MAKNA BERSAKSI

Bismillah

MAKNA BERSAKSI

Apakah bersaksi artinya kita mesti melihat apa yang kita persaksikan?

Bersaksi akan adanya Allah, mestikah kita melihat Allah dahulu, bersaksi Muhammad Rasulullah, mestikah kita melihat Rasulullah dahulu?

Mari kita bahas.

Dalam bahasa Arab dan dalam syariat, persaksian disebut SYAHADAT (شهادة). Kata itu biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan BERSAKSI. Terjemahan ini bisa jadi mewakili kata syahadat, bisa jadi tidak. Untuk menentukannya, kita mesti mengetahui makna syahadat dalam bahasa Arab dan syariat Islam serta mengetahui makna bersaksi dan penggunaannya dalam bahasa Indonesia.

Menurut bahasa Arab dan syariat, syahadat artinya mengikrarkan sesuatu yang diketahui atau diilmui dan diyakini dengan mantap lalu mengamalkan konsekuensinya. (Taisir al-‘Aziz al-Hamid, I’anatul Mustafid, Tahdzibul Lughah, dan Mu’jam al-Maqayis)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bersaksi memiliki beberapa makna, di antaranya, “Menyatakan (mengakui) dengan sesungguhnya.”

Maknanya mendekati makna syahadat. Yang jelas, bersaksi berbeda dengan menyaksikan.

Seorang dikatakan seorang bersyahat LA ILAHA ILLALLAH, bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Allah, dan bersaksi bahwa MUHAMMAD RASULULLAH (Muhammad utusan Allah), tidak mesti dia melihat Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terlebih dahulu.

Akan tetapi, yang mesti—dan itu menjadi syarat—adalah dia mengetahui dan meyakini dengan mantap adanya Allah, dan Dia sebagai satu-satu-Nya Ilah yang berhak diibadahi, serta meyakini dengan mantap bahwa Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muththalib al-Qurasyi benar-benar sebagai utusan Allah, lalu mengamalkan konsekuensinya.

Mengetahui dan meyakini adanya Allah tidak mesti melihat Allah terlebih dulu. Adanya Allah adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa diingkari. Adanya Allah telah ditunjukkan oleh banyak dalil (bukti nyata), dalil fitrah, dalil inderawi (dapat dirasakan), dalil akal, dan dalil syariat, sebagaimana diterangkan oleh para ulama.

Pengetahuan dan ilmu bisa diperoleh dari berita yang jujur dan benar. Saya rasa, orang yang berakal sehat akan sepakat dengan hal ini. Misalnya, ada satu orang yang kita ketahui sangat jujur dan tidak pernah berbohong, mengabarkan kepada kita bahwa di suatu kota ada kejadian rumah terbakar. Tentu kita akan percaya dan yakin, apalagi yang mengabarkan ternyata ada dua orang, tiga orang, dan seterusnya. Mereka semua memberitahukan sesuatu yang sama, tanpa ada kesepakatan pemberitaan di antara mereka. Kita pasti akan menerima berita itu dan kita yakin kebenarannya. Kalau kita tidak yakin, berarti justru kita yang nyeleneh dan aneh. Justru sikap nyeleneh ini yang tidak masuk akal sehat.

Nah, Nabi Muhammad adalah orang yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya. Orang musyrikin saja mengakui kejujuran beliau, apalagi kaum muslimin. Beliau mengabarkan adanya Allah dan bahwa Allah telah mengutus beliau. Beliau—seorang yang tidak berani berdusta atas nama manusia—tidak mungkin berani berdusta atas nama Allah. Berita ini pasti benar.

Kalau ada yang mengatakan, “Nabi Muhammad sendiri, kita kan tidak melihatnya. Bagaimana kita mengimani beritanya?”

Orang semacam ini, tidak pantas kita berbicara dengannya atau mendengarkan omongannya. Sebab, andai alasan semacam itu benar, dia mestinya tidak percaya dengan semua manusia yang namanya telah tertulis dalam sejarah.

Sejarah Nabi Muhammad tidak bisa diingkari. Berita-berita yang sahih dari beliau pasti benar. Apalagi terkait adanya Allah, bukan hanya beliau yang memberitakan, para nabi dan rasul yang lain—yang berjumlah ribuan—juga memberitakannya. Bahkan, selain penganut ajaran Islam pun mengakui adanya Allah dan memberitakannya. Orang yang tidak mempercayai adanya Allah justru sikapnyalah yang tidak masuk akal sehat.

Mukjizat para nabi juga menjadi bukti nyata akan adanya Allah sekaligus kebenaran kenabian dan kerasulan mereka. Setiap nabi membawa mukjizat-mukjizat tersebut sebagai bukti nyata. Sampai-sampai Firaun pun pada akhirnya mengakui dengan lisannya kebenaran Nabi Musa.

Dan di antara mukjizat yang sampai saat ini kita rasakan adalah mukjizat Nabi kita, yaitu al-Qur’an. Sungguh, al-Qur’an adalah mukjizat yang nyata bagi orang yang berakal. Kebenaran berita-berita al-Qur’an, kebaikan hukum-hukumnya, dan kesempurnaan bahasanya menunjukkan hal itu. Bahkan, para pakar bahasa pun mesti mengakui bahwa ini bukan ucapan manusia, itu adalah ucapan Rabb manusia, yakni Allah subhanahu wa ta’ala.

Terkabulnya doa juga menjadi bukti nyata akan adanya Allah. Ingatlah doa para nabi dan rasul yang langsung Allah kabulkan, doa Nabi Muhammad, doa Nabi Nuh dan lain-lain. Banyak sekali contohnya. Bahkan, kita sendiri sering merasakan hal itu. Betapa banyak doa kita yang kita minta, kita panjatkan kepada Allah, lalu Allah kabulkan.

Aneh, ada orang yang tidak mau beriman akan adanya Allah kecuali melihat-Nya dulu. Dengarlah kisah badui berikut ini.

Ketika dia ditanya, “Dari mana kamu tahu Rabbmu?”

Dia justru terheran dengan pertanyaan ini. Dia jawab, “Subhanallah! Telapak kaki manusia menunjukkan adanya orang yang berjalan. Kotoran unta menunjukkan adanya unta. Nah, langit yang memiliki gugusan bintang, gunung yang memiliki lembah-lembah, lautan yang bergelombang, bukankah ini semua menunjukkan adanya Allah yang Maha Berilmu?” (Tafsir Ibnu Katsir pada surah al-Baqarah: 21)

Lihatlah, dengan fitrah dan kesederhanaannya, dia cerdas dan sangat yakin akan adanya Allah. Memang, itulah fitrah manusia yang lurus.

Jika ada yang bertanya, lalu mengapa Allah tidak dapat dilihat?

Sebenarnya, Allah dapat dilihat, tetapi bukan di dunia ini. Sebab, dunia adalah tempat ujian. Kalau di dunia–yang merupakan tempat ujian–Allah menampakkan diri-Nya kepada manusia, terus apa artinya ujian keimanan? Ini sama dengan memerintahkan untuk menjawab pertanyaan, lalu jawabannya diberikan sekaligus.

Maka dari itu, Allah tidak akan dapat dilihat didunia ini, dalam rangka ujian ini. Inilah arti “gaib” yang mutlak bagi kita. Inilah ujian yang membedakan antara orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Orang yang beriman, “Mereka yang beriman dengan yang gaib.” (al-Baqarah: 3)

Adapun orang yang tidak beriman akan mengatakan, “Kami tidak akan beriman denganmu (Allah) sampai kami melihat Allah dengan terang-benderang.” (al-Baqarah: 55)

Karena itu, beruntunglah mereka yang beriman dengan yang gaib. Mereka lulus dalam ujian tersebut dan kelak Allah akan memberikan jawabannya: mereka akan melihat Allah di surga.

Ada orang yang beralasan dengan ‘kasunyatan’ (Jawa: kenyataan). Jadi, kata dia, nyata itu mesti dilihat, baru mau beriman. Karena tidak dilihat, menurutnya, maka tidak diimani. Dia menganggap agama dengan ajaran iman pada perkara yang gaib adalah agama imajinasi.

Sungguh, sikap aneh dan angkuh. Itulah ucapan orang tak bertuhan, ateis, komunis.

Kiranya, penjelasan di atas sudah cukup untuk membantahnya.

Saya pun bertanya, apakah orang punya ruh? Apakah dia percaya adanya ruh? Pernahkah dia melihat ruh dirinya? Apakah dia akan mengatakan saya tidak akan bersaksi adanya ruh karena saya tidak pernah melihatnya?

Orang pintar dan berakal sehat pasti akan mengatakan, “Saya bersaksi akan adanya ruh meski saya belum melihatnya.” Memang, banyak hal yang kita tidak atau belum atau belum melihatnya, tetapi kita yakin adanya.

Semoga bermanfaat.

Qomar Zaenudin

Temanggung, Jumat, 28 Rabi’ul Akhir 1438 H , 27/01/2017 M

© 1439 / 2017 Forum Salafy Indonesia. All Rights Reserved.