan tersebut mengandung banyak dampak negatif, di antaranya menanamkan ketidaktsiqahan terhadap ucapan dan fatwa syaikh tersebut. Ketika hilang ketsiqahan terhadap syaikh, akan hilang pula ketsiqahan terhadap ilmunya. (lihat  (dari Madarij fi Kasyfi Syubuhatil Khawarij hlm. 7—13, karya Ahmad bin Umar Bazmul)

5. Di antara dampak negatifnya juga, pernyataan (syubhat) di atas menjatuhkan kewibawaan syaikh dan harga dirinya di mata para penuntut ilmu. (‘Ibaratun Mauhumah hlm. 49—50, karya Muhammad bin Umar Bazmul)

Jawaban ini disebutkan oleh Syaikh Ahmad Bazmul dalam Syarh Qauli Ibni Sirin (hlm. 259—260) terkait dengan syubhat di atas yang beredar sekarang.

Pertanyaan BESAR kita ajukan? Apakah mungkin Syaikh Rabi’ terpengaruh hanya dalam beberapa menit atas kejadian yang menimpa Dzulqarnain, jika memang kenyataannya Dzulqarnain dikenal sebagai Rajulun Thayyib disisi beliau? Tentu beliau akan memberikan udzur kalau itu hanya sekali terjadi, karena telah masyhur di tengah Para Ulama dan Thullab bahwa beliau (Syaikh Rabi’) adalah orang yang sangat bersabar dan sering memberikan udzur kepada saudaranya. Beliau adalah seorang yang tenang, berhati-hati, dan tatsabut yang kuat dalam memvonis seseorang. Apakah mungkin kehati-hatian beliau itu luntur hanya karena satu kejadian saja?

“Di samping ucapan Dzulqarnain tersebut, berkonsekuensi bahwa asy-Syaikh Rabi’ dikitari oleh para pendusta, dan beliau tidak melakukan tatsabbut dalam fatwa-fatwanya, serta mudah diarahkan oleh orang-orang di sekitarnya. Ini sebenarnya bentuk celaan yang biasa dilakukan oleh para Halabiyyin dalam menjatuhkan kredibilitas ‘ulama sunnah, terutama dalam hal ini adalah asy- Syaikh Rabi’. Di antara yang sangat demonstratif dalam melakukan cara seperti ini adalah Firanda Andirja.

Padahal sebagaimana dipersaksikan oleh murid-murid dekat asy-Syaikh Rabi’ bahkan beberapa ulama’ dan masyaikh, bahwa beliau adalah orang yang paling kuat dalam bertatsabbut sebelum berucap dan menghukumi, dan tidak gampang-gampang menerima berita dari seseorang.

Perlu diingat, tuduhan dusta oleh Dzulqarnain tersebut, tidak hanyak mengenai para ikhwah (baca : asatidzah) saja, tapi itu juga mengenai asy-Syaikh Hani’ hafizhahullah! La haula wala quwwata illa billah

Perhatikan pula ucapan Dzulqarnain, “Saya tidak mengetahui akal apa yang digunakan oleh para ikhwah itu yang mengambarkan kepada guru Kami, Syaikh Rabî’, bahwa Saya berada di atas jalan Al-Halaby.” – selesai –

Perhatikan kalimat yang bercetak tebal di atas. Menunjukkan bahwa Dzulqarnain ini tidak memahami dengan baik pernyataan asy-Syaikh Rabi’. Beliau mengatakan bahwa Dzulqarnain berjalan di atas thariqah al-Halabi dalam hal makar, tala’ub, dan talawwunnya. Semestinya Dzulqarnain menyadari ini. Bukan malah menyombongkan diri seraya menampik tahdzir tersebut dengan menyatakan bahwa dirinya membantah al-Halabi, … dst.

Bisa jadi Dzulqarnain memang benar-benar tidak memahami tahdzir asy-Syaikh Rabi’, jika ini terjadi maka disayangkan darinya.

Bisa jadi Dzulqarnain memahaminya, namun sengaja dia berucap seperti di atas untuk mengelabui salafiyyin, sebagimana kebiasaannya selama ini. sekaligus ini pun membuktikan benar-benar Dzulqarnain memang sebagaimana yang disifati oleh asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah..” (http://dammajhabibah.net/2013/12/18/catatan-kecil-untuk-sebuah-ucapan-syukur-dzulqarnain-bin-sunusi/)

Kecuali bila Dzulqarnain memang sudah dikenal oleh beliau sebagai seorang yang suka bermain-main, Mutalawwin, dan suka berbuat makar seperti yang dilakukan Al Halaby. Maka jika demikian, jalsah Ma’bar tersebut melengkapi predikat Dzulqarnain dan orang yang bersamanya, termasuk Abdul Barr sendiri. Tapi qodarullah belum ada tambahan yang menunjukkan makar Abdul Barr sebagaimana yang ditampilkan dalam artikelnya kali ini.Wallahu Ta’ala A’lam.

(bersambung insya Allah)

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa aalihi wa Ashabihi wa sallama Tasliman Katsira

Di Tulis Oleh :Hamzah Rifai La Firlaz Hafizhahullah

 

 

 

 

 

[/dropcaps]